[Heeseung] Prenup
「 ✦ NSFW Scene ✦ 」
Hingga akhirnya kumpul keluarga telah usai. Pintu kamar vila kayu itu tertutup dengan debuman halus, namun suaranya terasa seperti dentuman keras di telinga kalian berdua. Suasana musik yang bising di luar sana seketika hilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam namun sarat akan ketegangan yang panas.
Heeseung langsung melepas kancing kemeja atasnya, napasnya masih sedikit tidak beraturan. Dia tidak menatapmu, tapi aura di sekelilingnya terasa sangat mengintimidasi. Kamu berjalan cepat menuju sisi ranjangmu, berusaha mengabaikan debaran jantung yang masih menggila akibat ciuman di depan keluarga besar tadi.
"Ciuman tadi... itu hanya karena mereka memaksa," ucapmu memecah keheningan, suaramu sedikit bergetar saat kamu berusaha melepas ikat rambutmu.
Heeseung berhenti bergerak. Dia berbalik, menatapmu dengan sorot mata yang gelap—mata yang sama saat dia menciummu tadi. "Aku tahu itu karena paksaan, Y/n. Tidak perlu diperjelas."
"Tapi kamu... kamu melakukannya terlalu dalam," balasmu, keberanianmu muncul karena rasa kesal yang bercampur dengan sensasi aneh yang masih tertinggal di bibirmu. "Kamu tidak perlu sampai menggunakan lidah kalau itu hanya akting."
Heeseung terkekeh sinis, langkahnya mulai mendekat ke arahmu. Setiap langkahnya membuatmu reflex mundur hingga bagian belakang lututmu menyentuh pinggiran kasur.
"Oh, jadi kamu protes?" Heeseung berdiri tepat di depanmu, aromanya yang maskulin kini mengurungmu sepenuhnya. "Bukankah tadi kamu juga tidak menolak? Kamu bahkan membalasnya, Y/n. Jangan berpura-pura suci sekarang."
"Aku hanya mengikuti permainanmu agar Ayahmu tidak curiga!" bentakmu, namun suaramu justru terdengar parau.
Heeseung tiba-tiba mencengkeram pinggangmu, menarik tubuhmu hingga menempel pada tubuhnya yang keras. Kamu tersentak, tanganmu secara refleks menahan dadanya yang bidang. "Permainan, ya? Kalau begitu, mari kita selesaikan permainannya di sini. Tanpa penonton. Tanpa kamera."
"Heeseung, lepas—"
"Kenapa? Kamu takut?" bisiknya tepat di depan bibirmu. "Tadi kamu terlihat sangat ahli di depan paman dan bibiku. Apa asisten rumah tangga sepertimu memang dilatih untuk menggoda majikannya sampai sejauh ini?"
Hinaan itu membakar emosimu. Tanpa berpikir panjang, kamu mengangkat tangan untuk menamparnya, tapi Heeseung dengan cepat menangkap pergelangan tanganmu dan menguncinya di atas kepala. Dia menjatuhkan tubuhmu ke atas ranjang, menindihmu dengan berat tubuhnya yang proporsional.
Selotip hitam yang membelah ranjang itu kini terinjak oleh tubuh kalian. Garis batas itu tidak lagi berarti.
"Lepaskan aku, brengsek!" kamu meronta, tapi Heeseung justru makin mengunci pergerakanmu.
"Kamu yang memancingku, Y/n," geram Heeseung. Tatapannya turun ke bibirmu yang masih merah dan sedikit bengkak. "Ciuman tadi... itu menggangguku. Dan aku tahu itu juga mengganggumu."
Tanpa peringatan, Heeseung kembali menyatukan bibirnya dengan bibirmu. Kali ini tidak ada kelembutan akting. Ciuman ini kasar, penuh dengan luapan emosi, rasa lapar, dan benci yang selama ini tertahan. Kamu mencoba melawan, tapi rasa panas yang menjalar dari sentuhan tangannya di kulitmu membuat pertahananmu runtuh.
Heeseung melepaskan kuncian tangannya, namun bukan untuk membebaskanmu, melainkan untuk meraup tubuhmu lebih dalam. Tangannya mulai menjelajahi lekuk tubuhmu dengan rakus, merobek batas kesabaran yang selama ini kalian bangun dengan selotip hitam itu.
"Malam ini..." Heeseung berbisik di sela ciumannya yang turun ke lehermu, memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuatmu mendesah tertahan. "Tidak ada kontrak. Tidak ada garis batas. Aku akan membuatmu lupa siapa dirimu sebenarnya."
Di bawah temaram lampu vila Jeju dan suara ombak yang menghantam karang di kejauhan, kebencian kalian malam itu melebur menjadi gairah yang primitif dan tak terbendung.
Suasana di dalam kamar vila itu mendadak terasa begitu sempit dan panas. Oksigen seolah menipis saat kamu menyadari bahwa pertahananmu telah runtuh. Dengan tangan gemetar, kamu berusaha menutupi payudaramu serta menyembunyikan area kewanitaanmu yang kini terekspos. Kamu memalingkan wajah, tak sanggup menatap Heeseung yang dengan gerakan tenang—nyaris tanpa beban—melepas kemeja dan celananya satu per satu, memperlihatkan tubuh atletisnya yang terpahat sempurna di bawah lampu temaram.
Heeseung kembali naik ke atas ranjang, merangkak di antara kedua kakimu yang merapat. Dia mencengkeram dagumu dengan jemarinya yang kuat, memaksamu untuk menatap matanya yang kini berkilat penuh rasa lapar yang primitif.
