[Jay] Selingkuh Sama Mas Galon

 

「 ✦ NSFW Scene ✦ 」

Jay menatapmu, matanya membelalak kecil, tapi tak ada penolakan. Kamu terkikik, bangkit dari kursimu. Kaki telanjangmu melangkah ringan di atas keramik, dan kamu melirik ke arah kamar tidur. Kamu diam sejenak. Pintu itu masih tertutup rapat. Tak ada bunyi. Tak ada tanda-tanda kehidupan dari baliknya. 

Kamu menoleh ke Jay, memberikan isyarat dengan gerakan kepala, dan berbisik nyaris nakal, "Sini, ikut aku." 

Jay berdiri, masih dengan ekspresi setengah tak percaya, setengah terangsang. Kamu berjalan pelan ke arah ruang laundry. Ruangan itu cukup luas, dilengkapi mesin cuci, meja rak kecil diatasnya, dan beberapa keranjang baju. 

Kamu masuk lebih dulu, lalu Jay menyusulmu. Kamu menutup pintu perlahan, pastikan terkunci. Cahaya dari jendela ventilasi menerangi ruangan ini dengan suasana yang lebih panas. 

Tanpa bicara, kamu mengangkat tanganmu untuk membuka buka cepolan rambutmu. Jepit rambut plastik lepas dan helaian rambutmu langsung tergerai, jatuh di bahu, sebagian menutupi dada. 

"Biasanya… Mas Jay jadi horni kalo apa?" suaramu pelan, lembut, tapi tiap kata mengandung racun. 

Kamu melangkah setapak lebih dekat. "Misal aku bugil…? Aku nari erotis di depan Mas…? Atau gimana?" 

Jay menelan ludah. Matanya menjelajahi lekuk tubuhmu dari atas sampai ke bawah. Nafasnya mulai terasa berubah, sedikit cepat. 

"Jujur, Mbak… kalau lihat cewek confident, apalagi kalau dia bugil di depan saya…" 

Jay berhenti sebentar. Matanya menatap lurus ke matamu. 

"Saya bisa langsung keras. Bahkan kadang sebelum disentuh." 

Tangannya mengepal di samping paha. Kamu bisa lihat ketegangannya di sana. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya meski ruangan gak terlalu panas. 

"Dan Mbak Y/n… dari tadi tuh udah bikin saya nahan banget, tau nggak?" 

Kamu menatap mata Jay, matamu masih menusuk dalam setelah mendengar pengakuannya. Napasmu berat, dada naik turun, dan jari-jarimu bergerak pelan menyentuh kain daster Yukensimu. 

"Oh iya kah...?" kamu mengucap kata itu sambil menaikkan alis. Suaramu menggoda, lembut tapi tajam. "Kalo gitu… coba aku lepas bajuku." 

Perlahan, kamu tarik dastermu ke atas. Kain tipis itu terangkat, naik dari paha, menyapu perutmu yang rata, lalu melewati payudaramu yang terlepas bebas saat daster itu terangkat seluruhnya dari tubuhmu. Kamu melemparnya ke keranjang baju. Hanya G-string tipis warna hitam yang masih menempel di tubuhmu. Kulitmu putih mulus, menggoda di bawah tatapan mata elangnya. 

Napas Jay tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak, lidahnya menjilat bibir tanpa sadar. Tatapannya jatuh ke dadamu—payudara besar dan montok, naik turun dengan napasmu, putingnya keras dan menggoda, warnanya merah muda agak tua, kontras dengan kulit pucatmu. 

'Teteknya gede banget… gila… montok parah… putih banget… putingnya pink gitu anjing…' Jay membatin, tapi ekspresinya udah cukup jelas tanpa harus keluar suara. Rahangnya mengencang, dan kamu bisa lihat dia nahan hasratnya kayak pria haus di depan mata air. 

Kamu terkekeh pelan, lidahmu menjilat bibir sendiri. 

"Mas Jay… udah terangsang, belum?" 

Jay tidak menjawab. 

Tapi tiba-tiba, dia bergerak. 

Kaosnya ditarik cepat ke atas, memperlihatkan dada bidang dan abs yang menggoda. Setelah itu, tangannya membuka celananya cepat sampai meluncur turun ke kaki. Boxernya menyusul. 

Dan kamu menahan napas. 

