[Heeseung] Melayani Pelanggan Spesial
Kamu menatapnya sejenak setelah kalimat yang frontal itu terucap. Lalu dengan santai, kamu menyelipkan jari ke ujung bawah dastermu yang menjuntai ke paha. Tarikan pelan dan konsisten membuat kain tipis itu naik ke atas, melewati perutmu yang hangat setelah kamu sempat berdiri, melewati rusuk, sampai akhirnya dadamu terekspos.
Dua payudaramu bebas dari penyangga, menggantung dengan bentuk bulat penuh dan lentur. Putingmu kecil, keras, berwarna merah muda kecoklatan, merespons udara dingin dan mungkin juga tatapan panas dari Hesa yang kini terpaku, matanya membelalak pelan sambil menjilat bibirnya.
"Anjing..." bisiknya serak. "Tetek kamu makin cakep aja. Nggak berubah. Malah kayaknya makin montok."
Kamu tertawa geli sambil membiarkan tanganmu menahan daster tetap terangkat.
"Iyalah makin montok soalnya setiap mas kesini, bayarnya pake remesin tetek aku atau pake yang lain." ujarmu manja, menggoda.
Hesa menyeringai sambil bergeser mendekat. Tak ada jarak lagi antara kalian. Paha kalian bersentuhan dan dia mencondongkan tubuh, matanya tak lepas dari dada telanjangmu yang menggoda, naik-turun pelan karena napasmu mulai berat.
Tanpa izin, tapi dengan kepercayaan yang sudah kamu berikan sejak lama, tangannya terangkat—besar, kasar, penuh urat, dan hangat. Dua tangannya menangkup kedua payudaramu sekaligus, jari-jarinya menyelimuti kulitmu yang lembut. Sentuhan itu membuatmu mendesah ringan, suara kecil tapi tak bisa kamu tahan.
"Hhh... Mas..."
Hesa menatap lurus ke matamu, lalu menunduk, fokus pada dadamu yang kini digenggam penuh di tangannya. Ia mulai meremasnya pelan, jari-jarinya mengelus bagian tengah yang paling sensitif. Kamu menggeliat kecil, pinggulmu bergeser, paha menegang karena gelombang nikmat mulai merayap dari dada ke perutmu.
"Tetek montoknya ini... pengen diapain, hah?" bisik Hesa, suaranya berat, napasnya panas.
Kamu menjawab dengan desahan. Lembut, manja, erotis.
"Uhh... dilecehin, Mas... terserah Mas mau apain... tetek aku nakal, manja... pengin disentuh, dilecehin..."
Hesa mencelos. Desahanmu masuk ke kepalanya seperti racun nikmat. Ia meringis senang, lalu mulai main kasar.
"AAKHH!"
Kamu terpekik saat remasan tangannya jadi lebih dalam, lebih kuat. Dia menjepit putingmu di antara jari telunjuk dan jempol, lalu memutar pelan, membuatmu tersentak.
"Aahhh— mas!" kamu menggigit bibirmu.
Dia mencondongkan badannya lagi biar lebih dekat, lalu menjilat lurus dari dasar belahan dadamu ke atas. Lidahnya kasar, panas, menjilat sampai ke puting dan menahannya di sana, memutar dengan gerakan nakal.
"Tetek kamu tuh..." desisnya di antara jilatan. "Enak banget. Berat, empuk, gila ini mah bisa bikin orang lupa jalan pulang."
Kamu sudah megap-megap. Aksinya yang bikin kamu keenakan, mengikiskan akal sehatmu sehingga kamu melepas dastermu disaat pintu warungmu masih terbuka.
Kedua payudaramu dirapatkan olehnya dan Hesa membenamkan wajahnya di belahan dadamu, membasahi kulitmu dengan ludah dan mendesah puas.
"Liat deh, tetek kamu sampe berair gini. Basahnya bikin gila, sumpah..."
Dan kamu hanya bisa mengerang, menggeliat di atas bangku kayu, dengan dada terangkat dan penuh jejak air liur.
Tangan kirinya masih membungkus satu payudaramu, meremas dengan geram, sementara tangan kanan menyeka sudut bibirnya yang basah. Lalu, tanpa peringatan, dia meludah lagi ke dadamu. Suara liurnya mendarat tepat di setiap bukit montokmu, lalu mengalir pelan ke putingmu.
"Tetek kayak gini, manja banget ya," gumam Hesa. Dan telapak tangannya terangkat.
Plak
Payudara kananmu ditampar. Lalu satu lagi.
Plak.