"Kenapa ditutup, hm? Bukankah tadi di depan semua orang kamu terlihat sangat percaya diri sebagai istriku?" bisiknya parau.
"Heeseung, jangan... ini salah," rintihmu pelan.
Tanpa memedulikan protesmu, Heeseung menarik paksa kedua tanganmu yang menutupi dada. Napasmu tertahan saat payudaramu yang bulat sempurna dengan ujung merah muda yang menegang itu terekspos sepenuhnya di depan matanya. Tak berhenti di situ, dia menyibak kakimu, memperlihatkan kemaluanmu yang masih ranum, dihiasi rimbun rambut halus yang menambah kesan erotis di mata laki-laki itu.
Heeseung bersiul pelan, matanya menyapu setiap inci tubuhmu tanpa malu. "Cantik. Jauh lebih cantik dari yang aku bayangkan selama ini."
"Brengsek! Jangan menatapku seperti itu, Lee Heeseung! Kau benar-benar gila!" omelmu dengan wajah merah padam, mencoba menutupi tubuhmu lagi meski tenaganya jauh lebih besar.
Heeseung justru tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat maskulin dan berbahaya. "Dari kecil sampai sekarang, hobimu memang tidak berubah ya? Selalu saja mengomel. Apa mulut ini hanya diciptakan untuk memaki?"
"Salahmu sendiri yang—"
Kalimatmu terputus saat Heeseung membungkam bibirmu dengan ciuman yang jauh lebih menuntut dari sebelumnya. Dia tidak memberimu ruang untuk bernapas. Tangannya mengunci kedua pergelangan tanganmu di sisi kepalamu, menekanmu ke atas kasur empuk yang kini menjadi saksi bisu penyerahannya.
Heeseung melepaskan ciumannya sesaat, hanya untuk membisikkan kata-kata cabul tepat di depan wajahmu. "Aku akan membuat mulutmu ini tidak bisa lagi mengomel, Y/n. Hanya desahan namaku yang boleh keluar dari sini semalam penuh."
Tanpa aba-aba, Heeseung memposisikan dirinya. Dia menekan kejantanannya yang panas dan keras tepat di depan kewanitaanmu yang mulai basah karena gairah yang tak sanggup kamu bendung. Dengan satu dorongan kuat dan mantap, dia merobek selaput daramu, mengambil keperawananmu yang selama ini kamu jaga dengan rapat.
"Ahhh! Sakit... Heeseung, sakit!" kamu memekik, air mata kesakitan sekaligus kenikmatan yang asing mengalir di sudut matamu.
Heeseung berhenti sejenak, membiarkan tubuhmu beradaptasi dengan ukurannya yang mengisi penuh vaginamu. Dia mengecupi dahimu, berusaha menenangkanmu meski napasnya sendiri sudah memburu gila. "Ssh... sebentar saja. Rasakan ini, Y/n. Kamu sempit sekali... sial, ini membuatku gila."
Begitu rasa sakit itu berubah menjadi denyutan nikmat yang memabukkan, Heeseung mulai bergerak. Dia menggenjotmu dengan semangat yang menggebu-gebu, setiap tumbukannya terasa dalam dan mengenai titik sensitifmu. Kamu yang awalnya melawan, kini justru melingkarkan kakimu di pinggangnya, memintanya untuk lebih dalam lagi.
"Pelan... Heeseung... ahh!" desahmu pecah, memenuhi sudut kamar vila.
"Tidak bisa, sayang. Kamu terlalu nikmat untuk dilakukan dengan pelan," geramnya, mempercepat temponya. Suara kulit yang beradu dan derit ranjang menyatu dengan desahanmu yang semakin keras. Heeseung benar-benar mengunci tanganmu, menguasai seluruh pergerakanmu hingga kamu hanya bisa pasrah terombang-ambing dalam badai gairah yang dia ciptakan.
Malam itu, di bawah langit Jeju, kontrak prenup itu seolah hangus terbakar oleh panasnya tubuh kalian yang menyatu tanpa jarak. Tidak ada lagi garis selotip, hanya ada dua jiwa yang selama ini saling benci, namun ternyata saling mendamba dalam keheningan.
Mansion Lee di Seoul terasa jauh lebih dingin dibandingkan udara pantai Jeju yang sempat menghangatkan hubungan kalian. Begitu menginjakkan kaki kembali di rumah besar ini, bayang-bayang sebagai "anak pembantu" dan "majikan" seolah kembali menyergap, meski di balik pintu kamar, Heeseung tak lagi membiarkan ada jarak di antara tubuh kalian.
Sore itu, mendung menggantung tebal di langit kota. Heeseung pulang dengan gurat kelelahan yang luar biasa. Jasnya tersampir sembarangan di lengan, dan dasinya sudah dilonggarkan.
"Kamu sudah pulang? Capek banget ya hari ini?" sapamu lembut sambil mengambil alih tas kerjanya.
Heeseung hanya bergumam pelan, lalu menarikmu ke dalam pelukan singkat yang terasa sangat posesif. Dia membenamkan wajahnya di ceruk lehermu sejenak, menghirup aroma tubuhmu yang seolah menjadi satu-satunya obat penenang baginya. "Aku mandi dulu, Y/n. Tolong siapkan kopi hitam ke ruang kerja ya."
Tiga puluh menit kemudian, Heeseung sudah berada di balik mejanya, tampak lebih segar namun tetap serius. Kamu masuk dengan nampan berisi kopi panas.
"Kopinya diminum, Heeseung. Jangan tidur terlalu larut malam, kamu butuh istirahat," ucapmu lembut.
Heeseung menoleh, menarik tanganmu dan mengecup jemarimu sekilas. "Iya, aku selesaikan cepat. Makasih ya, sayang."