Di depanmu, penis Jay terekspos bebas, panjang dan besar. Kulitnya bersih, urat-urat mencuat samar di sepanjang sisi dan kepala penisnya sedikit mengkilat. Diameter dan panjangnya bikin kamu refleks mundur setapak. Itu… hampir kayak punya bule. Besar banget, sampai bikin kulitmu merinding. 

Kamu menelan ludah. Kencang. 

"Aduh… kontol Mas Jay…" kamu bergumam dengan suara pelan tapi parau, mendekat selangkah demi selangkah. "Gede banget sih… ini kontol sange parah... panjang, keras, penuh urat..." kamu tidak bisa berhenti menatapnya. "Baru liat beginian aja… udah bikin memekku basah, sumpah." 

Tanpa minta izin, tanganmu bergerak sendiri. Kamu raih ereksinya—besar, panas, padat di dalam genggamanmu. Jari-jarimu bahkan nggak bisa menutup sempurna di sekeliling batangnya. 

"Gede banget, Mas… ini sih kontol neraka... bisa ngerusak rahim…" gumammu, setengah menggigil, setengah kagum. 

Dan Jay hanya berdiri diam, membiarkanmu meraba, menyentuh, dan menatapnya seolah kamu baru saja ketemu harta karun di tengah rumah tangga yang membosankan. 

Perbedaan tinggi tubuh kalian membuatmu harus mendongak untuk menatap wajah Jay. Lehernya tampak tegang, rahangnya mengeras, tapi tatapan matanya... tajam dan haus. Kamu bisa merasakan hawa panas dari tubuh bugilnya yang berdiri begitu dekat—nyaris menempel. 

Kamu menarik napas panjang, lalu melangkah maju dan dengan keberanian yang kini membuncah, kamu tempelkan tubuhmu padanya. Kulit ke kulit. Dada montokmu menempel penuh tubuhnya yang keras, putingmu bergesek pada ototnya, dan kamu bisa rasakan sensasi listrik menjalar cepat. Tubuhnya panas, sedikit lembap oleh keringat, dan kamu menikmatinya. 

Kamu jinjit pelan, jemarimu mengait di tengkuknya, merapatkan wajah kalian, dan tanpa banyak pikir, kamu mencium duluan. 

Awalnya lembut. Bibirmu menyentuh bibirnya seperti menguji. Tapi Jay langsung membalas. Ciumannya cepat menjadi liar. Nafasnya masuk ke mulutmu, lidahnya mencari-cari, menemukanmu, dan kalian saling melumat dengan rakus. Bunyi ciuman kalian beradu, basah, penuh bunyi liar dan berani. 

Jay menarikmu lebih dekat, kedua tangannya melingkari pinggangmu dengan kuat, lalu turun perlahan ke bokongmu. Ia menggenggam penuh daging kenyal itu, meremasnya hingga kamu mendesah dalam ciuman. Pinggulmu terangkat sedikit ke tubuhnya, dan kamu bisa rasakan penisnya yang keras menekan perutmu. 

Tanpa peringatan, Jay mengangkatmu dengan kekuatan penuh. Tubuhmu naik ke udara, kakimu refleks melingkari pinggangnya. Dia membawa tubuhmu dengan mudah ke atas mesin cuci. Bokongmu menyentuh permukaannya yang dingin, tapi tubuh Jay yang panas tetap membuatmu menggeliat kecil. 

Ciuman kalian belum berhenti. Bahkan makin buas. 

Jay kemudian mulai menurunkan kepalanya, mencium pipimu, lalu menyusuri ke rahang, turun ke sisi telinga. Bibirnya panas dan lembut saat menempel di kulitmu, lalu dia berbisik: 

"Mbak bakal nyesel kalau beneran mau seks sama saya..." 

Nafasmu tertahan sesaat. Tapi kamu balas dengan suara berat, parau dan yakin. 

"Aku nggak nyesel… sama sekali enggak, Mas Jay." 

Jay tak buang waktu. Setelah kamu bilang tak menyesal, dia langsung menunduk dan menyerang lehermu. Bibirnya basah dan hangat, menyedot kulit tipismu dengan rakus, menciptakan suara isapan yang cabul dan tajam. Kamu mendesah pelan, tubuhmu refleks menegang dan kepalamu menengadah, memberi akses lebih luas untuk Jay mengobrak-abrik zona sensitifmu itu. 

