[Heeseung] - Kutunggu Jandamu
「 ✦ NSFW Scene ✦ 」
Aku gak nyangka, di titik ini... bibir manis mbak Y/n yang dari dulu cuma bisa aku liatin diam-diam, sekarang udah nempel lengket di bibirku. Dan rasanya... anjing, candu. Lembut, hangat, tapi agresif juga. Apalagi pas lidah kami mulai saling serang, saling rebut kendali. Lidahnya manis, lincah, dan ngehisep kayak pengen nguras seluruh napasku.
Aku dorong tubuhnya pelan ke arah meja makan, tanganku nutupin tengkuknya, biar ciuman makin dalam. Bibir kami berbenturan liar, lidahku masuk duluan, disambut putaran basah dari lidahnya. Kami saling tarik, saling julur, saling jilat. Suara decakan dan desahan kecil jadi musik paling sialan di ruang makan rumah mbak Y/n.
"Ahh... mas Hesa... aku udah nggak kuat.." bisiknya di antara ciuman, bibirnya bengkak dan basah.
Aku langsung paham. Aku nyuruh dia copot daster sage ketat yang dari tadi ngebentukin bodinya. Dan waktu kain itu dn juga dalemannya dibuang ke lantai...
"Anjing..."
Tubuhnya telanjang bulat, . Kulit sawo matang mulus nggak ada cela. Teteknya-gede, berat, penuh. Putingnya warna coklat muda, cantik banget, bikin lidahku gatal. Dan bagian bawah...
Sialan.
Memeknya bersih. Tembem. Mengilap. Gak ada sehelai jembut pun. Bentuknya sempurna kayak pahatan.
"Ihh mas... jangan diliatin gitu," katanya sambil nutupin dada dan selangkangannya, tapi matanya nakal. Mukanya salting.
Aku nyengir miring. Lidahku menjilat bibir sendiri.
"Kenapa, malu? Udah telanjang gitu masih malu?"
Dia nyikut dadaku pelan, tapi senyumnya keliatan jelas.
"Mbak..."
Aku mendekat, suaraku dibikin lebih serak, lebih dalam. Tangan kiriku megang pinggangnya, tangan kanan ngelus paha bagian dalamnya.
"...aku boleh gak nyicipin memek tembemmu itu?"
Dia langsung nahan napas. Aku bisa liat putingnya makin keras, dan kakinya bergetar dikit.
"Mas... jangan gitu ah..."
"Mau nggak? Aku pengen banget nyicipin kamu sampe kamu gemeter. Sampe lidahku hafal semua bagian memekmu."
Dia nggak jawab. Tapi badannya nyender ke meja makan dan kakinya makin kebuka.
Itu artinya iya.
Aku nyuruh mbak Y/n naik ke atas meja. Dia duduk dengan kaki terbuka, napasnya masih memburu, dan aku langsung berlutut di depannya. Tanganku meraih pahanya, membuka lebih lebar, dan jari-jariku menyibak bibir memeknya perlahan.
Sialan.
Lubangnya pink, berkilau, dan keliatan berdenyut halus. Itilnya kecil, menonjol manja, basahnya udah ngalir sampai ke lipatan bokong.
Aku nggak buang waktu. Lidahku langsung nyentuh ujung itilnya-panas, lembut, asin-manis. Dan saat aku lingkarin lidah di sekitarnya, memutar pelan, mbak Y/n langsung ngegeliat.
"Ahhhhnn... m-mas Hesa...!"
Suaranya tinggi, gemetar, kayak aktris bokep Jepang pas ditusuk pelan-pelan. Dan aku suka itu.
Aku mulai jilat lebih keras, lidahku mencambuk itilnya kiri kanan, sambil tanganku narik labia-nya biar makin kebuka. Suara desahan mbak Y/n makin liar.
"Aaahhh... aahh-mmmhh... mas... H-Hesaaa...! Uhhhnn... j-jilatnya... gitu... lagi...!"