Daging kenyalmu bergetar, putingmu mengencang keras, dan kamu menggigit bibirmu menahan teriakan kecil.
"Aahhh... Mas... jahat..." bisikmu lirih, tapi senyuman nakalmu tak bisa disembunyikan. Kamu menikmati semuanya.
"Jahat ya? Tapi kamu makin horny gini," balas Hesa dengan tawa rendah, lalu menepuk satu payudaramu lagi. Kali ini lebih kencang. Berniat membuat kulitmu memerah, membuat rasa panasnya masuk ke selangkanganmu.
Kamu langsung berdiri, lalu naik ke pangkuannya tanpa aba-aba. Payudaramu sekarang setara dengan wajahnya—besar, berat, basah, dan siap dipermainkan.
"Suka kan kalo aku duduk di sini?" bisikmu sambil mencengkeram rambut belakang kepalanya, menarik wajahnya makin dekat ke dadamu.
Dia nggak menjawab, cuma mengendus dadamu seperti hewan lapar. Lidahnya keluar lagi, menjilat dari bawah ke atas, lalu mengemut satu putingmu dalam satu isapan panjang yang bikin kamu mendongak sambil mendesah, "Hhhh... yaa gitu... sedot lagi, Mas..."
"Anjing... kamu tuh bener-bener pelacur mas ya," bisiknya, sambil menatap kamu dengan lapar.
"Aku emang pelacur Mas... pelacur warung kopi... yang teteknya cuma buat Mas isep sepuasnya..." jawabmu dengan nada sensual.
Kamu mencondongkan wjaahmh dan mencium bibir Hesa yang dari tadi sudah menggoyahkan imanmu. Dalam ciuman yang semangat itu diantara kalian, membawa suasana di warung sepi ini lebih panas.
"Mas..." bisikmu, lebih lembut dari desau angin malam disela-sela ciuman.
"Aku pengen ngelayanin Mas Hesa. Tapi aku lagi haid. Mas gapapa?"
Hesa cuma senyum miring, pelan-pelan dia angkat tangan, menyelipkan jari di bawah dagumu, bikin kamu harus menatap matanya yang gelap dan dalam. "Gapapa," katanya pendek, suaranya berat dan ngebas, bikin tulang belakangmu bergetar pelan.
Tanpa tunggu aba-aba lagi, kamu turun dari pangkuannya dan berlutut di antara kakinya. Keramik dingin di bawah lututmu terasa dingin, tapi tubuhmu udah kepanasan dari tadi. Jantungmu deg-degan pas tangan Hesa narik celana jeans-nya turun bareng boxernya, gak sepenuhnya turun.
Penisnya muncul gagah, panjang dan tebal seperti biasa diantara rambut pubisnya yang tumbuh lumayan lebat. Kepalanya merah berkilat karena pre-cum, uratnya menyembul liar dari batang yang keras, dan kamu refleks ngehela napas. "Ya Ampun... aku kangen banget sama titit mas," bisikmu cabul, jari-jari satu tanganmu udah otomatis menggenggam dan mulai ngocok pelan.
Kamu nunduk, ngeresapi aroma jembutnya yang lebat dan maskulin—campuran sabun murah, keringat laki-laki dan aroma khas kulitnya yang bikin kamu mabuk. Lidahmu menjulur, mencicipi leher batangnya, sebelum akhirnya kamu nyeruput kepalanya dengan bunyi seruputan yang keras.
"Sluurp... aah..."
Hesa mengerang berat, tangan kasarnya mencengkeram rambutmu, menekan lembut. "Sepongin, sayang. Yang dalem."
Dengan senang hari nurutin kemauan pelanggan spesialmu, kamu buka lebar bibirmu dan ngulum pemisnya yang besar itu makin dalam. Lidahmu muter-muter di ujungnya, liurmu meleleh sampe ke pangkal, tanganmu masih sibuk ngocok sisa inci batang yang nggak muat di mulut.
Dan malam pun terus berjalan, sementara suara seruputan, desahan, dan hujan yang diselingi suara kendaraan lewat jadi harmoni yang cuma bisa dinikmati kalian berdua di warung pinggir rel kereta.
Mulutmu penuh batang keras Hesa, dan setiap kali kamu tarik napas dari hidung, aroma kulit dan jembutnya makin masuk dalam kepala.
"Hah... Anjing, kamu makin lama makin jago sepongnya," erangnya serak, tangannya makin dalam neken kepalamu. Batangnya nabrak ujung tenggorokan, bikin kamu tersedak, mata mulai berkaca, tapi kamu nggak berhenti. Lidahmu nari, bibirmu nyedot makin dalam, sambil sesekali kamu nyempil kata-kata nakal dengan mulut penuh.