"Hhhh... Mas… ah…" 

Jay memburu ke sisi leher lain, lidahnya menjilat sepanjang kulitmu, lalu menyedot lagi, membuat bekas merah. 

Tangannya berada di pinggangmu sambil bibirnya meluncur ke bawah. Dari leher, ke tulang selangka, lalu ke dada. Sampai akhirnya bibirnya menemukan sasaran empuk: putingmu yang sudah keras berdiri karena gairahmu yang meluap. 

Jay langsung menghisapnya, dalam dan intens. 

"Ah! M-mas Jay…!" 

Mulutnya bekerja rakus. Lidahnya memutar puting pink-mu, lalu menyedotnya kuat sampai kamu mengerang dan tubuhmu sedikit melengkung ke arah mulutnya. Tangan kirinya tak tinggal diam—meremas payudaramu yang lain, memainkannya dengan gerakan melingkar, lalu ibu jarinya menggesek-gesek putingmu. 

"Tetek mbak… gila…" gumam Jay di sela-sela isapan. "Montok banget… gede, penuh… enak banget buat dilecehin…" 

Dia menggigit putingmu pelan—cukup buat bikin kamu mengejang. 

"Puting kamu nih, anjing, warnanya pink gitu, manis banget. Kayak manisan mahal, tapi buat cowok mesum." 

Kamu nyaris berteriak, seluruh tubuhmu bergetar dan kewanitaanmu gampang basah total. 

Jay menatapmu dengan mata liar, lalu tanpa peringatan dia meludah tepat di antara dua belahan dadamu. Ludahnya hangat dan lengket mengalir pelan ke sela payudaramu. Kamu mengerang, lebih keras dari sebelumnya. 

"Mas… anjing… aku makin sange…" 

Jay hanya terkekeh pelan, lalu mulai menyerang lagi, menjilat ludahnya sendiri, lalu kembali menghisap dan meremas kedua payudaramu bergantian dengan brutal manja yang membuatmu menggeliat tanpa kendali di atas mesin cuci yang dingin itu. 

"Angkat dikit, sayang. G-string kamu mau mas lepas..." 

Dengan degupan jantung yang makin liar, kamu angkat pinggulmu, pelan namun penuh goda. G-string hitam tipis yang sedari tadi hanya jadi penghalang simbolis kini ditarik perlahan ke bawah oleh jari-jari Jay. Saat benang terakhir meluncur lepas dari kakimu, Jay menahan napas—dan pandangannya langsung membeku. 

"Anjrit..." desahnya kasar. Matanya membelalak, bibirnya setengah terbuka. 

Kewanitaanmu begitu bersih. Tak ada sehelai pun bulu yang mengganggu pemandangan. Labiamu terlihat tembem, lembap, menggoda, dan Jay tidak bisa menahan kekaguman bejatnya. 

"Gila... punya kamu gini banget ya... tembem... pink banget... ini mah bukan surga lagi, ini udah neraka nikmat..." 

Kamu tersenyum, senyum penuh kemenangan yang hanya wanita nakal bisa tunjukkan. Kamu suka—kamu ketagihan—ketika Jay bicara seperti itu, seolah kamu adalah makanan yang paling dia idamkan di dunia. Tanpa disuruh, kamu buka kakimu lebar-lebar di atas mesin cuci, memberikan panggung penuh bagi Jay. Kedua tanganmu turun, jari-jarimu menarik labia terbuka lebar, memperlihatkan segalanya. Lipatan merah muda di balik kulit lembut itu terlihat menantang. 

Jay membatu. Matanya lekat. Napasnya tercekat. 

"Gila... klit mbak manis banget... kecil, ngaceng... warna pink-nya tuh loh, kayak permen... saya pengen nyicip... pengen jilat dalem-dalem... pengen tau mbak Y/n seenak apa rasanya..." 

Lidahnya membasahi bibirnya sendiri tanpa sadar. Pandangannya tak pernah lepas dari antara kakimu. 

Jay menurunkan tubuhnya perlahan, lututnya menyentuh lantai dingin ubin ruang laundry. Kedua tangannya merambat naik ke pahamu, mengelus perlahan, seolah hendak menghafal setiap lekukmu sebelum akhirnya wajahnya mendekat, napasnya hangat menyapu kulit sensitif di antara kakimu. Hidungnya nyaris menyentuh bibirmu yang tembem itu, dan kamu bisa rasakan setiap hembusan kecil yang membuat bulu kudukmu meremang. 