BRAK!
Pintu ruang kerja itu terbanting terbuka. Jihoon melangkah masuk dengan tangan di saku celana, sebuah seringai iblis menghiasi wajahnya. Dia melemparkan sebuah amplop cokelat besar yang tampak usang ke atas meja kerja Heeseung.
"Kenapa wajah kalian tegang begitu? Bukankah bulan madu di Jeju sangat memuaskan? Apa kalian terlalu banyak 'bermain' sampai lupa kalau rumah ini masih punya banyak rahasia?" Jihoon menyeringai, matanya menyapu tubuhmu dengan pandangan yang sangat merendahkan.
Heeseung langsung berdiri, rahangnya mengeras. "Keluar, Jihoon! Aku tidak punya waktu untuk sampahmu atau omong kosongmu!"
"Sampah?" Jihoon tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di keheningan ruangan itu. "Ini bukan sampah, Heeseung. Ini adalah kebenaran tentang bagaimana ibumu 'terpeleset' tujuh tahun lalu. Kamu pikir itu murni kecelakaan?"
Warna di wajah Heeseung perlahan memudar, berubah menjadi pucat pasi. Tangannya yang berada di atas meja mulai gemetar saat dia perlahan membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat laporan forensik yang tidak pernah dipublikasikan, foto-foto tangga yang basah oleh cairan yang bukan air, dan catatan digital yang membuktikan CCTV dimatikan secara manual.
"Ibuku... ibuku jatuh karena kakinya lemah, begitu kata polisi," suara Heeseung bergetar, nyaris seperti bisikan yang hancur.
"Polisi disuap oleh Ibuku, Heeseung." Ucap Jihoon, kali ini tanpa tawa. Wajahnya berubah menjadi serius dan penuh kebencian. "Ibuku melumuri tangga itu dengan minyak pelicin. Dan aku? Aku yang bertugas mematikan sistem keamanan di ruang bawah tanah. Kami melakukan itu agar posisi Nyonya Besar kosong, agar Ibuku bisa masuk dan menguasai ayahmu, juga perusahaan ini."
Dunia seolah runtuh menimpa pundak Heeseung. Dokumen-dokumen di tangannya berjatuhan ke lantai. Dia menatap Jihoon dengan tatapan yang kosong, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari tubuhnya. Kenyataan bahwa dia selama tujuh tahun ini tinggal bersama pembunuh ibu kandungnya sendiri membuatnya mual.
"Kalian... kalian membunuhnya?" Heeseung tercekik oleh suaranya sendiri.
"Ya. Dan sekarang aku mengakuinya. Mau lapor polisi? Silakan. Tapi ingat, kalau ini meledak, saham Lee Group akan terjun bebas, dan Ayahmu yang sudah tua itu pasti tidak akan kuat menahan malu sampai mati," Jihoon memberikan satu seringai terakhir sebelum melenggang pergi, merasa menang karena telah memberikan pukulan telak yang menghancurkan mental Heeseung.
Begitu pintu tertutup, Heeseung limbung. Tubuhnya yang kokoh mendadak kehilangan tumpuan. Dia terhuyung ke belakang, tangannya mencoba menggapai meja namun gagal. Kamu dengan sigap menangkap tubuhnya dan menahan beban laki-laki itu di lenganmu.
"Heeseung!" kamu memekik panik melihat wajahnya yang pucat karena menahan sesak.
Kamu memapah tubuhnya yang gemetar menuju sofa panjang. Heeseung terduduk lunglai, kedua tangannya menutupi wajahnya, dan sedetik kemudian, suara isak tangis yang paling menyayat hati keluar dari sela-selanya. Dia yang selalu sombong, dia yang selalu dingin, kini hanya tampak seperti bocah kecil yang baru saja kehilangan segalanya.
Kamu segera duduk di sampingnya, menarik tubuh besarnya ke dalam pelukanmu. Kamu membiarkan kepalanya bersandar di bahumu, tanganmu mengusap rambutnya dengan gerakan lembut yang konstan.
"Ssh... aku di sini, Heeseung. Menangislah, keluarkan semuanya," bisikmu sambil menahan air matamu sendiri.
Heeseung mencengkeram pinggangmu dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu, mencari perlindungan di satu-satunya tempat yang menurutnya masih murni di tengah rumah yang penuh dengan darah dan kebohongan ini. Di ruangan itu, hanya ada suara napas Heeseung yang tersengal dan detak jantungmu yang berpacu, mengiringi kehancuran sang pewaris di pelukan anak pembantunya.
Malam itu, ruang kerja Heeseung saksi bisu sebuah revolusi hati. Heeseung berdiri di depan perapian yang menyala, menatap dokumen prenup yang selama ini menjadi satu-satunya alasan hukum kalian terikat. Tangannya yang besar meremas kertas itu, lalu dengan gerakan tanpa ragu, dia melemparkannya ke dalam api.
"Aku tidak butuh kontrak ini untuk memastikan kamu tidak pergi, Y/n. Dan aku tidak butuh harta yang didapat dari darah ibuku sendiri," suaranya berat, namun terdengar sangat lega, seolah beban berton-ton baru saja diangkat dari bahunya.
Kamu melangkah mendekat, memeluk pinggangnya dari belakang, menyandarkan pipimu di punggungnya yang kokoh. "Kamu yakin, Heeseung? Kamu akan kehilangan segalanya."
"Aku tidak kehilangan segalanya, Y/n. Aku masih memilikimu. Dan itu sudah lebih dari cukup," bisiknya sambil berbalik dan mencium keningmu dalam-dalam.