Aku mendesah rendah, ngerasa bangga, lalu kusedot klitnya keras-SLUUUURP!-kayak lagi nyedot puting susu, dan dia langsung njerit sambil narik rambutku.
"KYAAAHH~! H-HESA...! ANJING, ENAK BANGET...!"
Dia ngegeliat, pinggulnya gerak sendiri, nabrakin memeknya ke mukaku, nahan kepalaku di antara pahanya. Aku terus nyedot sambil ngeroll klitnya pakai ujung lidah, nyari titik yang bikin dia makin meleleh.
"Mas... mas... lidahnya... mmhh! Ahhhh... mas! Aku... aku mau keluar!"
Lidahku makin brutal, kubikin gerakan naik-turun dari klit ke lubang, kadang kujulurkan masuk sebentar, lalu balik lagi nyedot klitnya sampe mbak Y/n kejang tipis-tipis. Tangannya gemetaran, dan suaranya makin tinggi, makin nyaring.
"AaaAHHH~! AAHHN! MAS HESA~! JANGAN BERHENTI! T-TOLONG! NYIKSA TAPI ENAK...!"
Aku terusin. Mukaku udah becek dari cairan memeknya. Dan aku nggak akan berhenti sampai dia teriak lepas, basah semua, dan ngerasain orgasme yang bakal dia inget tiap kali lihat meja makan rumah orang.
Mbak Y/n masih duduk di atas meja, kakinya gemetar, napasnya ngos-ngosan kayak habis lari maraton, rambutnya acak-acakan, bibirnya kebuka, dan wajahnya... ah, wajah puas penuh dosa.
"Mas Hesa..... baru dijilat gitu doang... udah bikin aku keluar..."
Aku nyengir tengil, ngebasahi bibirku dengan lidah sendiri sambil berdiri.
"Hah? Baru segitu aja kamu udah KO? Kasian amat. Memeknya kelewat sensitif apa aku kelewat jago?"
"Ihhh... sombong banget mas Hesa..." katanya setengah ngambek, tapi senyum geli di bibirnya gak bisa dia sembunyikan.
Mbak Y/n meraih ke arah pinggangku setelah turun dari meja makan, matanya turun ke celana dan boxer yang masih nempel di badanku. "Mas... buka celanamu dong. Aku mau liat... dan... aku mau... nyicip juga..."
Aku ketawa pendek, alis naik satu. "Buka? Sembarangan amat. Mbak pikir gampang?"
"Plis... mas... aku pengen nyepong..."
Aku menatapnya diam beberapa detik, lalu tanganku pelan-pelan menarik celana dan boxerku ke bawah.
Dan matanya langsung melebar.
"Astaga..." desahnya lirih.
Kontolku keluar dari persembunyian, panjangnya lebih dari cukup buat nyentuh dasar tenggorokan, batangku tebal, keras, mengarah sedikit ke atas, dan berurat jelas dari pangkal sampai kepala yang mengkilap. Kulitnya coklat kemerahan, kepalanya besar dan licin, dengan sedikit pre-cum di ujung yang mulai netes turun.
"Mas... besar banget..." dia berbisik, matanya nggak lepas dari batangku, lidahnya menjilat bibir bawah tanpa sadar.
Aku melangkah maju, kontolku tepat di depan wajahnya saat mbak Y/n berlutut.
"Mau nyepong?"
Dia langsung angguk. "Mau mas... aku pengen... pengen banget... plis..."
Aku menyeringai.
"Gak semudah itu, mbak manja. Ada syaratnya."
Dia mengerutkan kening. "Hah? Syarat apaan...?"
Aku condongin wajahku, bibirku nyaris menyentuh telinganya.
"Kamu harus bilang... kamu istri orang paling jalang dan bakal bikin berondong ini keluar di tenggorokannya sendiri."
Dia gemetar. Tapi aku tahu... dia pasti mau nurut.
Dia masih diam sebentar, napasnya berat. Matanya naik menatapku, basah dan penuh gairah. Tangannya meraih batangku, panasnya telapak dia langsung kerasa di kulit kontolku yang udah keras maksimal.