"Sumpah... ini terlalu cantik buat nggak dilahap..." 

Jay menempelkan lidahnya, lembut di awal—tapi hanya sebentar. Jari-jarinya langsung bekerja membuka labia dengan semangat, membentang lebar hingga kelopakmu benar-benar tersaji. Ia mengarah tepat ke klitoris kecilmu yang mengintip manja, dan tanpa ampun, dia menyeruputnya keras. 

Kamu memekik kecil, reflek tubuhmu menegang. Lidah Jay tak henti memutar, menyedot, menggesek klitmu seolah itu satu-satunya hal yang penting di dunia. Lalu, satu tangannya yang lain naik, jari tengahnya menelusup masuk ke lubangmu tanpa permisi. Suhu jari itu kontras dengan kelembapan di dalammu, membuat kamu tersentak. 

Dan begitu jari itu menyentuh dinding atas—langsung, tanpa ragu— 

"A-aaahhh!" jeritmu pecah, keras, tak tertahan. 

Jay menemukan G-spotmu. Ia menggerakkannya maju mundur, cepat, menekan tepat di titik yang membuat otot-otot di perutmu berkontraksi hebat. Kamu menekap mulutmu sendiri dengan tangan, berusaha menahan suara, tahu betul suami dan anakmu sedang tidur di kamar sana. 

Tapi tubuhmu tidak bisa dibohongi. Getaran itu makin kuat, desahanmu makin dalam, dan kamu mulai terisak—bukan karena sakit, tapi karena kenikmatan yang terlalu gila. Air mata menetes di pipimu saat kamu menahan jeritan yang tak bisa dikeluarkan. Jay tidak memperlambat gerakannya, malah makin gencar. 

Dan... 

"AAHHH...!" 

Tubuhmu bergetar hebat, pinggulmu terangkat, dan semburan panas itu meluncur deras dari dalammu. Squirtmu menghantam wajah Jay seperti ledakan liar yang tak terkendali. Jay tetap di tempatnya, wajahnya tetap menempel di sana, memejamkan mata sambil menyeringai penuh kemenangan, membiarkan cairanmu membasahinya dari dagu sampai ke rambut. 

"Nggak nyangka mbak bisa kayak gini... gampang squirt..." 

Dan kamu hanya bisa terengah, tubuhmu masih kejang-kejang, jantungmu berpacu keras. 

Jay berdiri, napasnya masih berat, wajahnya basah oleh kenikmatan yang kamu berikan barusan. Pandangannya menelusuri tubuhmu yang masih terbuka, kaki terentang, vaginamu berdenyut, merah dan menggoda. Dia mendekat, mengambil tempat di antara kakimu yang gemetar. 

Matanya menatap dalam ke matamu, mencari satu hal terakhir: keraguan. Tapi kamu hanya mengangguk pelan, bibirmu setengah terbuka, dadamu naik turun, penuh gairah dan penyerahan. 

Jay menggenggam batangnya yang keras, mulai menggoda pintu sucimu dengan gesekan-gesekan nakal. Kepala itu menyapu pelan bibir vaginamu, naik turun, menekan pelan di tengahnya, lalu mundur lagi—menggoda untuk membuatmu gila. 

Kamu mengangkat pinggul dan sudah tidak sabar. Dan Jay tahu kamu sudah siap. 

Dia menekan perlahan. Kepala penisnya mulai membelah kelopak bibirmu, dan tubuh kalian berdua gemetar bersamaan saat kepala itu masuk. 

"Aahh... anget banget..." 

Erangan kalian berpadu. Jay mulai mendorong lebih dalam, centi demi centi, hingga akhirnya, seluruh batangnya masuk, tenggelam dalam sempitnya lubangmu yang menyambutnya dengan hangat dan basah. 

"Sempit... sumpah... ketat banget..." racau Jay, suaranya penuh hasrat yang nyaris hilang kendali. 

Kamu mencengkeram lengannya, tubuhmu seolah meleleh di bawah beban nikmat itu. Tapi tiba-tiba, Jay mengencangkan lengannya dan mengangkat tubuhmu begitu saja. Refleks, kamu memeluk lehernya erat, kaki melingkar di pinggangnya, dan kamu bisa rasakan penisnya tetap tertanam dalam saat dia mengangkatmu. 