Esok harinya, badai besar menghantam Lee Group. Heeseung menyerahkan laporan forensik yang didapatnya kepada pihak kepolisian. Mansion mewah itu mendadak penuh dengan sirine polisi.
Ibu tiri Heeseung berteriak histeris saat borgol melingkari pergelangan tangannya, sementara Jihoon hanya bisa terdiam dengan wajah datar saat diseret paksa masuk ke mobil tahanan. Mereka resmi didakwa atas pembunuhan berencana dan penghilangan barang bukti.
Namun, kejujuran Heeseung memiliki harga. Karena keterlibatan anggota keluarga dalam skandal kriminal, yayasan keluarga mendiang ibunya menuntut hak sesuai wasiat. Heeseung tidak melawan. Dia dengan tenang menandatangani penyerahan sebagian besar sahamnya kepada yayasan. Dia bukan lagi pemilik tunggal yang berkuasa mutlak, namun yayasan tetap menunjuknya sebagai pengelola profesional karena integritasnya.
Kondisi Ayah Heeseung adalah yang paling memprihatinkan. Pria tua itu dalam keadaan syok berat menyadari istri yang dicintainya adalah seorang pembunuh. Dia memutuskan untuk pensiun sepenuhnya dari dunia bisnis dan menghabiskan sisa harinya di sebuah panti jompo yang tenang, jauh dari sorot media, mencoba memaafkan diri sendiri atas kebutaannya selama ini.
Setelah guncangan hebat yang meruntuhkan pilar-pilar kekuasaan keluarga Lee, mansion yang dulunya terasa angkuh itu kini berubah menjadi sunyi. Heeseung benar-benar melepaskan gelar "Pewaris" yang selama ini membebani pundaknya demi sebuah ketenangan jiwa.
Beberapa minggu setelah penangkapan Jihoon dan ibunya, Heeseung mengajakmu mengunjungi ayahnya di panti jompo. Pria tua itu duduk di kursi roda, menatap taman bunga dengan pandangan yang masih tampak kosong.
"Ayah," panggil Heeseung lembut.
Tuan Lee menoleh, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang penuh dengan penyesalan. Dia meraih tangan Heeseung dan tanganmu, menyatukannya di atas pangkuannya. "Bawa dia pergi dari sini, Heeseung. Jangan biarkan racun kota ini menghancurkan kalian seperti dia menghancurkanku. Hiduplah untuk diri kalian sendiri, bukan untuk materi kekayaan."
Kata-kata itu menjadi restu terakhir yang kalian butuhkan. Heeseung memutuskan untuk meninggalkan hiruk-pikuk kota Seoul. Dia menyerahkan operasional harian perusahaan kepada dewan direksi pilihan yayasan, dan hanya bertindak sebagai pengawas dari jauh
══✿══╡°˖✧✿✧˖°╞══✿══
Hidup di Jeju berjalan dengan ritme yang jauh lebih tenang, seolah waktu sengaja melambat untuk memberi ruang bagi luka-luka lama kalian agar sembuh sepenuhnya. Heeseung tidak lagi menjadi CEO yang sombong—dia hanya sesekali terbang ke Seoul untuk menghadiri rapat dewan direksi yang krusial. Sisanya, dia adalah milikmu sepenuhnya di rumah tepi pantai di Jeju—sebuah bangunan modern minimalis yang kalian beli dengan sisa tabungan pribadinya, jauh dari jangkauan harta keluarga Lee.
Malam ini, suara deburan ombak Jeju yang menghantam karang menjadi musik latar yang menenangkan di kamar kalian. Heeseung baru saja menyelesaikan panggilan kerja terakhirnya dan menutup laptop. Matanya langsung tertuju padamu yang sedang berdiri di balkon, menghadap rembulan, hanya mengenakan kemeja putih miliknya yang kebesaran. Bahan tipis itu tersingkap ditiup angin laut, memperlihatkan jenjang kakimu yang mulus.
Heeseung berjalan mendekat tanpa suara. Dia melingkarkan lengannya di perutmu dari belakang, menarik punggungmu hingga bersandar rapat pada dadanya yang bidang dan hangat.
"Sedang memikirkan apa, Nyonya Lee?" bisiknya tepat di ceruk lehermu, memberikan kecupan-kecupan kecil yang menggelitik.
"Hanya memikirkan... bagaimana hidup kita berubah begitu cepat," jawabmu pelan sambil berbalik di dalam dekapannya. Kamu menatap matanya yang kini penuh dengan binar cinta dan proteksi, bukan lagi tatapan kedinginan yang dulu sempat membuatmu merasa asing.
Heeseung menyeringai nakal. Tatapan "lapar" yang dulu sering membuatmu merinding, kini justru membuat perutmu mulas karena gairah yang mendadak meledak. Dia menarikmu lebih dekat hingga tidak ada celah di antara kalian.
"Berhenti menatapku seperti itu, Heeseung. Kamu baru saja selesai bekerja," gumammu, mencoba menggoda meski tanganmu sudah mulai mengusap tengkuknya.
"Pekerjaan kantor memang selesai, tapi tugasku sebagai suamimu baru saja dimulai," balasnya dengan suara yang rendah dan berat.
Heeseung menunduk, menyatukan bibirnya dengan bibirmu dalam sebuah ciuman yang awalnya lembut namun dengan cepat berubah menjadi liar dan menuntut. Di sela ciuman yang memabukkan itu, tangan nakal Heeseung turun ke bawah, melewati batas kemeja putihnya dan langsung mendarat di bokongmu yang kenyal.