"Mas... plis... aku istri paling jalang, dan aku bakal bikin berondong ganteng ini keluar di tenggorokan aku sendiri..." suaranya pelan tapi penuh niat, dan sial... kalimat itu bikin batangku makin berdenyut.
Aku mendesis pelan, "Anjing... akhirnya ngaku juga. Sini, cepet kulum."
Dan tanpa nunggu lagi, mbak Y/n buka bibirnya, lidahnya menjilat kepala kontolku, ngelap pre-cum yang netes pelan. "Hmmhh..." erangnya, kayak lidahnya nemu rasa favorit.
Dia langsung telan batangku setengah, bibirnya ngebungkus rapat, kepalanya mulai gerak maju mundur dengan ritme yang mantap. Aku bersandar ke meja, mendesah panjang.
"FUCK... iya gitu... ahh... nyepongnya beneran kayak jalang haus sperma ya, mbak..."
Tangannya main di pangkal, mulutnya ngelumat kepala batangku kayak lagi nyedot permen manis. Suaranya basah, lidahnya muter-muter, tiap kali dia turun lebih dalam, aku bisa ngerasa tenggorokannya nahan batangku.
"Anjing... istri siapa sih ini? Jago banget nyepong... huhh... mulutmu surgaku, mbak..."
Makin lama dia makin ganas. Suara slurp dan jilatan makin brutal, air liurnya muncrat, netes ke dagu dan turun ke payudaranya yang naik-turun karena napas ngos-ngosan. Tapi dia gak berhenti. Bahkan waktu aku pegang kepalanya, dia langsung pasrah.
Aku mulai gerakin pinggulku. Pelan di awal. Lalu makin dalam. Makin cepat. Aku tusuk mulutnya, rasain ketatnya bibir dan hangatnya tenggorokan mbak Y/n yang udah disumpel mentok.
"Ughh... hhhn... FUCK! Gila, kamu gila... enak banget...!"
Aku bisa denger dia tersedak, "Kkhh-kghh..." tapi lidahnya masih gerak, dan dia masih nyedot keras tiap kepala kontolku lewat bibirnya. Matanya berair, tapi gak ada tanda-tanda nyerah.
"Ahh... tahan mbak... tahan... AKU KELUAR!"
Aku dorong kepalanya mentok, batangku masuk penuh, dan aku nembak semuanya langsung ke tenggorokannya. Spermaku muncrat panas dan kental, aku bisa rasain dia nelan sambil tetap nyedot sisa yang netes.
"Telan, mbak... telan semuanya. Kamu udah jadi penampungnya sekarang."
Dia nurut. Bahkan setelah selesai, lidahnya masih bersihin kepala batangku, matanya liat ke atasku penuh puas.
Dan di pikiranku cuma satu kalimat... istri orang emang rasa beda.
Setelah dia telan semua spermaku dengan manis, aku udah gak bisa nahan lagi. Kontolku masih keras berdiri, dan otakku cuma kebayang satu hal-nusukin memek istri orang ini sampai dia gak bisa jalan.
"Mbak... nungging di meja. Kaki napak lantai. Sekarang."
Dia langsung nurut. Badannya dibalik, tangannya bertumpu di atas meja makan, dan kakinya terbuka di lantai. Posisi yang sempurna. Bokong montoknya keangkat tinggi, dan tanpa aku suruh pun, dia udah lebarkan kakinya sendiri, nunjukin celah yang basah berkilau, menganga sedikit, nunggu ditusuk.
"Anjing... kamu beneran istri orang paling jalang. Liat nih, buka memek sendiri biar gampang ditusuk."
Dia cuma nyengir, pantatnya goyang dikit, mancing aku buat cepet masuk. Tanganku megang batangku, kutekan kepala kontolku ke lubang merah muda itu.
Dan pas aku dorong...
"HHHNNNNNGGHH~!"
Suara mbak Y/n langsung melengking. Suara tinggi, cempreng, seksi banget-kayak cewek bokep Jepang yang lagi ditusuk dalem banget.