Air liurmu udah belepotan di dagu dan batangnya, tanganmu masih sibuk main di bagian bawah, ngocok pelan dengan ritme yang cocok sama gerakan mulut. Suara desahan Hesa makin berat, makin liar.
Tiba-tiba, Hesa nahan gerak kepalamu. "Stop."
Kamu narik diri pelan, napas ngos-ngosan, liurmu nyambung dari bibir ke batang kejantanannya yang basah berkilat. Matamu mendongak, natap ke atas nunggu instruksinya.
"Jepit titit mas pakai tetek mu. Mas mau crot di tetek kamu. Rekam juga." Perintahnya pelan tapi padat.
Kamu cuma ngangguk, nggak pake malu. Hesa ngeluarin HP, buka kamera, nyorot ke bawah. "Ayo, jepit. Tunjukin ke kamera gimana kamu nyenengin sopir truk langganan mu."
Dengan senyum nakal, kamu angkat payudaramu dan jepit batang keras Hesa di antara belahannya. Panas dan berat batang itu langsung kerasa nempel ke kulitmu. Kamu mulai gerak pelan, atas-bawah.
"Mas Hesa keenakan ya, titit mas dijepit pake tetek gede?" tanyamu sambil ngegoda, makin cepetin gerakan. Kamu liatin kamera, ngeluarin lidahmu, terus jilatin kepala penisnya sambil tetep jepit batang Hesa dengan dada.
"Gila... gitu terus... anjing... nih yang mas cari... tetek montok kamu enak banget, dik." desahan Hesa makin brutal, tangan kirinya terus megang kamera, tangan kanannya megang bahumu biar makin deket.
Gerakan makin liar. Dada kamu basah karena pre-cum yang udah netes dari penisnya, dan kamu makin semangat jepit biar batang itu makin tenggelam di belahan yang kamu banggakan itu.
"Mas... ayo... keluarin di tetek ku... Aku mau liat titit mas muncrat di tetek..." napasmu berat, bibirmu kebuka, dan tatapanmu sayu penuh gairah ke arah kamera yang masih merekam semuanya tanpa ampun.
Kamu makin nekan payudaramu, ngebentuk belahan yang padat dan ketat, ngebungkus batang Hesa yang sekarang udah berdenyut di sela kulitmu. Gerakanmu makin cepat, makin rakus, dan suara basah yang muncul dari batangnya yang licin karena pre-cum makin menggila.
"Tetek mu... anjing... mas jadi pengen meledak..." suara Hesa berat dan kasar, verbal lecehnya keluar tanpa filter. "Cewek warung kayak kamu, emang cocoknya dijadikan tempat muncrat mas tiap malam. Tetek mu tuh emang fungsinya buat nampung sperma mas, ngerti?"
Kata-kata cabulnya itu justru bikin kamu menggigit bibirmu dengan senyum bangga. Kamu suka. Suka banget malah, diludahin kata-kata kasar begitu sambil ngeliat dia megap-megap karena batangnya makin kejepit dan makin keras di belahan dadamu.
"Iya, Mas... Aku emang pelacur warung kopi Mas... Titit Mas cuma cocok dikeluarin di tetek aku..." bisikmu sambil liatin kamera yang masih terus ngerekam, wajahmu basah keringat, dada naik turun, dan belahanmu makin jepit batangnya.
"Mas mau keluar... jangan berhenti!"
Dan dalam satu gerakan kasar, tubuh Hesa kaku. "ARRGHH!" teriaknya berat, suara seraknya membelah malam.
Spermanya nyembur keluar, putih dan panas, muncrat keras ke payudaramu dan juga wajahmu. Kamu nyengir lebar, puas, napasmu juga berat tapi mata kamu masih penuh bara liar.
Kamu tarik dada kamu mundur dikit, terus pake tanganmu balurin seluruh permukaan payudaramu dengan spermanya. Kamu usap-usap kayak lotion, sambil ngelirik kamera dengan tatapan cabul. Putingmu diputer pelan pake jari yang udah dilumuri cairan kental itu.
"Nih mas, coba cicipin peju mas dari nenenku..." bisikmu nakal sambil nyeringai.
Hesa masih rekam, nafasnya berat, wajahnya merah, tapi sorot matanya masih lapar. Lalu dia taruh HP-nya di atas meja. Kedua tangannya narik kamu dan ngebawa tubuhmu lebih deket, sampe kamu otomatis naik ke atas pangkuannya, ngangkangin pahanya.
