[Jake] Stepfather

 


「 ✦ NSFW Scene ✦ 」

Seperti sekarang, matahari siang nyaris membakar kaca jendela besar ruang keluarga. Rumah dua lantai bergaya modern tropis itu terlihat sepi. AC sengaja aku matikan, biar hawa panasnya makin terasa—biar keringat ini bisa netes, nempel di kulit, di sela-sela tubuh yang menempel, beradu, saling hisap. 

Mama lagi keluar kota, katanya mau nginep dua hari bareng temen-temennya. Reuni kecil, nostalgia bareng sahabat-sahabat lamanya yang dulu pernah tinggal di sini, Australia. Dan itu artinya... rumah ini cuma milik kami berdua. Aku dan dia. Papa tiriku. Ya..ada mbak ART sih tapi di lantai satu. 

Aku udah nggak mikirin apa itu salah atau nggak. Yang aku tahu, sekarang tubuhku udah telanjang. Bajuku udah kebuang entah ke mana. Bra dan celana dalamku udah sejak tadi digeret, dijambak dari tubuhku dan dilempar sembarangan ke lantai. Keringatku mulai ngebentuk jalur kecil dari leher sampai dada. Kulitku lembap, lengket, hangat. 

Dan dia... Papa Jake, duduk santai di sofa besar, torso telanjangnya bersandar di sandaran empuk, napasnya berat, mata hazelnya tajam dan lapar ngeliatin tiap inci dari tubuhku. Dia juga udah telanjang. Cuma sisa keringat dan aroma sabun yang tadi pagi dia pakai. 

Aku duduk di pangkuannya, ngebuka kedua pahaku lebar-lebar.  Posisi dudukku ngangkangin dia sambil gigit bibir bawahku. Tapi yang paling gila... 

Kepala papa lagi nempel di dadaku. Lebih tepatnya, bibir dan lidahnya lagi sibuk main di putingku. Susuku yang berat dan bengkak karena ASI, sekarang lagi dikenyot rakus kayak bayi kelaparan. Tapi ini bukan bayi. Ini pria dewasa. Ini papa tiriku. 

"Ahhh... yesshh... disitu, Pa... kenyot lagi..." 

Aku nggak tahan, desahanku keluar, sedikit serak karena terlalu lama nahan. Tangan kiriku remes lembut rambut papa, narik pelan tapi penuh makna. Tangan satunya neken kepalanya makin deket, mendorong wajahnya supaya tenggelam di belahan susuku. 

Aku bisa ngerasain nyedotnya makin kuat. Lidahnya muter-muter di aerola, bibirnya nyedot putingku sampe bunyi-bunyi basah yang nggak sopan, tapi bikin aku makin menggeliat. Cairan hangat dari putingku yang satunya juga ikut ngucur terus, mungkin karena gairah yang gila ini. ASI-nya ngalir masuk ke mulut papa, dan dia nikmatin setiap tetesnya, kayak candu. 

Aku gigit bibir bawahku lebih keras. Mataku sayu, ngeliat dia dari atas. 

Dia tatap balik aku, dan tanpa lepas dari putingku, dia mendesah pelan, berat, puas. 

"Rasanya... manis banget, Y/n... kamu bikin Papa nagih." 

Dan aku... cuma bisa tersenyum kecil, gila, basah, dan rela. 

Papa Jake mendongak dari dadaku dengan senyum nakal masih menempel di wajahnya. Terus papa liat payudara kiriku yang belum kejamah, masih netesin susu. "Kasihan deh ini satu," celetuknya sambil menunjuk ke arah puting kiriku. "Netes terus gara-gara dianggurin." 

Aku tertawa kecil, menepuk pundaknya pelan. Tapi sebelum aku sempat membalas lelucon itu, dia sudah memiringkan kepalanya dan langsung menyambar puting kiriku dengan mulutnya yang panas. Desahanku pecah, spontan, saat lidahnya mulai berputar pelan tapi pasti. Sensasinya seperti aliran listrik kecil yang menyebar ke seluruh tubuhku. 