Memeknya... sempit. Panas. Basah kayak neraka manis. Dindingnya langsung nyekap batangku, kayak ngerangkul, ngeremas dari semua arah. Aku langsung dorong seluruh panjang kontolku masuk sampai mentok.
"FUCK! Ketat banget memekmu, mbak...! Gila, gini doang aku bisa keluar lagi!"
Tanganku langsung nyambit pantatnya-PLAK!
"AAAHH!" dia njerit, pantatnya mantul karena tamparanku.
Aku mulai gerak. Hentakan pinggulku brutal dari awal, langsung dalam, langsung kencang. Meja makan berderit tiap kali tubuh kami saling tabrak.
PLAK PLAK PLAK!!
Tamparan di pantatnya bersahutan dengan suara tubuhku nabrak bokong montoknya.
"UHHHHNN~! MAS HESAAA~! NGHAAAHHHH!"
Suaranya pecah. Tinggi. Erangan panjang yang bikin batangku makin keras.
Aku makin brutal. Tanganku narik rambutnya ke belakang, punggungnya melengkung cantik. Pinggulku nabrak cepat, kasar, tanpa ampun.
"Goyang terus, mbak. Iya, ginikan memek istri orang. Goyang biar kontolku kerendem semua."
"IYA MAS~! HNNNHH! TERUS... NGHHH~ HHHHHNNNGHH!"
Dia erang sambil lidahnya keluar, matanya nyaris putih, suara bergetar, dan cairan dari memeknya netes ke lantai-bikin basah semuanya.
"Ahhh... liat nih... memekmu nyedot kontolku. Beneran lapar ya? Doyan ya ditusuk berondong, dasar istri bejat..."
Aku terus tusukin brutal. Hentakan makin dalam, makin cepat. Dan suara mbak Y/n... anjing, itu suara paling candu yang pernah kudengar.
Doggy style kayak gini... nggak cuma masukin batangku ke tubuhnya. Ini kayak nusuk ke dalam otaknya juga-bikin dia hilang kendali.
Dan aku belum selesai. Belum sampai dia kejang basah lagi di batangku.
Mbak Y/n udah lemas, tapi suara rengeknya makin liar.
"M-mas... tampar aku lagi... plis... plis...!"
Aku nunduk, bisik di telinganya sambil masih genjot brutal dari belakang, "Iya? Mau ditampar lagi, istri orang bejat? Biar makin rusak ya?"
Dia cuma ngangguk sambil mengerang keras, tubuhnya gemetar tiap batangku nusuk dalem.
Aku nggak tahan. Kutarik rambutnya, ngebawa tubuhnya tegak, punggungnya nempel dadaku. Tangan ku nuntun salah satu kaki mbak Y/n naik ke atas meja, buka lebar. Posisi kami makin rusak-tapi justru itu yang bikin makin basah.
Genjotan ku tambah brutal. Kontolku masuk makin dalam, langsung nyodok G-spotnya tiap kali aku hentak. Dan dari cermin lemari, aku bisa liat semua: wajah mbak Y/n yang setengah nangis, lidahnya menjulur, matanya juling, dan tetek gede montoknya bergoyang liar tiap kali tubuh kami saling tabrak.
"Liat tuh... liat dirimu di kaca. Gila, mbak... payudaramu joget liar... muka bejatmu keliatan pengen ditusuk seumur hidup."
"AAHHH~ MAAAS~ UHHHHN! AKUU-!"
Tanganku turun, kusentuh klitnya. Gosokan cepat, licin banget karena cairannya udah banjir ke mana-mana. Jari tengahku muter-muter tepat di atas tonjolan kecil itu.
"Tahan... ayo squirt buat aku. Buat brondong yang bikin kamu ampe nangis keenakan."
"UUAAHHH... M-MAS HESAAA! UHNGHHH!"
Tubuhnya kejang. Pahanya getar. Dan tiba-tiba... CROOHHHH! Cairan muncrat keluar deras dari memeknya, nyiprat ke kakiku, ke lantai, sampai netes dari meja.
