[Jake] Gundik di Benteng Vastenburg

 

「 ✦ NSFW Scene ✦ 」

Ia menunggu sejenak, tatapannya mengunci matamu, seolah meminta persetujuan. Kamu mengangguk perlahan, tubuhmu sedikit mundur memberi ruang. Jemari Jake yang besar dan berurat terangkat ke ikatan jarik di dadamu. Gerakannya hati-hati, hampir seperti sedang membuka hadiah yang paling ia tunggu. 

Begitu simpul kain terlepas, jarik itu melorot perlahan, membuka rahasia yang selama ini hanya kamu simpan untuk dirimu sendiri. Payudaramu kini terpampang jelas di depan tatapannya—penuh, montok, kulitnya halus, putingnya mengeras oleh udara malam dan ketegangan yang membalut kalian. 

Jake mengembuskan napas panjang, matanya menyapu bentukmu dengan kekaguman terbuka. "Indah sekali..." suaranya serak. "Payudara yang sempurna... milikku." 

Kamu mendesah pelan ketika tangannya menangkup penuh dadamu, jemarinya hangat, menekan lembut namun mantap. Sensasi itu mengalir cepat ke seluruh tubuhmu, membuat lututmu nyaris lemas. "Jake..." namanya lolos dari bibirmu, separuh sebagai keluhan, separuh sebagai pengakuan betapa sentuhannya telah menguasai dirimu. 

Dengan gerakan santai namun penuh kuasa, Jake menarik jarik yang sudah melorot dari tubuhmu, melemparkannya ke lantai tanpa peduli di mana jatuhnya. Kini kamu sepenuhnya telanjang di pangkuannya, kulitmu bersentuhan langsung dengan kain celananya. Sensasi itu membuat darahmu berdesir cepat. 

Tak memberi waktu untuk bernapas, Jake membopongmu ala bridal style, tubuhmu terasa ringan dalam pelukannya. Ia membaringkanmu di atas ranjang dengan hati-hati, seolah menata sesuatu yang rapuh. Kacamata yang masih bertengger di hidungnya ia lepaskan dan taruh di nakas, sebelum tubuhnya menindihmu, memenuhi ruang pandangmu hanya dengan sosoknya. 

Ciuman kembali jatuh di bibirmu, lebih dalam, lebih panas. Lidahnya menuntut, menyapu dan menekan, mencari irama yang membuat napas kalian berdua terputus-putus. Kamu membalasnya tanpa ragu, melingkarkan kedua tangan di lehernya, menariknya lebih dekat, menahan setiap inci tubuhnya agar tak menjauh. 

Bibir kalian saling mendesak, perang lidah terjadi—basah, panas, dan mendesak. Di tengah ciuman itu, Jake membiarkan tangannya meluncur turun, menyusuri lekuk pinggangmu hingga tiba di antara kedua kakimu yang kini sudah terbuka lebar untuknya. Jemarinya menyentuh lembut rambut kemaluanmu, membelainya dengan gerakan yang membuatmu mendesah di sela ciuman. 

"Kau sudah basah bahkan sebelum aku menyentuhmu," bisiknya di sela napas yang berat. 

Kamu tersenyum tipis, masih terengah. "Mungkin... Tuan terlalu memikat untuk ditahan." 

Jake melepaskan satu per satu pakaiannya, setiap gerakan perlahan seperti pameran kuasa yang tak terbantahkan. Kain demi kain jatuh ke lantai, hingga akhirnya tak ada sehelai pun yang menutupi tubuhnya. Kamu menggigit bibir bawah, menahan napas melihat lekuk tubuhnya yang sempurna—dada bidang yang berotot, perutnya rata dengan garis otot yang jelas, dan di antara pangkal paha, kejantanannya telah mengeras, kokoh dan besar, dikelilingi rambut kemaluan yang cukup lebat. 

Tatapanmu naik kembali ke matanya, penuh rasa ingin tahu dan sedikit nakal. "Tuan... bagaimana kalau malam ini aku yang membuatmu kehilangan kendali?" suaramu rendah, menggoda. 

Jake mengangkat alis, senyuman tipis terukir di bibirnya. "Berani sekali kau, hmm?" Ia menindihmu, tubuh telanjangnya memancarkan panas yang mengancam membakar jarak di antara kalian. 