Dia sedikit terkejut, jemarinya meraba tekstur tipis yang menghalangi kulitmu. Dia melepaskan tautan bibir kalian sejenak, menatapmu dengan sorot mata menginterogasi yang penuh gairah.
"Hanya pakai celana dalam G-string ini, hm? Di balkon yang terbuka?" Heeseung meremas bokongmu dengan kuat, membuatmu memekik pelan. "Apa istriku sekarang sudah berubah jadi seberani ini?"
Kamu menyeringai, melingkarkan tanganmu di lehernya dengan tatapan menantang yang binal. "Memangnya kenapa? Bukankah ini rumahmu sendiri? Dan bukankah kamu suka kalau aku hanya memakai pakaianmu tanpa apa pun di baliknya?"
PLAK!
Heeseung menepuk bokongmu dengan cukup keras, suara tamparan itu beradu dengan suara ombak di luar. Kamu terkesiap, tubuhmu gemetar karena sensasi panas yang menjalar di area tersebut.
"Jangan mencoba memancingku jika kamu tidak siap untuk tidak bisa berjalan besok pagi, Y/n," geram Heeseung, kini menekan tubuhnya lebih keras ke arahmu hingga kamu bisa merasakan kejantanannya yang sudah menegang di balik celana santainya. "Sekarang, katakan padaku apa yang kamu inginkan. Katakan dengan jelas kalau kamu butuh aku."
Kamu menggigit bibir bawahmu, menatapnya dengan mata yang mulai sayu karena gairah yang memuncak. "Heeseung... tolong..."
"Tolong apa? Aku tidak dengar," godanya, tangannya kini mulai menyelinap ke dalam celana dalammu, bermain di area sensitifmu yang sudah mulai basah.
"Setubuhi aku, Heeseung... Aku mohon, take me right now," rengekmu, menyerah sepenuhnya pada dominasi laki-laki yang kini memegang kendali penuh atas tubuh dan jiwamu.
Heeseung tertawa rendah, sebuah tawa penuh kemenangan sebelum dia menggendongmu dengan kasar dan membantingmu ke atas ranjang, siap untuk menghabiskan malam yang panjang dan liar di bawah langit Jeju.
Heeseung merangkak naik, menindihmu dengan berat tubuhnya yang proporsional hingga punggungmu tenggelam ke dalam kasur empuk. Kamu bisa melihat dengan jelas bagaimana iris matanya telah berubah gelap, nyaris hitam pekat, memancarkan nafsu primitif yang tidak lagi ia sembunyikan. Napasnya yang panas menerpa wajahmu, membawa aroma maskulin yang memabukkan.
"Ulangi lagi, Y/n. Katakan padaku, kamu ingin aku melakukan apa padamu malam ini?" bisiknya, suaranya serak dan berbahaya, seolah ia ingin memastikan bahwa kamu sadar dengan permintaanmu.
Kamu mengangguk dengan semangat, tanganmu meremas sprei di bawahmu saat merasakan kejantanannya yang keras menekan panggulmu. "Aku ingin kamu menyetubuhiku, Heeseung... Aku sangat menginginkannya."
Heeseung menyeringai tipis, jemarinya mulai bermain di kancing paling atas kemeja putih yang kamu kenakan. "Mau disetubuhi seperti apa? Aku ingin dengar dari mulut nakalmu itu sendiri."
Kamu menelan ludah, menatapnya dengan tatapan binal yang mengundang. "Aku ingin kamu... memperlakukanku dengan kasar. Lecehkan aku seolah aku ini istri jalangmu, Heeseung. Lakukan apa pun yang kamu mau padaku."
Heeseung tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat dalam di tenggorokannya. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana asisten rumah tangga yang dulu pemalu dan sering mengomel ini bisa berubah menjadi wanita yang begitu menantang di atas ranjang. "Kamu benar-benar sudah rusak karena aku, hm? Baiklah kalau itu maumu."
Dengan tarikan kasar, Heeseung membuka kancing-kancing kemeja putih itu hingga terbuka lebar. Payudaramu yang bulat sempurna langsung terekspos di bawah cahaya lampu temaram. Ukurannya tampak jauh lebih berisi dan sensitif, sebuah efek nyata dari hobi Heeseung yang tidak pernah berhenti meremas dan memanjakan bagian itu setiap malam sejak kalian di Jeju.
"Lihat ini... mereka tampak sangat penuh dan tidak sabar," gumam Heeseung dengan suara cabul. Ia mengusap permukaan payudaramu dengan telapak tangannya yang kasar, merasakan detak jantungmu yang berpacu di baliknya. "Apa mereka membesar karena terus-menerus merindukan tanganku, Y/n?"
"I-iya... ahh!" kamu mendesah saat Heeseung mulai beraksi.
Ia tidak memberikan kelembutan. Heeseung mulai melecehkan payudaramu dengan cara yang liar—tangannya meremas gumpalan daging itu dengan kuat hingga jari-jarinya tenggelam di sana. Kamu merengek manja, antara sakit dan nikmat yang luar biasa. Tak berhenti di situ, Heeseung mengumpulkan ludahnya sendiri dan meludah tepat di atas putingmu yang sudah menegang keras, membuat area itu berkilauan basah.
"Sial, kamu sangat cantik saat memohon seperti ini," geramnya. Ia kemudian menjepit putingmu yang basah itu dengan ibu jari dan telunjuknya, memuntirnya dengan cukup kuat hingga tubuhmu melengkung ke atas.
"Heeseung! Sakit... ahh, tapi jangan berhenti... kumohon," rengekanmu semakin pecah, sementara Heeseung justru semakin bersemangat menikmati reaksi tubuhmu. Ia menunduk, melumat puting yang baru saja ia siksa itu dengan mulutnya, menghisapnya dengan suara berisik yang memenuhi keheningan kamar.