"Ahh... Papa..." bisikku, leherku melengkung ke belakang tanpa sadar. Tangannya yang besar masih menggenggam pinggulku, tapi kini mulai bergerak. Jemarinya menelusuri lekuk pinggang, lalu turun ke bokongku dan—PLAK!—dia menamparnya dengan keras tapi pas. 

Aku terlonjak. Kaget. Sakit sedikit. Tapi... aku juga menikmatinya. Nafasku memburu. Rasanya seperti dicambuk dengan nikmat yang tak terduga. 

Belum sempat aku mengatur ulang napas, dia menarik diri dari dadaku, menatapku dengan pandangan serius tapi main-main. 

"Sekarang, papa mau kamu nungging di kasur." 

Tanpa ragu, tubuhku langsung bergerak mengikuti perintah itu, seolah refleks. Aku beralih naik ke atas ranjang, mulai berposisi nungging, dan aku membuka kaki lebih lebar, menyuguhkan pemandangan basah yang sudah mengilap di antara selangkanganku. Udara disini nyentuh kulit basahku dan membuatku makin gila. 

Aku bisa merasakan keberadaan papa, hawa tubuhnya, panasnya yang menyelimuti punggungku bahkan sebelum dia menyentuhku. Lalu— 

"Ahhhhh!" 

Aku terkesiap keras. Lidah panasnya tiba-tiba menempel di bagian paling sensitifku, menyapu pelan tapi bertenaga. Sentuhannya begitu tiba-tiba, begitu intens, membuat kakiku gemetaran dan tubuhku melengkung spontan. Suaraku pecah tanpa bisa kutahan, dan aku merasakan sekujur tubuhku langsung dilahap gelombang sensasi tak tertahankan. 

Papa gak berhenti. Ia terus jelajahi aku dengan penuh kelaparan dan kekuasaan, lidahnya menari, menjilat setiap inci kewanitaanku yang udah basah banget. Nafasnya menghangatkan kulitku, menggoda setiap pori yang terbuka. 

Aku mencengkeram seprai lebih kuat, tubuhku bergetar, dan aku tahu... ini baru awalnya saja. 

Suara lembab dan menjijikkan itu memenuhi ruangan—bunyinya seperti ciuman panas yang gak pernah berakhir, berulang-ulang, makin liar, makin dalam, makin becek. Lidah Papa Jake terus menyapu, menjilat, mengisap bagian paling sensitifku seperti haus yang tak bisa dipuaskan. Kadang ia menekan, kadang ia menggerakkan lidahnya cepat, lalu melambat, menyiksa dan menggoda. Tiap sentuhan lidahnya muncul sengatan ke tulang belakangku, membuat seluruh tubuhku menegang dan gemetar tak terkendali. 

Nafasku mulai tersengal. Kakiku goyah, hampir tak sanggup menopang tubuhku sendiri. Seprai tergenggam erat di jemariku, basah oleh keringat dan air yang gak bisa kubendung. 

Suara dari bawah tubuhku semakin keras, tak bisa disembunyikan lagi—slurp slurp- membentuk irama liar dari hasrat dan kehilangan kendali. Aku enggak bisa lagi menahan suaraku. 

"Ah... papa!" 

Bokongku makin tinggi, punggungku melengkung tajam, dan aku bisa merasakan segalanya menegang dalam pusaran liar yang gak bisa dihentikan. Detik berikutnya— 

"AHHHH JAKE!!" 

Aku berteriak keras saat pelepasan itu datang. Kakiku gemetar hebat, sementara di belakangku, Papa masih mencicipi setiap tetes yang kuberikan, tanpa henti, seolah menegukku habis. 

Tubuhku ambruk di atas ranjang, seluruh otot terasa lemas dan gemetar setelah semburan liar tadi, cairan membasahi hangat di antara pahaku, membasahi seprai yang sudah kusut. Aku berbaring terlentang, kaki terentang lemas, tangan terbuka di samping tubuh—tapi kedamaian itu gak bertahan lama. 