Bibir kalian kembali bertemu, kali ini terburu-buru, penuh nafsu yang tak lagi berusaha disembunyikan. Nafas bercampur, lidah saling mengejar, dan genggaman tangan kalian semakin erat di sisi kepalamu. Jake bergerak turun, bibirnya meninggalkan jejak basah di sepanjang rahangmu, lalu mendarat di leher. Ia menjilat pelan, menggoda kulitmu sebelum menggigit lembut titik sensitif yang membuatmu melolongkan desahan tanpa sadar. 

"Ahhh Jake!" 

"Mmhh... di sini, ya?" suaranya terdengar berat dan puas, merasakan tubuhmu bergetar di bawahnya. 

Tangan besar itu tak tinggal diam—jemarinya menyusup di antara kedua pahamu, membelai lembut bibir vaginamu yang sudah basah. Ia memainkan klitoris dengan gerakan melingkar, memeras lebih banyak desahan dari bibirmu. 

"Kau meleleh hanya dengan sentuhan ini... manis sekali," bisiknya, matanya mengunci milikmu. 

"Jake... ahh..." suaramu terputus oleh helaan nafas berat, tubuhmu melengkung, membalas stimulasi itu dengan desahan manja yang tak bisa kamu bendung. 

Jake mendekatkan bibirnya ke telingamu, berbisik rendah, "Kau sudah siap untuk aku setubuhi malam ini?" Nafasnya panas di kulitmu. Tanpa pikir panjang, sudah terlalu horni, kamu mengangguk cepat dan membuka lebih lebar kakimu, menantangnya. 

Jake memposisikan tubuhnya, tegak berlutut di antara kakimu, mengangkat kakimu dan menaruhnya di atas pahanya. Jemari besar itu menuntun kejantanannya ke bibir vaginamu. Ujungnya menyentuh, memberi tekanan perlahan hingga kepala batangnya mulai menyibakmu. 

Kamu mengerang tertahan, rasa perih menusuk saat batang tebal itu mulai merenggangkanmu. Air mata menggenang di sudut matamu, isakan kecil lolos di sela napas. 

"Ahh.. sakit...." 

"Sshh... rileks, manis... biarkan aku masuk perlahan," Jake menenangkan, jemarinya mengelus pipimu. 

Ia mendorong sedikit demi sedikit, menahan diri meski rahangnya mengeras menahan nafsu, hingga akhirnya seluruh panjangnya masuk sepenuhnya ke dalammu. Tubuhmu bergetar, Jake memelukmu erat. Ia mencium bibirmu lembut, membiarkan rasa hangat dan manis itu mengalihkan rasa sakit yang masih tersisa di tubuhmu. 

Usai kehabisan udara, Jake menarik diri dan menyunggingkan senyuman hangat. Jemari besarnya menyusuri helai rambutmu, menelusuri pipimu pelan, seolah menenangkan badai di dadamu. Tatapan matanya teduh, tapi menyimpan bara. 

“Y/n… sudah siap untukku?” bisiknya, suaranya dalam dan menyelimuti telingamu seperti bisikan rahasia. 

Kamu menelan ludah, lalu mengangguk. “I… iya, Tuan…” suaramu lirih, penuh debar. 

Jake menegakkan tubuhnya kembali. Tangannya memegang pinggangmu, lalu perlahan menarik dan mendorong lebih dalam lagi. Setiap gerakan terasa mantap, penuh kendali, membuatmu meringis sekaligus mengeluarkan desahan tak tertahan. 

“Kau nikmat sekali, Y/n… membuatku gila” bisik Jake. 

Kamu menggigit bibir bawahmu, menahan rintihan yang akhirnya pecah. “Ah… Jake… dalam sekali…” 

Jake tersenyum tipis, dorongannya tetap teratur tapi semakin menekan titik dalammu. “Tatap aku… aku ingin lihat wajah indahmu saat aku menyetubuhimu…” 

Kamu menurut, menatapnya di tengah napas terengah, merasakan setiap bisikan dan dorongan membuat tubuhmu semakin larut dalam gairahnya. 