"Ini baru pemanasan, Sayang," bisiknya di sela-sela kegiatannya menghisap payudaramu. "Aku akan benar-benar membuatmu merasa dilecehkan sampai kamu tidak bisa mengeluarkan suara lagi besok pagi."
Heeseung tidak lagi menahan diri. Dalam sekejap, sisa pakaian yang melekat di tubuh kalian dilempar sembarangan ke lantai, membiarkan dua tubuh yang sudah sangat mengenal satu sama lain itu terpampang bugil total di bawah lampu temaram.
Heeseung membalikkan tubuhmu, menuntunmu ke posisi 69 yang memabukkan. Pandanganmu mengabur saat kejantanannya yang besar dan berdenyut berada tepat di depan wajahmu, sementara kepalanya sudah berada di antara kedua pahamu yang terbuka lebar.
Sensasinya sungguh gila. Kamu menghisap penisnya dengan rakus, merasakan ukurannya yang memenuhi rongga mulutmu, sementara di saat yang sama, lidah Heeseung bekerja dengan presisi yang mematikan di pusat kewanitaanmu. Dia menyedot klitorismu dengan kuat, menciptakan tekanan vakum yang membuat sekujur tubuhmu bergetar. Kamu tidak bisa diam; secara insting kamu melakukan grinding, menggosokkan area intimmu ke wajahnya, mencari gesekan yang lebih intens saat lidahnya semakin dalam menjelajah.
"Mmph... Heeseung..." desahanmu terus mengulum penisnya yang besar, sementara Heeseung menggeram rendah, tangannya meremas paha dalammu.
Gairah yang terlalu meledak itu membuat Heeseung kehilangan kesabaran. Dia menarik diri, napasnya memburu dengan mata yang benar-benar gelap. Kamu merangkak mendekat, membisikkan keinginan gila lainnya di telinganya. "Balkon, Heeseung... Aku ingin di luar."
Dia menyeringai kasar, menyukai ide gila itu. Heeseung membimbingmu keluar menuju balkon yang menghadap langsung ke laut. Begitu pintu geser terbuka, udara malam Jeju yang dingin langsung menusuk kulit telanjangmu, menciptakan sensasi kontras yang luar biasa dengan panas yang membakar di dalam tubuhmu.
Kamu berdiri membelakangi Heeseung, kedua tanganmu mencengkeram pagar balkon yang dingin. Heeseung berdiri tepat di belakangmu, memandangi pemandangan indah di depannya—bokongmu yang menungging menggoda.
PLAK!
Heeseung memberikan spank yang sangat keras di bokong kananmu, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di kulit putihmu. "Ini yang kamu mau, hm? Menjadi jalang kecilku?"
"Ahh! Iya... lebih keras, Heeseung," desahmu parau, sengaja menyodorkan pantatmu ke arahnya, menggoyangkannya dengan gerakan binal untuk memprovokasi nafsunya.
Heeseung menggeram, suaranya lebih keras dari deburan ombak di bawah sana. Dia mengumpulkan ludahnya, melumuri kejantanannya yang sudah sangat tegang sebelum memposisikannya di mulut kewanitaanmu yang sudah sangat basah dan berdenyut.
Tanpa aba-aba, dia melakukan penetrasi dalam sekali dorongan yang sangat mantap dan dalam.
"AKHHH! HEESEUNG!" Kamu memekik, suaramu pecah menyatu dengan angin malam saat dia mengisi vaginamu hingga penuh.
Heeseung tidak membiarkanmu bernapas. Dia meraih kedua tanganmu dari pagar balkon, menariknya ke belakang dan menguncinya dengan kuat di atas punggungmu, membuat dadamu membusung ke depan. Dia mulai menyetubuhimu dengan tempo yang brutal dan bertenaga. Setiap tumbukannya membuat tubuhmu tersentak-sentak ke depan, menyebabkan payudaramu yang menggantung bebas bergoyang dengan liar mengikuti irama gerakannya.
"Sial, sempit sekali... Kamu selalu terasa seperti perawan setiap kali aku masuk, Y/n," geram Heeseung di telingamu, suaranya sarat dengan nada cabul yang kental. "Katakan padaku, apa kamu suka diperlakukan seperti ini oleh suamimu sendiri?"
"I-iya... ahh! Aku suka... lebih dalam lagi, sayang... ahhh!" Kamu mendesah keras, tidak peduli jika suaramu terdengar hingga ke bibir pantai.
"Bagus. Teruslah mendesah keras-keras," bisiknya sebelum dia mempercepat genjotannya, membawamu semakin dekat ke ambang kehancuran yang paling nikmat.
Heeseung seolah tak mengenal kata lelah. Tubuhnya yang atletis terus menghujammu tanpa ampun, menciptakan suara peraduan kulit yang nyaring di tengah sunyinya malam Jeju. Udara dingin yang semula menusuk kini kalah telak oleh suhu tubuh Heeseung yang membara di punggungmu.
Tiba-tiba, ia melepaskan kuncian tanganmu di punggung. Dengan gerakan yang dominan, ia menuntun satu kakimu untuk naik dan bertumpu pada pagar balkon yang dingin. Posisi ini membuat kewanitaanmu terbuka jauh lebih lebar, memberikan akses yang lebih dalam dan frontal bagi kejantanannya. Heeseung mencengkeram pinggangmu dengan kedua tangannya, jari-jarinya menekan kuat ke dalam kulitmu seolah ingin meninggalkan tanda permanen di sana.
