[Heeseung] Pesona Sopir Angkot

 


「 ✦ NSFW Scene ✦ 」

Kamu menunduk malu, namun hatimu berdetak semakin cepat. Dengan hati-hati, kamu berpindah dari kursi depan ke bangku belakang angkot, merasakan debaran yang semakin kuat. Di luar, hujan semakin deras, menambah kesan privasi yang tak terelakkan. Ethan ikut bergerak, duduk di sampingmu, tubuhnya yang tinggi membuat ruang di dalam angkot terasa semakin sempit dan hangat. 

Kamu menarik napas lagi, menyadari jarak di antara kalian kini begitu dekat-hanya beberapa sentimeter. 

Kemudian, bibir Ethan kembali menempel pada bibirmu, lebih dalam, lebih menuntut, seakan ia tak ingin ada jarak lagi di antara kalian. Kamu menyerah pada sensasi hangat itu, membiarkan lidahnya menyusuri bibirmu dengan gerakan yang begitu memabukkan. Kalian berdua mulai tenggelam dalam ciuman yang bergulat lembut, semakin dalam dan penuh hasrat, membuat udara di dalam angkot terasa lebih panas meski hujan masih deras di luar. 

Tanganmu yang semula bertengger di lengan Ethan kini bergerak naik, menyusuri dada bidangnya yang terasa hangat di balik kemeja kerja sopir angkot berwarna pudar itu. Tanpa sadar, jemarimu mulai meraih kancing bajunya, membuka satu per satu dengan gerakan pelan, seolah ingin menikmati setiap detik dari momen ini. 

Ethan menahan napas saat kamu membuka kancing ketiga, matanya menatapmu dengan sorot yang campuran antara kagum dan tak percaya. "Kamu...," gumamnya dengan suara rendah dan berat, "berani banget..." 

Kamu hanya tersenyum samar, bibirmu masih basah karena ciumannya tadi. "Mas juga bikin aku nggak bisa mikir," balasmu pelan, sebelum menariknya lagi ke dalam ciuman. 

Ciuman kalian bergeser menjadi lebih lambat namun semakin dalam, seperti permainan yang penuh dengan ketegangan manis. 

Kancing kemeja Ethan kini telah terbuka semua, dan kamu menariknya lepas dari tubuhnya. Dengan satu gerakan ringan, kemeja lusuh itu kamu singkirkan ke samping, jatuh di lantai angkot. Di bawah remang lampu jalan yang tembus dari jendela, kamu bisa melihat dada bidangnya yang basah sedikit oleh keringat karena udara yang lembap dan hangat. 

Ethan menatapmu dalam diam, seolah sedang mencari izin di balik sorot matamu. Jemarinya perlahan bergerak ke kemejamu, membuka kancing satu demi satu dengan hati-hati. Setiap kali satu kancing terlepas, kamu merasa jantungmu semakin berdetak kencang. 

"Boleh, ya?" suaranya rendah dan serak, nyaris tenggelam dalam suara hujan di luar. 

Kamu hanya mengangguk pelan, bibirmu mengulas senyum malu-malu tapi penuh antisipasi. Saat kancing teratas terlepas, ujung jemarinya menyentuh kulit leher dan tulang selangka, membuatmu bergidik. Dia melanjutkan, membuka satu per satu hingga bagian atas tubuhmu terekspos. 

Ethan menarik napas dalam, matanya terpaku pada belahan dadamu yang kini terlihat jelas. "Kamu cantik banget...," bisiknya, membuatmu menunduk dengan pipi panas. Namun saat dia mendekat, bibirnya mulai menempel di lekuk lehermu, memberikan ciuman lembut yang membuatmu menghela napas pelan. 

Kamu bisa merasakan napas hangatnya di kulitmu, dan tanganmu terangkat, meraih belakang lehernya, menariknya lebih dekat lagi. 

Ethan dengan lengannya yang kokoh melingkari pinggangmu, menahanmu erat seolah tak ingin ada jarak sedikit pun. Kamu bisa merasakan dada bidangnya menempel pada tubuhmu, membuat panas tubuhnya menular padamu di tengah udara dingin yang dibawa hujan. 

Dari lekuk leher, dia bergerak perlahan ke pundakmu yang terekspos, membuatmu meremang ketika bibirnya menyentuh kulitmu. Jemari tangannya yang satu, yang sebelumnya ada di pinggangmu, naik sedikit demi sedikit, menelusuri garis punggungmu yang kini terasa sensitif. 

Kamu mendesah pelan, hampir tak sadar ketika Ethan mulai menurunkan bibirnya dari pundak ke bawah, seakan mengikuti jalur kulitmu yang semakin berani terekspos. Hingga akhirnya, bibirnya berhenti di belahan dada yang terlihat dari kemeja yang terbuka. 

"Kamu... nggak keberatan?" gumamnya lirih, suaranya dalam dan menahan diri. 

Kamu hanya menggeleng pelan, dengan napas yang sedikit tersengal. "Nggak, Mas. Aku suka," bisikmu, matamu setengah terpejam karena sensasi yang menggelitik. 