Papa memandangi tubuhku yang tergeletak basah dan bergetar. Matanya tak bisa menyembunyikan nafsunya yang belum selesai. Napasnya berat, dan saat ia bicara, nadanya terdengar dalam, parau, haus. 

"Papa udah gak kuat lagi... Papa mau langsung nyodokin kamu." 

Aku mendongak, mataku masih sayu, dan sebelum sempat berkata apa pun, dia sudah bergerak cepat. Tubuhnya menindihku, beratnya menekan tubuhku yang masih lemah. Dalam sekejap, posisi kami berubah: aku terlentang di bawahnya, dan Papa ada di atasku, gaya misionaris klasik yang membuat tubuhku terperangkap sepenuhnya. 

Aku terkejut saat merasakan kepala penisnya menekan tepat ke bukaan kecilku yang masih berdenyut—dan lalu, tanpa peringatan, dia menghentakkan masuk dalam satu gerakan penuh. 

"Ahhhhh!" aku menjerit kecil, tubuhku menegang, mata membelalak. 

Lubangku terasa sangat renggang, terisi penuh oleh batang panasnya yang jauh lebih besar dari bayanganku. Rasa sesak dan nyeri tipis itu bercampur dengan sensasi nikmat yang menggila, membuat kepalaku ringan dan pandanganku buram. Saking penuhnya, rasanya seperti tubuhku dipaksa menyesuaikan, membuka selebar-lebarnya. 

Dia menatapku, lalu dengan nada rendah dan kasar, mendesah di telingaku, "Desahin nama papa sepuasnya." 

Aku mengangguk cepat, tanpa pikir, hanya bisa menurut, tenggelam dalam gelombang sensasi. 

Dan mulai dari sana, dia mulai menghajarku tanpa ampun—ritmenya brutal tapi presisi, seperti dia tahu persis di mana titik-titik di dalamku yang bisa meledakkan diriku lagi dan lagi. Tiap tusukan terasa tepat sasaran, membuatku mendesah tak terkendali. Suara kulit kami beradu keras, ranjang berderit tak berhenti. 

Tak hanya itu—di tengah dorongannya yang gila, kepala Papa membenam ke dadaku. Bibirnya langsung menangkap puting kiriku yang ngeluarin susu karena saking horninya aku, mengisapnya dengan rakus, tanpa berhenti, seolah dia kecanduan. 

"Jake... ahhh enak bangett..." desahanku keluar berulang, tepat seperti yang dia perintahkan, dan setiap suara itu membuat dorongannya makin keras, makin dalam, makin dalam lagi. 

Tubuhku bergetar lagi, tahu kalau aku belum selesai... dan Papa Jake juga belum berniat mengakhiri malam ini. 

Tubuhku masih digempur tanpa jeda, setiap gerakan pinggul Papa masuk dan keluar dengan stamina yang tak kunjung mereda. Suara basah dan benturan daging gak berhenti menggema, dan ranjang terus bergoyang, berderit seakan bisa runtuh kapan saja. Aku sudah kehilangan kendali atas tubuhku sendiri—mata mulai agak ke belakang, lidahku menjulur keluar tanpa sadar, dan napasku hanya bisa tersendat-sendat. 

Papa Jake menegakkan tubuhnya di atas, tangan menekan sisi pinggangku saat dia terus menancapkan dirinya, dan ketika dia melihat ekspresi wajahku yang benar-benar kehilangan malu, dia menyeringai puas. 

"Ketagihan ya sama kontol Papa, hmm?" katanya cabul sambil tertawa kecil, napasnya kasar, penuh gairah. 

Aku hanya bisa mengangguk lemah, tubuhku bergetar. Dan dia belum berhenti—matanya turun menatap dadaku yang besar, yang sejak tadi terus meneteskan susu karena rangsangan dan hormon yang meluap-luap. Cairan putih itu membasahi area payudaraku, dan Papa langsung meraihnya dengan kedua tangannya. 

"Susu kamu... ngocor terus. Nenen segede ini... kayaknya minta diperah." 