"Lihat dirimu, Y/n... Terbuka lebar hanya untukku," geram Heeseung, suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.
Ia mulai menyetubuhimu kembali, namun kali ini dengan presisi yang berbeda. Setiap hunjamannya terasa sangat pas, menabrak titik terdalam yang membuat seluruh saraf di tubuhmu seperti tersetrum listrik bertegangan tinggi. Rasanya sangat padat, panas, dan memenuhi setiap inci rongga di dalam sana. Kamu merasa seolah tubuhmu sedang dibelah, namun di saat yang sama, kamu merasa sangat utuh karena dialah yang mengisinya.
"Katakan, Sayang... Apa rasanya enak saat aku menekan sedalam ini? Apa vaginamu sudah cukup penuh dengan penisku?" bisik Heeseung sangat frontal, tidak lagi menyaring kata-katanya.
"Ahh! Heeseung... d-dalam... terlalu dalam... mmph!" Kamu tidak bisa lagi membentuk kalimat yang utuh.
Kepalamu mendongak ke belakang secara otomatis, menatap langit malam yang berputar-putar di matamu. Sensasi nikmat yang teramat sangat membuat matamu memutar ke belakang, memperlihatkan bagian putihnya saat kamu mencapai ambang overdrive sensorik. Secara emosional, ada rasa haru yang aneh menyeruak di tengah gairah ini. Kamu sadar bahwa pria yang dulu menjahilimu hingga menangis, kini adalah pria yang memberikan kenikmatan paling gila sekaligus perlindungan paling tulus.
Heeseung melihat wajahmu yang sudah kehilangan kesadaran karena kenikmatan, dan itu justru memicu egonya lebih tinggi. Ia mempercepat temponya, menggenjotmu dengan kekuatan penuh tanpa jeda sedikit pun.
"Sial, jepit aku terus, Sayang... Seperti itu. Sebentar lagi aku akan mengisimu sampai tumpah," raungnya, napasnya memburu di telingamu.
Setiap tumbukannya membuat tubuhmu tersentak hebat, payudaramu bergoyang liar, dan desahanmu kini berubah menjadi erangan panjang yang tidak terkendali. Kamu merasa seolah jiwamu sedang ditarik keluar dari tubuhmu, bersatu dengan deburan ombak dan napas memburu Heeseung di belakangmu.
Heeseung seolah bisa merasakan bahwa kamu sudah berada di titik akhir pertahananmu. Sebelum badai itu benar-benar pecah, ia menarik diri dengan kasar, menciptakan suara plop yang basah di antara selangkangan kalian. Kamu merintih kehilangan, tubuhmu lemas bersandar pada pagar balkon yang dingin.
"Belum, Sayang... Aku ingin melihat wajahmu saat aku mengisimu," geramnya.
Heeseung memutar tubuhmu dengan satu sentakan kuat hingga kini kamu bersandar membelakangi pagar balkon, menghadap langsung ke arahnya. Ia mengangkat kedua kakimu, melingkarkannya dengan erat di pinggangnya yang kokoh. Kamu terpaksa berpegangan pada bahunya yang lebar agar tidak terjatuh, sementara ia memegang bokongmu untuk menahan beban tubuhmu sepenuhnya.
"Tatap mataku, Y/n. Lihat siapa yang sedang memilikimu sekarang," perintahnya dengan suara parau yang mutlak.
Kamu menatapnya dengan mata sayu yang berair karena gairah yang sudah di ujung tanduk. Heeseung memposisikan kejantanannya yang sudah berkedut hebat di depan lubangmu yang sudah memerah dan sangat basah. Dengan satu dorongan brutal dan tanpa sisa, ia menghujam masuk kembali, membuatmu memekik keras.
"AHHH! HEESEUNG! EUNGHHH... TERLALU PENUH!"
Heeseung tidak memberimu waktu untuk bernapas. Ia mulai menggenjotmu dengan gaya menggendong ini, setiap tumbukannya terasa dua kali lipat lebih dalam karena gravitasi dan beban tubuhmu sendiri. Kamu bisa merasakan setiap denyutan miliknya di dalam vaginamu.
"Aku akan mengisimu sekarang, Y/n... Aku akan memberikan semua yang aku punya ke dalam rahimmu agar kamu tahu kamu benar-benar milikku!" raungnya, rahang wajahnya mengencang menahan puncak yang sudah di depan mata.
"I-iya... ahh! Masukkan semuanya... penuhi aku, Heeseung! Ahhh!"
Heeseung mempercepat gerakannya dengan tempo yang gila, menghujamkan setiap inchi miliknya dengan kekuatan penuh. Tubuh kalian beradu dengan ritme yang liar, keringat menyatu di tengah udara dingin malam. Kecepatan yang brutal itu membuatmu nyaris kehilangan kesadaran, dunia di sekitarmu seolah melebur hanya menjadi satu titik fokus: Heeseung.
"Aku keluar! Aku keluar, Y/n!!" Heeseung berteriak parau, suaranya pecah bersamaan dengan hentakan terakhir yang paling dalam.
"HEESEUNG!! AHHH!" Kamu menjeritkan namanya sekuat tenaga, tubuhmu melengkung hebat saat orgasme menghantammu seperti ombak besar yang menghancurkan karang.
"Y/N!! Arghhh!!" Heeseung membalas dengan meneriakkan namamu tepat di depan wajahmu, suaranya penuh dengan kepuasan yang absolut saat ia melepaskan pelepasannya yang panas dan kental ke dalam vaginamu dalam beberapa gelombang besar yang terasa sangat nyata.