Ethan mengangkat wajahnya sebentar, menatapmu dengan mata yang tajam namun hangat, sebelum kembali menunduk, mengecap lembut di belahan dadamu. Sentuhan itu membuatmu memegang lengan Ethan lebih erat. 

Saat tangannya menjelajahi punggungmu yang terbuka usai menarik lepas kemejamu dari tubuh, kamu merasakan getaran antisipasi. Jari-jarinya dengan cekatan menemukan pengait bra-mu, dan dengan sekali sentakan, bra-mu terlepas. Kamu terkesiap, campuran terkejut dan bergairah, saat udara dingin menerpa kulitmu, tetapi tak sebanding dengan panasnya tatapan Ethan. Matanya terbelalak kaget dan penuh hasrat saat ia memandangi payudaramu yang besar dan bulat, putingmu yang keras dan cokelat muda memohon perhatian. 

"Bangsat...nenen mu...mantep banget" bisiknya, suaranya seperti geraman serak yang dalam, mengirimkan gelombang nafsu ke seluruh tubuhmu. Karena sudah terangsang, kamu melengkungkan punggung, mendorong dadamu ke depan, menawarkan diri padanya. "Mas mau nyobain?" 

Ethan tak butuh ajakan lagi. Ia menangkup payudaramu dengan kedua tangan, mengagumi kepenuhannya, ibu jarinya mengusap putingmu yang sensitif. 

Kamu mengerang, suara kenikmatan murni, memohonnya untuk menghisap lebih banyak. "Ahhh, hisap puting Y/n, mas, eunghhh." 

Kepala Ethan menunduk, mulutnya menemukan putingmu. Ia menggigitnya di antara bibirnya, awalnya mengisap dengan lembut, lalu dengan hasrat yang semakin besar. Kamu merasakan basahnya air liurnya, panasnya napasnya, saat ia mencurahkan perhatian pada satu puting, lalu puting lainnya. Setiap tarikan mulutnya mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhmu, membuatmu melengkungkan tubuh ke arahnya, menginginkan lebih. 

Ia beralih ke puting yang lain, lidahnya meliuk-liuk di sekitar puting sensitif itu, giginya menggigitnya pelan. Sensasinya luar biasa, perpaduan kenikmatan dan rasa sakit yang membuatmu megap-megap dan meminta lebih. "Mass, jangan berhenti please..." 

Mulut Ethan meninggalkan putingmu, sedikit mengkilap dengan air liurnya, saat ia menatapmu dengan rasa lapar yang membuat jantungmu berdebar kencang. "Mas boleh lepasin rokmu?" tanyanya, suaranya penuh hasrat. 

Kamu mengangguk cepat, menginginkan lebih, dan ia tak membuang waktu. Dengan gerakan cekatan, ia melepas rok dan celana dalammu dan kamu menaikkan sedikit pinggulmu, membuatmu benar-benar terbuka dan rentan. Udara dingin menerpa kulitmu, tetapi itu tak sebanding dengan panasnya tatapan Ethan saat ia menatapmu, kakimu terbentang lebar, vaginamu yang basah minta untuk dilecehkan. 

Ethan beralih berlutut di hadapanmu, bahunya yang kokoh menjadi tumpuan kakimu yang sengaja kamu taruh diatasnya. Ia membenamkan wajahnya di antara pahamu, menarik napas dalam-dalam. "Ahh, memek mu wangi banget," gumamnya, suaranya seperti geraman pelan yang membuatmu merinding. 

Jari-jarinya membuka lebar bibir vaginamu yang tembem itu, memperlihatkan bagian terintimidasimu pada tatapannya yang lapar. Kamu tersentak saat lidahnya menemukan klitorismu, mengisap dengan kuat dan mengirimkan gelombang kenikmatan ke seluruh tubuhmu. Ia menjilat dan mengisap, lidahnya berputar-putar di sekitar kuncup sensitifmu. 

"Ahhh mas Ethan..." 

Kamu merintih, pinggulmu menekan pada wajahnya saat ia membawamu semakin dekat ke tepian. Setiap hisapan, setiap jilatan, setiap dorongan jari-jarinya membuatmu melayang lebih tinggi, tubuhmu gemetar penuh harap. 

Mulut Ethan tak kenal lelah, lidah dan bibirnya bekerja dalam harmoni sempurna untuk membuatmu liar. Ia mengisap klitorismu dengan gairah seorang pria yang kehausan, suara basah mulutnya memenuhi udara, bercampur dengan desahan dan eranganmu. Kamu menekan kepalanya, mendesaknya lebih dalam, lebih keras, dan menginginkan lebih. 

Seolah merasakan kebutuhanmu, Ethan menyelipkan dua jari ke dalam lubang basahmu, menggesek dinding dalam dengan menggoda hingga menyentuh titik manis di dalam dirimu. Ia mulai menyetubuhimu dengan jari-jarinya, ritme yang seirama dengan gerakan mulutnya, setiap dorongan mengirimkan gelombang kenikmatan yang menerjang tubuhmu. 