Tanpa belas kasihan, dia meremas dadaku dengan keras. Cairan putih menyembur keluar dari putingku, membasahi telapak tangannya, dan dia menunduk sebentar untuk menjilat sebagian cairan itu, sebelum kembali menghujam tubuhku tanpa ampun. 

Aku menggeliat di bawahnya, kewalahan oleh irama yang semakin brutal. Setiap hentakan makin dalam, makin cepat, hingga tubuhku terpental ke belakang tiap kali dia mendorong. Suara kulit kami beradu keras, aroma keringat dan seks memenuhi udara, membuat kepala makin ringan. 

Dan akhirnya— 

"AHHHH JAKE!!!" jeritku meledak, tak tertahan, tubuhku melengkung tinggi. 

"AHHH FUCK Y/N!" teriak Papa Jake tepat di atas tubuhku. 

Aku merasakan aliran panas yang tiba-tiba mengisi bagian terdalamku. Tubuhnya menekan kuat, batangnya tertanam penuh, dan cairan kental itu menyembur langsung ke rahimku, banyak, deras, panas. Perutku terasa menghangat, seolah benar-benar dipenuhi dari dalam. 

Beberapa detik kemudian, saat napasnya mulai reda, Papa Jake perlahan menarik diri dari dalamku. Aku bisa merasakan cairannya menetes keluar, mengalir pelan dari lubangku yang terbuka dan berdenyut. Dia menatapnya puas, lalu mendekat dan berkata rendah, bangga dan bernafsu, 

"Liat tuh... papa bener-bener breeding kamu sampe creampie gitu... lubang kecilmu tumpah gara-gara papa." 

Cairan putih itu jadi menggenang di seprai, ninggalin jejak bukti dari kebuasan yang baru saja terjadi. Dan tubuhku, masih bergetar, belum sepenuhnya pulih dari gelombang kenikmatan yang menghancurkan. 

Aku cuma bisa mandangin Papa Jake lemas, nafasku masih berat, dada naik-turun kayak abis lari jauh. Badanku udah kayak jelly—bener-bener lemes, gak ada tenaga sama sekali. Tapi mulutku masih bisa nyeletuk sambil senyum kecil, iseng aja meski nadaku setengah ngos-ngosan. 

"Gila, pa... ngentotnya jago banget. Kontol gede papa tuh... bikin aku makin nagih..." 

Aku liat reaksi Papa Jake, dia langsung ketawa lepas—ketawa puas, bangga, kayak dia baru menang pertarungan dan dapet trofi hidup. Suaranya renyah, dan matanya masih berbinar dengan sisa-sisa nafsu yang belum sepenuhnya reda. 

Dia gak ngomong apa-apa dulu, cuma ngeraih bed cover, terus dibentangin dan ditarik buat nutupin tubuh bugil kita berdua. Suasana jadi sedikit lebih hangat, lebih intim. Badannya nempel ke aku, lengannya melingkar di pinggangku, dan kita langsung masuk mode cuddle kayak pasangan yang udah lama bareng. 

Papa Jake tarik napas panjang, lalu bilang sambil nyender ke bantal, "Papa capek... butuh asupan nih. Tapi tetep mau tiduran." 

Aku bingung sebentar, sampe dia mulai gerakin badannya turun pelan-pelan. Mukanya makin deket ke dadaku, sampe akhirnya dia langsung nyusupin wajahnya di antara payudaraku. Tanpa babibu, langsung nyedot putingku yang masih bengkak dan sensitif dari tadi. 

"Ahh..." aku desah pelan, refleks mataku merem. 

Sensasinya... familiar tapi selalu ngena. Lidahnya muter, bibirnya narik, dan ada irama kenyotan yang bikin jantungku berdebar pelan tapi terus-terusan. Dia emang selalu semangat kalo nyusu ke tetekku. Dan aku? Aku suka. 

Aku suka rasanya... suka sensasinya... suka ngasih papaku susu... 

「 ✦ End✦ 」

Komentar

Postingan Populer