Tubuh Heeseung menegang hebat, urat-urat di lehernya menonjol, sementara kamu sendiri terus menjeritkan namanya saat vaginamu menjepit miliknya dengan denyutan orgasme yang tak berujung. Kamu merasa seolah ada api yang menyiram bagian dalammu, membuat matamu kembali memutar ke belakang dalam kepuasan yang luar biasa.
Keheningan malam Jeju kembali hadir, hanya menyisakan suara napas kalian yang bersahutan dan uap panas yang keluar dari mulut kalian di tengah udara dingin. Heeseung tidak segera melepaskan tautan kalian—ia tetap menenggelamkan wajahnya di lehermu, memelukmu erat seolah takut kamu akan menghilang.
"Kamu milikku," bisiknya parau, masih dengan sisa gairah yang kental. "Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi rahasia. Hanya kamu dan aku."
Tiga tahun telah berlalu sejak badai besar yang meruntuhkan hegemoni keluarga Lee di Seoul. Kini, mansion yang dingin itu hanya tinggal kenangan buram. Kehidupan kalian telah sepenuhnya berpindah ke Jeju, di mana setiap paginya tidak lagi disambut dengan laporan bursa saham, melainkan suara tawa kecil yang memenuhi koridor rumah kalian yang hangat.
Matahari pagi Jeju masuk melalui celah gorden, menyinari Heeseung yang masih terlelap dengan posisi posesif yang tidak pernah berubah—tangan besarnya melingkar erat di pinggangmu, seolah memastikan kamu tidak akan pergi ke mana pun bahkan dalam mimpi sekalipun.
"Papa... Pa... bangun!"
Suara cempreng khas balita itu memecah kesunyian. Seorang anak laki-laki berusia dua tahun, yang memiliki mata bambi persis seperti Heeseung namun dengan senyum lembut sepertimu, merangkak naik ke atas kasur. Namanya adalah Lee Mino, buah cinta dari malam-malam panas kalian yang kini menjadi pusat semesta Heeseung.
Heeseung mengerang pelan, lalu perlahan membuka matanya. Begitu melihat wajah kecil yang sangat mirip dengannya itu, tatapan Heeseung langsung melunak. Ia melepaskan pelukannya darimu hanya untuk mengangkat Mino dan meletakkannya di atas dadanya.
"Jagoan Papa sudah bangun? Kenapa pagi sekali, hm?" bisik Heeseung dengan suara serak bangun tidur yang masih sangat seksi di telingamu.
Kamu ikut terbangun, tersenyum melihat pemandangan di depan matamu. Heeseung, yang dulu dikenal sebagai Tuan Muda yang sombong, kini adalah seorang ayah yang rela menjadi kuda-kudaan demi anaknya.
"Dia sepertinya lapar, Heeseung. Sama sepertimu," godamu sambil beranjak duduk, membiarkan kemeja tidurmu merosot sedikit di bahu.
Tatapan Heeseung langsung beralih padamu. Meski sudah menjadi seorang ayah, tatapan "lapar" itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia melirik bahu terbuka milikmu, lalu tersenyum nakal. "Mino mungkin lapar makanan, tapi Papanya lapar yang lain, Nyonya Lee."
"Heeseung! Ada Mino!" kamu memprotes sambil tertawa saat Heeseung menarikmu kembali ke dalam pelukannya, membuat kalian bertiga berbaring di atas kasur empuk itu.
Sore harinya, kalian berjalan-jalan di tepi pantai. Heeseung menggandeng tangan kecil Mino yang sedang berusaha mengejar ombak kecil di pasir, sementara tangan satunya merangkul bahumu dengan protektif.
Keadaan di Seoul sudah jauh lebih tenang. Ibu tiri dan Jihoon masih menjalani masa hukuman mereka, sementara ayah Heeseung sesekali mengirimkan surat dari panti jompo, menyatakan betapa bangganya ia pada Heeseung yang berhasil membangun kebahagiaannya sendiri tanpa bayang-bayang harta. Heeseung tetap menjalankan peran sebagai pengawas yayasan dari jauh, namun fokus utamanya tetaplah keluarga kecilnya.
Heeseung tiba-tiba berhenti melangkah, menatap laut lepas yang membiru sebelum beralih menatapmu. Ia menarikmu mendekat, mencium keningmu lama sekali.
"Terima kasih, Y/n," bisiknya tulus.
"Untuk apa?"
"Untuk tetap tinggal. Untuk tidak menyerah padaku saat aku masih menjadi 'monster' di kota. Dan untuk memberiku keluarga yang sesungguhnya," ucapnya dengan nada emosional yang dalam.
Kamu tersenyum, menyandarkan kepalamu di bahunya yang lebar. "Kita sudah melewati garis selotip itu, Heeseung. Dan aku tidak pernah menyesal telah melanggarnya."
Heeseung menyeringai, ia membungkuk sedikit dan membisikkan sesuatu yang sangat frontal di telingamu, membuat wajahmu merona hebat di tengah semilir angin pantai. "Nanti malam, setelah Mino tidur... aku ingin mencoba gaya baru yang aku pelajari dari video yang aku temukan kemarin. Bersiaplah, karena aku tidak akan melepaskanmu sampai subuh."
Kamu mencubit pinggangnya gemas, namun dalam hati kamu tahu bahwa malam ini—dan malam-malam seterusnya—akan selalu menjadi perayaan cinta yang liar dan tanpa batas bagi kalian berdua.
Kisah yang dimulai dari sebuah kontrak prenup yang dingin, kini telah terbakar menjadi abu, menyisakan cinta abadi yang tumbuh subur di tanah Jeju yang hangat.





Komentar
Posting Komentar