Jay menangkap bokongmu, jari-jarinya mencengkeram keras, dan mulai menggerakkan pinggulnya. Setiap dorongan menghantam dalam dan tepat ke tempat yang bikin kamu menjerit pelan. 

"Aaah... Jay... disitu...!" 

Penisnya menghantam G-spotmu dengan presisi brutal. Kamu mendesah di telinganya, napasmu menggila, dan otot-otot di dalammu otomatis menjepit batangnya. Jay mendengus keras. 

"Gila... mbat jepit kontol aku... ahhh ketat banget... enak banget anjing..." 

Dorongan Jay makin liar, tubuhmu naik turun di gendongannya. Setiap tusukan itu menghantammu dalam, penuh, menghajar titik yang bikin kamu hilang kesadaran. 

Kuku-kuku tanganmu mencakar punggungnya, dan kamu bisikkan desahan nyaris tak terdengar di telinganya. 

"Terus... jangan berhenti... Jay... ahh... di dalem... di dalem lagi..." 

Dan Jay hanya menggertakkan gigi, mendesah berat sambil menghantammu makin kuat, makin dalam—masih berdiri tegak, menanggungmu seperti miliknya sepenuhnya. 

Tubuhmu bergetar hebat, kepala terlempar ke belakang saat ledakan itu menghantammu. Kamu menjerit, nyaris menangis, menyebut namanya—"Jaaay...!"—sambil memancurkan lagi, squirt yang kali ini lebih deras, lebih liar, membasahi perut Jay. Otot-ototmu menegang, rahangmu terbuka lebar, napasmu tersedak di tenggorokan. 

Tapi Jay tidak melambat. 

Dia tetap menghantam mu tanpa  ampun. Batangnya terus menembus dalam, membelah lubangmu yang sudah belepotan cairan. Kamu nyaris terkulai, tapi Jay masih dengan stamina luar biasa, gerakannya makin cepat. 

"Baru sebentar udah muncrat gitu, sayang? Gampang banget dibikin becek, ya..." 

Jay tertawa rendah di telingamu, mengejek manis sambil mencium lehermu penuh ludah. 

"Saya bilang juga apa... saya lebih hyper dari mbak. Kamu udah dua kali squirt, saya masih on fire, nih. Kontol gede stamina kuat—bikin mbak tambah sange." 

Dan kamu, bahkan sambil megap-megap, menyeringai. Mulutmu mendekat ke telinganya. 

"Banget... anjir, nggak nyesel aku... mending kamu daripada suamiku..." 

Ganti posisi, Jay membaringkan tubuhnya di lantai ruang laundry yang dingin. Dia tiduran telentang, penisnya tetap berdiri kokoh, berdenyut. Kamu tak buang waktu—langsung naik ke atas tubuhnya, vaginamu menelan batang itu lagi dalam satu dorongan. 

"Aahh...!" 

Kamu mulai menggoyang pinggulmu, naik-turun, memutar, menjepit batangnya dalam tarian liar yang kamu pimpin penuh gairah. Tubuhmu berkeringat, rambutmu berantakan, tanganmu bertumpu di dadanya yang keras. Jay menatapmu penuh nafsu, matanya setengah terpejam. 

"Cepet... ulek terus... ahh... gitu... ketat banget anjing..." 

"Iya, Mas... rasain, ya... memekku ngulek kontol mas Jay. Suka ya dijepit terus begini?" 

"Suka, sayang... kayak dijepit surga..." 

Kamu tertawa pelan, menggigit bibir, dan bergerak lebih semangat. Setiap goyangan menghantam dalam, dan kamu bisa rasakan penisnya makin tegang di dalam. Jay mengerang, mengangkat pinggulnya dari lantai, menyambut gerakanmu dari bawah. 

"Mas nggak tahan, sayang... saya keluar, ya..." desisnya. 

"Keluar... keluar di dalemku... isiin semua..." 

Tubuhmu mengencang lagi, dan seolah tubuh kalian saling bicara dalam bahasa yang tak terdengar, klimaks itu datang bersamaan. Kamu menggigil hebat, teriakmu pecah, dinding dalam mu menjepit batang Jay seperti palka menyedot. Jay mengerang keras sambil memuntahkan semburan hangatnya dalam jumlah yang banyak ke dalammu. 

Kamu bisa merasakan semuanya. Panas. Kental. Dalam. 