Dia menggeliat liar, tangannya nyakar lenganku. Tapi aku gak berhenti. Aku terus genjot, makin keras, makin dalam. Dan akhirnya...
"FUCK... FUCK... MBBAAKK... AKU KELUAR JUGAA-!"
Memeknya nyekep. Jepitannya ketat banget, dinding dalamnya kerasa ngelilit kontolku dari segala sisi. Anget, licin, sempit.
Dan aku tancap penuh.
PLAK! "NGHH-!" Kontolku meledak di dalem.
Spermaku nembak keras, panas, langsung nyemprot ke dinding rahimnya. Pulsasi batangku nggak berhenti, dan memeknya masih denyut balik kayak ngisep semua yang kutembakin.
Dia nangis. Literally. Air mata ngucur dari matanya.
"Hhhhnn... h-hangat... a-aku ngerasa semuanya... mas... d-dalemm..." suaranya gemetar, tapi puas.
Kami nggak bergerak. Masih saling lengket. Nafas masih berat. Dan memek istri orang ini masih meringkuk manja di batangku yang baru aja nyemprotkan isi paling dalamku.
Tubuhku masih bergelombang oleh napas yang belum teratur. Di depanku, mbak Y/n bertumpu pada meja makan dengan punggung telanjang yang mengilap oleh keringat. Tak ada sehelai kain pun membungkus tubuh kami—hanya kulit yang saling mengenal satu sama lain.
Dan di detik itu, aku merasa... bersalah.
Apa yang aku lakuin ini... salah. Mbak Y/n masih istri orang. Biarpun suaminya gak pernah kuanggap laki-laki karena kelakuannya, tetap saja... dia masih terikat.
Pelan-pelan, kupeluk tubuhnya dari belakang, menenggelamkan wajahku di lekuk bahunya.
"Maaf..." bisikku, lirih dan getir. "Kalau semua ini ngebuat mbak... jadi selingkuhin suami mbak."
Dia diam sejenak. Tapi bukan menepis. Malah membalik badan dan menatapku.
Aku terkejut. Senyum itu... manis. Damai. Bukan rasa bersalah, tapi... rasa bebas?
"Bukan salah kamu, Mas Hesa," katanya pelan, namun mantap. "Aku yang mutusin buat jalanin ini. Karena aku... udah muak. Aku bukan istri, aku tahanan."
Aku terdiam, menatap matanya yang mulai berkaca.
"Aku udah lama pengin cerai. Tapi terus dikekang. Dibilang perempuan gak boleh hidup sendiri, gak boleh punya suara. Aku lelah, mas..."
Setetes air mata jatuh di pipinya. Pelan, aku usap dengan ibu jariku. Lembut.
"Aku bantuin mbak. Aku akan ada di pihakmu," ucapku. "Dan kamu nggak sendirian. Warga sini juga tahu. Mereka juga kasihan sama mbak."
Dia menggigit bibirnya. Suaranya nyaris berbisik, "Boleh gak... aku minta tolong sama kamu? Bantuin aku lepas... dari dia?"
Aku mengangguk. Tegas. Mantap.
"Aku bantuin kamu keluar dari neraka itu."
Lalu aku menatap matanya dalam-dalam, dan dengan suara yang pelan tapi pasti, aku bilang:
"Dan kalau boleh... izinin aku mencintai kamu, mbak."
Mbak Y/n tersenyum lebar. Matanya basah, tapi senyumnya bersinar. Lalu tangannya menyentuh pipiku, dan bibirnya merapat ke bibirku. Kali ini... ciumannya lembut. Bukan karena terbakar hasrat. Tapi karena sebuah keputusan.
Kami saling melepas-bukan rasa bersalah, tapi rasa takut.
Dan memulai dari awal... bukan sebagai tetangga, tapi sebagai dua orang dewasa yang memilih satu sama lain.
「 ✦ End✦ 」





Komentar
Posting Komentar