"Mmmm, mas ouhhh!" kamu mengerang keras, suaramu bercampur antara kenikmatan dan keputusasaan. "Jangan berhenti mas ahhh jangan berhenti!" 

Jari-jarinya bergerak masuk dan keluar dari dirimu, basah oleh cairanmu. Stimulasi ganda itu luar biasa, tubuhmu gemetar saat kamu berada di ambang kenikmatan. Setiap dorongan, setiap usapan membawamu lebih dekat, eranganmu semakin keras, semakin putus asa. 

"Ahhh, mass!" teriakmu, pinggulmu menghentak wajah dan jari-jarinya, tubuhmu meronta minta dilepaskan. 

Jari dan mulut Ethan bekerja seirama sempurna, mendorongmu ke ambang ekstasi. Eranganmu memenuhi udara, semakin keras dan putus asa setiap detiknya. Tubuhmu gemetar, setiap syarafmu bergejolak karena kenikmatan, saat kau terhuyung-huyung di ambang pelepasan. 

"Ahhh mas ethan!" teriakmu, suaramu serak penuh intensitas. Tubuhmu bergetar hebat, gelombang kenikmatan menerjangmu saat kamu mencapai klimaks. Ethan menarik diri, jari-jarinya meluncur keluar darimu, seringai tersungging di bibirnya saat ia melihatmu squirt, cairanmu tumpah ke lantai. 

Pemandanganmu, yang tenggelam dalam gejolak kenikmatan, seolah memuaskan kebutuhan primal dalam dirinya. Ia menyeka mulutnya, matanya tak pernah lepas darimu, saat kau terengah-engah, tubuhmu masih gemetar akibat guncangan orgasmemu. 

"Kamu cantik pas orgasme," gumamnya, suaranya geraman pelan yang membuatmu merinding. 

Kamu masih terengah, matamu menatap Ethan dengan campuran malu dan geli. "Gimana, mas? Kayaknya mas nikmatin banget kelihatannya," katamu sambil tersenyum kecil, pipimu panas. 

Ethan ikut terkekeh pelan sambil menundukkan kepala sedikit lalu menatapmu lebih dalam. "Rasanya manis," ucapnya dengan suara serak yang membuatmu semakin gugup. 

Kamu terkekeh dan menurunkan kakimu dari bahunya. "Jangan berlebihan," ucapmu dengan tawa kecil, berusaha menutupi degup jantungmu yang makin kencang. 

Namun, suasana itu tiba-tiba buyar ketika ponsel Ethan berdering. Ia menghela napas berat, merogoh kantong celana dan melihat layar. Dari ekspresi wajahnya, kamu tahu itu pesan penting. "Temenku udah mau nyampe," katanya dengan nada kecewa. "Yah... nggak bisa lanjut lagi, nih." 

Kamu hanya tersenyum nakal, tanganku terangkat mengusap lembut pipinya. "Kapan-kapan bisa lanjut lagi, asal mas mau kasih nomor telepon," ucapmu, suara lirih namun jelas. 

Ethan menatapmu lekat, seolah berpikir sejenak. "oke lah..." gumamnya, tapi seringaiannya menunjukkan rasa puas untuk berencana ketemu kamu lebih sering. Dia pun mengambil ponselnya dan mengetik nomormu sesuai yang kamu ucapkan. 

══✿══╡°˖✧✿✧˖°╞══✿══

Dan kini, begitu angkot berhenti di depan kosmu, kamu buru-buru merogoh uang di dompet, mencoba menyembunyikan rasa gugup yang masih membekas. "Mas... ini ongkosnya," ujarmu pelan, tidak berani menatap Ethan terlalu lama karena ingatan momen panas barusan masih segar. 

Ethan hanya melirik sekilas uang di tanganmu, lalu tersenyum miring dengan tatapan yang sulit diartikan. "Udah, simpen aja. Aku udah dapet... bayaran yang lebih berharga tadi," katanya santai namun menggoda. 

Wajahmu langsung memerah. "Mas, jangan ngomong gitu..." Kamu spontan memukul bahu Ethan agak keras, lebih karena malu dan kesal. "Aku jadi malu tau!" 

Ethan tertawa kecil, suara tawanya dalam dan hangat. "Heh, malah lucu kalo kamu malu kayak gitu." Dia menatapmu dengan mata teduh, membuat jarak kalian kembali terasa dekat. "Jangan lupain momen tadi ya, tadi kamu juga nikmatin, kan?" ujarnya pelan, hampir berbisik. 

Kamu terdiam, jantungmu berdetak lebih kencang, sebelum akhirnya mengangguk dan berdeham untuk memecah suasana. "Yaudah... aku masuk dulu, Mas. Makasih, ya." 

Ethan hanya mengangguk dengan senyum samar, matanya tak lepas dari wajahmu. "Istirahat yang nyenyak, ya." 

Dan disitulah kisahnya kamu jadi terseret arus karisma seorang sopir angkot yang bikin kamu enggak bisa lupain sejengkal pun momen yang sangat menyenangkan itu.

「 ✦ End✦ 」



Komentar

Postingan Populer