Jake mulai mempercepat dorongannya, napasnya berat, setiap tarikan dan hentakan membuat udara di ruangan terasa makin panas. Peluh mengalir di pelipisnya, jatuh di kulitmu yang ikut basah oleh keringat. Suara desahanmu berpadu dengan dentingan napasnya, memenuhi seluruh ruangan, diselingi bunyi benturan kulit yang licin dan berirama. 

Tangannya meremas pinggangmu lebih erat, seolah ingin menahanmu di tempat agar seluruh panjangnya merenggutmu tanpa ampun. "Rasakan aku sepenuhnya… jangan tahan suaramu," suaranya berat, nyaris seperti geraman. 

Kamu memejamkan mata, tubuhmu berguncang mengikuti irama. "Ahhh… Jake… ya Tuhan… ahhh!" jeritmu, nadanya pecah di setiap hentakan yang menghantam titik terdalammu. 

Plak… plak… plak… 

Suara benturan kulit beradu bercampur derit ranjang yang bergoyang hebat, membuatmu makin tak bisa menahan jeritan. "Ohhh… lebih… lebih dalam lagi…" suaramu bergetar, napas terpotong-potong di sela rintihan panjang. 

Setiap dorongan disertai kata-kata memabukkan. “Cantik… panas… begitu pas untukku,” bisik Jake saat melihat bagaimana kamu mengalunkan suara paling merdu, payudaramu bergerak liar mengikuti ritme Jake. Kamu merasa wajahmu memanas, antara malu dan terangsang. Pujian itu membakar semangatmu. 

Jake menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telingamu saat ia berbisik, "Aku akan membuatmu mengingat malam ini selamanya," lalu kembali menghentakkan pinggulnya, membuat ranjang berderit makin keras dan tubuhmu melengkung tanpa kendali. 

Namun kemudian, Jake menahan tubuhnya sejenak, membuatmu menatap bingung dan tanpa sadar bertanya lirih, “Kenapa berhenti…?” 

Alih-alih menjawab panjang, Jake menarik diri perlahan, lalu duduk bersandar di sandaran ranjang. Tangannya meraih tanganmu, menarikmu mendekat dan memposisikanmu duduk di pangkuannya. “Kendalikan aku malam ini,” ucapnya dengan senyum menantang, tatapan matanya menusuk namun penuh gairah. 

Jantungmu berdegup cepat, gugup bercampur penasaran. Kamu mengangkat pinggul, mengangkang di atasnya, lalu dengan hati-hati menuntun batangnya yang tebal masuk ke dalam vaginamu. Saat ujungnya menyentuh dalam, kamu menekan pinggul hingga seluruh panjangnya tenggelam. Desahan serempak keluar dari bibir kalian. 

Kamu mulai bergerak, maju mundur di atasnya. Awalnya kaku, tapi perlahan nalurimu mengambil alih. Setiap gesekan membuatmu merinding, dan rasa kendali baru itu membuatmu semakin berani. Jake, yang duduk di bawahmu, meremas pinggangmu, mengatur sedikit ritmemu sambil berbisik di telingamu, “Bagus… seperti itu… aku suka melihatmu di atas.” 

Udara di kamar makin panas, tubuh kalian basah oleh peluh. Suara desahan kalian saling bertindih, menggema di ruang kamar itu. Kamu mulai memantul lebih cepat di atasnya, hingga tubuhmu bergetar hebat. “Ahhh… Jake… yaaa… enak sekali” teriakmu, suaramu pecah di ujung. 

Jake merunduk, mulutnya menangkap salah satu payudaramu, mengisapnya dengan rakus sementara payudaramu lain bergerak liar mengikuti hentakanmu. Tangannya yang besar menangkup bokongmu, membantumu bergerak lebih liar lagi, menuntunmu menuju puncak yang sudah tak terelakkan. 

Gelombang panas di perut bawahmu membesar, menegangkan setiap serat tubuh. 

"Ahh Jake..." teriakanmu pecah, dan tepat saat itu Jake menggeram sambil menghentak lebih dalam, lebih keras. Erangan panjang dari bibirmu. 

Vaginamu menegang, menjepit batangnya yang berdenyut hebat; kamu merasakan semburan panasnya memenuhi kedalamanmu, bercampur dengan ledakan basahmu sendiri. Kalian sama-sama menegang, tubuh membeku sejenak di puncak itu, sebelum sama-sama merosot lemas. 