Kamu jatuh terkulai di dadanya, napas tersengal, tubuh bergetar. Tapi Jay masih belum selesai. 

"Turun... terus nungging, mau liat hasilnya." 

Dengan lemas tapi patuh, kamu berlutut, menungging di hadapannya. Bokongmu terbuka, vaginamu yang merah berdenyut pelan dan cairan putih kental mengalir pelan keluar dari lubang yang masih kedut. Jay mendekat, menyeringai puas, mengusap cairan itu dengan jarinya. 

"Liat tuh... creampie paling manis yang pernah saya bikin..." 

"Mmmh... dan aku suka... suka banget... kamu tuh... jago ngewe, Jay... lebih jago dari suamiku... jauh..." 

Jay menampar bokongmu keras, meninggalkan bekas, sebelum meludah sekali ke lubangmu yang masih kebuka dan bergetar, penuh miliknya. 

Setelah tubuh kalian puas dan lelah dalam gelombang kenikmatan yang belum lama reda, kalian pun mulai membereskan sisa-sisa kebuasan barusan. Jay berdiri, memakai celananya yang sempat tergeletak di lantai laundry, lalu mengenakan kausnya sambil sesekali melirik ke arahmu yang sedang membetulkan dastermu, menyisir rambutmu dengan jari tanganmu sendiri. Daster itu sudah tak serapi sebelumnya. 

Tak banyak bicara, hanya senyum-senyum kecil yang penuh makna, kamu membuka pintu perlahan, langkahmu menuju lorong rumah terasa pelan dan ringan. Tatapanmu langsung jatuh pada pintu kamar tidur yang tertutup rapat. Kamu berhenti sebentar, jantungmu berdetak cepat—bukan karena takut, tapi karena sensasi tegang yang ganjil. 

Perlahan kamu ulurkan tanganmu, membuka kenop pintu kamar... dan saat daun pintu bergerak, cahaya tipis siang masuk dan menyorot ke dalam. Di sana, suamimu masih terlelap di sisi ranjang, satu tangan melingkar lembut di tubuh kecil anak kalian yang meringkuk di bawah selimut. Keduanya tampak damai, tak terganggu sedikit pun oleh dosa yang baru saja kamu lakukan hanya beberapa meter dari tempat mereka tidur. 

Kamu menarik napas, lalu menutup pintu perlahan. Kembali ke Jay yang sudah menunggu di depan rumah. Ia berdiri bersandar di motornya, senyumnya santai, seperti habis dari liburan singkat yang memuaskan. 

"Ternyata mbak Y/n bikin saya makin nagih." katanya sambil menyeringai. 

Kamu menunduk sedikit, senyum geli muncul di bibirmu. Salting. Tanganmu otomatis meremas pinggiran daster. 

"Emangnya... mbak nggak ngerasa bersalah?" Jay bertanya lebih pelan, nadanya turun, seolah menguji. "Selingkuh gitu... dari suami mbak sendiri." 

Kamu menggeleng kecil, tatapanmu tenang. 

"Dia nggak bisa nikmatin aku kayak mas Jay... rasanya beda banget. Nggak enak." 

Jay tertawa pendek, lalu menyalakan mesin. Kamu mendekat ke Jay sejenak. 

"Kalo mas Jay mau lagi... tinggal telepon aku. Kapan pun." 

Jay mengangguk lambat, matanya menyapu wajahmu dari atas ke bawah. Senyumnya penuh hasrat yang belum benar-benar padam. 

"Siap, Sayang... mbak Y/n udah masuk daftar prioritas saya." 

Dia menyalakan motor. Getaran mesinnya menggema ringan di halaman rumah. Sebelum melaju, Jay melambaikan tangan ke arahmu. Kamu membalasnya, bibirmu membentuk senyum tipis yang sulit dibaca—antara puas, liar, dan mungkin sedikit candu. 

Dan saat pagar rumah tertutup kembali dan debu tipis jalanan mulai turun, kamu masih berdiri di situ, diam, memegangi dada yang masih bergelombang sisa euforia. Rumahmu sunyi lagi. Tapi di dalam dada yang berdegup itu... rasa sayangmu ke Jay tumbuh diam-diam. Meski ini dosa, meski kamu tahu ini salah—tapi kamu gak peduli. Rasanya... kamu justru makin ingin dia. Lagi dan lagi.

「 ✦ End✦ 」

Komentar

Postingan Populer