Kontolnya yang masih separuh keras nempel di perut bawahmu, dan dadamu yang masih belepotan sperma kini persis di depan wajahnya.
Tanpa bilang apa-apa, kamu busungkan dada, dan Hesa langsung nyusu—nyedot putingmu yang lengket, menjilat dan nyicipin spermanya sendiri dari kulitmu.
"Gitu Mas... susuin terus... ahh enak banget..." racau kamu.
Lidah Hesa muter, nyusu putingmu keras, lalu pindah ke dada satunya, sementara tangannya udah mulai naik turun lagi di paha mulusmu.
Setelah puas mengeruk setiap desahan dan lenguhan terakhir, napasmu belum stabil, tapi ekspresimu puas. Payudaramu masih mengilap, bukan lagi karena sperma, tapi karena air liur Hesa yang masih lengket di permukaan kulitmu. Basahnya membentuk kilap menggoda di bawah cahaya lampu warung.
Hesa perlahan narik diri, badannya masih berat, tapi matanya masih menatap dadamu lekat-lekat seperti masih lapar. Dia ngelus pelan salah satu payudaramu dengan ibu jarinya, seolah gak rela harus selesai.
"Andai kamu nggak lagi haid sekarang... udah mas entot kamu sampe meja warung ini geser," gumamnya serak, nada suaranya setengah menggoda, setengah frustrasi penuh birahi yang tertahan.
Kamu terkikik kecil, angkat satu alis sambil menatapnya. "Tunggu aja, Mas. Minggu depan mampir lagi, ya? Aku siap kalo haidnya udah beres. Mau dientot di meja, kursi, atau lantai juga hayuk."
"Mulut mu emang paling bener-bener ngajak dosa," ujar Hesa sambil nyengir, lalu berdiri setelah kamu turun dari pangkuan dan ngambil tisu yang sudah disediakan diatas meja.
Hesa pelan-pelan ngelap bekas liurnya yang masih menggenang di dada montokmu dengan tisu. Gerakan tangannya lembut, meski sesekali jari-jarinya sengaja nyolek putingmu dan bikin kamu mendesah pelan.
Setelah selesai, kalian berdua pake baju lagi. Kamu memakai kembali daster dan Hesa angkat celananya sebelum ngelap sisa keringat dari leher dan pelipisnya. Di luar, hujan sudah reda, menyisakan jalanan yang terdapat genangan air.
Sebelum dia pamit untuk berangkat, Hesa narik kamu, tangan kirinya melingkar ke pinggangmu, tangan kanannya menangkup pipimu. Tanpa aba-aba, bibir kalian bertemu. Dalam. Panas. Lidahnya langsung masuk, nyamber lidahmu yang udah siap menari. Kalian ciuman kayak sepasang kekasih yang enggak peduli siapa yang lihat. Kamu mendesah kecil, membalas gerakan bibirnya sambil nempelin tubuhmu ke Hesa.
"Mas..." gumammu di sela ciuman, napasmu makin panas. "Kalo mas kesini lagi, bisa kali nyoba main dari belakang sambil tangan Mas narik rambut aku. Biar makin berasa pelacur warungnya."
Hesa ngegeram di mulutmu, tangannya nepuk bokongmu sekali. "Dasar... pelacur manja. Mas catet ya, minggu depan kamu udah harus siap."
Akhirnya, dengan enggan kalian lepas ciuman. Hesa naik ke truknya, nutup pintu, dan dari jendela yang terbuka dia melambaikan tangan ke kamu. "Jaga dirimu baik-baik ya, sayang."
Kamu mengangguk cepat dan balas lambaian itu sambil senyum lebar, berdiri di bawah cahaya lampu teras warung yang berpendar pucat. Mesin truk meraung pelan, lalu pelan-pelan pergi menjauh ke jalanan basah.
Kamu masih berdiri di situ sebentar, lalu balik masuk ke dalam warung. Senyum kecil nggak lepas dari bibirmu. Wajahmu berseri puas, dada masih bergetar pelan. Hidungmu masih kecium samar aroma Hesa—keringat, aroma tubuhnya dan sisa liurnya di dadamu.
Begitulah hubunganmu dengan pelanggan istimewamu—Mas Hesa, sopir truk muatan pasir dengan kejantanan yang membuatmu ketagihan dan gairah yang bikin kamu selalu basah bahkan sebelum disentuh.
「 ✦ End✦ 」



Komentar
Posting Komentar