Kamu ambruk di dadanya, mendengar detak jantungnya berpacu cepat seperti milikmu. Nafas kalian memburu, kulit kalian basah oleh keringat yang berkilat di bawah cahaya minyak. 

Jake mengelus punggungmu, bibirnya menyentuh keningmu sambil berbisik memuji, suaranya serak tapi penuh hangat. "Kamu membuatku gila malam ini, Y/n." katanya sambil menatap matamu, jemarinya menyapu lembut sepanjang tulang belakangmu. Ia menarikmu lebih dekat, membiarkan dadanya menjadi bantal hangat, dan nyaman. 

"Aku tak pernah merasakan sesuatu seintens ini... kamu luar biasa." 

Kamu tersenyum mendengar suara berat nan serak itu, setiap katanya menetes lembut di telingamu. Matamu perlahan terpejam, tubuhmu menyerah pada kehangatan. Wajahmu tenggelam di ceruk leher Jake yang basah oleh keringat, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang bercampur antara panas dan samar wangi kayu dari kamarnya. Pelukanmu mengerat, seolah takut ia melepaskanmu. 

"Kau juga luar biasa, Tuan. Aku mengira kau pria dingin yang suka kasar di ranjang," ucapmu lirih tapi jujur. 

Jake terkekeh, dada bidangnya bergetar di bawamu "Kalau aku benar-benar dingin, kau pasti sudah menggigil sekarang... tapi lihat dirimu—kau malah meleleh di pelukanku." Jemarinya menggambar pola tak beraturan di sepanjang punggungmu. 

"Meleleh? Lebih seperti... terbakar," balasmu sambil tersenyum nakal, membuatnya mendekatkan bibir ke telingamu. 

"Kalau begitu, biar aku yang menjaga apinya tetap hangat," katanya, mencium sudut rahangmu. "Tapi hati-hati, aku suka menyalakan api di waktu-waktu yang tak terduga." 

Kamu tertawa kecil, mencubit ringan pinggangnya. "Kau bicara seperti pedagang rempah yang sedang menggoda pembeli." 

"Dan kau," balasnya cepat, "adalah pembeli paling cantik yang tak bisa berhenti datang ke tokoku." Ia mencium keningmu, lalu menatapmu lekat. "Jangan pergi kemana-mana malam ini. Aku belum selesai membuatmu merasa luar biasa." 

Kalian berdua tertawa sejenak, mengisi suasana makin menghangat. Setelah suara tawa memudar, kalian menatap satu sama lain sejenak. 

Jake menatapmu lama, lalu dengan nada pelan namun serius ia bertanya, "Kalau suatu saat kau akan dinikahkan… bagaimana?" Kata-kata itu menghantam benakmu, membuatmu terkejut. Seketika kamu mengangkat kepalamu, menatapnya tak percaya. 

Ada keraguan yang menggelayut di hatimu—posisimu sebagai wanita pribumi selalu menjadi batas yang tak terucap. Jake yang mengerti kegamangan itu hanya tersenyum hangat, jemarinya menggeser anak rambut dari wajahmu, menyelipkannya rapi di belakang telingamu. 

"Aku sudah jatuh cinta padamu," ucapnya mantap. "Aku akan menulis surat pada orang tuaku di Belanda, meminta restu mereka. Dan lagipula…" Ia menatap matamu lebih dalam, suaranya merendah, nyaris berbisik, "Aku sudah menanamkan benih di dalam dirimu. Kau akan mengandung anakku. Dan aku akan bertanggung jawab." 

Tatapan itu—penuh kejujuran, ketulusan, dan sedikit getir—membuat air matamu pecah. Isak kecil lolos dari bibirmu. "Terima kasih…" suaramu bergetar, namun mengandung keyakinan baru. Hati Jake menghangat, ia menarikmu ke pelukannya, mengerat seolah tak ingin melepaskan. Ia mengecup bibirmu dengan lembut, ciuman yang tak hanya berbicara tentang gairah, tapi janji dan masa depan. 

Malam itu, statusmu berubah. Bukan lagi sekadar gundik seperti yang dulu ia niatkan, tapi istri sah yang akan menemaninya hingga akhir hayat.

「 ✦ End✦ 」

Komentar

Postingan Populer