[Jay] Suami Galak Tapi Bikin Nagih
「 ✦ NSFW Scene ✦ 」
Dan benar kata orang-orang...
Entah karena efek coklat, atau memang kami berdua sama-sama udah terbakar dari sejak tadi-tapi gairah kami malam itu meningkat dengan pesat.
Uap hangat dari air bathub menyelimuti ruangan, membuat kulitku terasa lembap dan setiap sentuhan menjadi lebih intens. Mas Jay duduk di tepi bathub, kakinya terbuka lebar, batang kontolnya berdiri gagah, keras, dan menggoda, seolah menantang mulutku untuk segera menyambutnya.
Aku bersimpuh diantara kakinya dan menunduk, lidahku menjilat perlahan dari pangkal batangnya, menaiki jalur urat yang menonjol, hingga mencapai kepala penis yang basah oleh pre-cum. Rasanya asin, namun ada jejak manis yang membuat lidahku ingin lebih banyak. Hangat, kental, dan begitu khas, seperti mencicipi rahasia tubuh suamiku yang paling intim. Aku meludahi kepala kontolnya, melihat lendir beningku mengalir menutupi batangnya, lalu kugunakan kedua tanganku untuk menyebarkan cairan itu sambil mengocok perlahan.
"Uhhnn... ya gitu, sayang..." suara mas Jay berat dan bergetar, penuh kenikmatan yang membuat putingku ikut mengeras.
Aku membuka mulutku lebar, bibirku mengembang menyambut batang yang tebal itu. Kuusap kepala kontolnya dengan lidah dalam gerakan melingkar sebelum perlahan-lahan kuhisap masuk. Bibirku membungkus erat, pipiku mengerut saat mulai mengisap, dan lidahku menari di sekeliling kepala kontolnya.
Mas Jay mengerang keras. "Ahhh, Y/n... anjing... enak banget, sumpah...!"
Suara erangannya membakar gairahku. Aku menyedot lebih dalam, bergerak naik turun dengan ritme yang semakin cepat. Setiap kali aku naik dan mencapai kepalanya, aku menyeruput keras, sengaja membuat suara basah dan lewd yang bergema di kamar mandi.
Aku menatap ke atas, melihat wajah mas Jay yang menegang, matanya terpejam, kepalanya mendongak, dan jakunnya naik turun. Keringat mulai membasahi dadanya. Aku terus menyedot, memutar lidahku, menelan air liur bercampur pre-cum, merasa tenggorokanku mulai penuh tapi tetap menahannya, menikmati bagaimana setiap detik membuat suamiku semakin tak terkendali.
"Hhh... FUCK! Lanjut terus, sayang... jangan berhenti!"
Aku tidak berniat berhenti. Ini tubuhku melayani tubuhnya, dan aku menikmatinya. Kepalaku bergerak cepat, menyeruput kepala kontolnya dengan keras setiap kali naik, menyedot, menjilati, memutar, menekan lidahku di bagian paling sensitif.
Dia bergetar. Seluruh tubuhnya menegang. Dan aku tahu... mas Jay akan meledak sebentar lagi. Dan aku siap menelannya semuanya.
Dan akhirnya, mas Jay mengerang keras, suaranya dalam dan liar, bergema di seluruh kamar mandi. Kedua tangannya mencengkeram rambutku dan menekan kepalaku lebih dalam hingga batangnya masuk sepenuhnya.
"AAHHH... FUCK, Y/N... NGENTOT, AKU KELUAR!" teriaknya sambil menghentakkan pinggulnya ke arah wajahku.
Cairan panas itu muncrat langsung ke tenggorokanku. Rasanya pekat, asin, hangat-aku menelannya semuanya tanpa sisa, lidahku masih menjilati batangnya saat ia mulai melemas.
Mas Jay terengah-engah, satu tangan menyentuh daguku, mengangkat wajahku yang penuh sisa liur. Dia menatapku dengan tatapan penuh hasrat dan dominasi.
"Sekarang... nungging, Sayang. Kaki tetap berdiri, tangan di tepi bathub. Aku mau liat pantat istri ku yang nakal banget ini."
Aku berdiri perlahan, lalu membungkuk seperti yang dia perintahkan. Kedua tanganku bertumpu pada bathub, dan aku bisa merasakan hawa panas dari tubuh Jay yang mendekat dari belakang.
"Lebarin. Biar aku bisa liat jelas memek becekmu."
Aku membuka kaki, sedikit gemetar karena antisipasi. Seketika tamparan keras mendarat di pantatku. PLAK!
"Hhhnng!" Aku menggigit bibir bawahku, tubuhku bergetar karena kombinasi rasa sakit dan kenikmatan.
PLAK! PLAK!
"Kamu suka ini ya, istri cabulku? Suka ditampar pantatnya kayak pelacur milik suaminya sendiri, hm?"
"Iya mas... suka..." suaraku nyaris tercekat.
"Pintar. Istri baik memang harus kayak gini. Manut, basah, dan selalu siap dibolongin."
Tanpa peringatan, dia menekan batangnya ke lubang vaginaku yang sudah basah kuyup. Kepala penisnya menyibak lipatan dagingku dan dengan satu dorongan, dia menancapkannya dalam.
"AHHHH!" Aku berteriak, tubuhku terdorong ke depan, tapi pegangan pada bathub menahanku tetap di tempat.
"Ahh gampangnya kontolku masuk. Lubangmu emang diciptain buat aku, ya, Sayang."
Dia mulai menghentak. Ritmenya kuat, penuh amarah bercampur gairah. Setiap gerakan membuat suara basah terdengar keras di ruangan, dan setiap tamparan lagi-lagi mendarat di pantatku.
"Ngentot... kamu tuh milikku. Istri jalang yang paling setia ahhh.."
Dan aku menerimanya. Seluruh badanku bergetar, menantikan tiap hentakan dan pujian cabul itu, karena hanya mas Jay yang tahu bagaimana memperlakukan tubuhku seperti milik yang seutuhnya.
Di dalam bathub, kami menyelesaikan satu ronde panas yang bikin air hangat di sekeliling kami seakan ikut mendidih. Desahan kami menyatu dengan cipratan air.
Tapi itu belum selesai.
Begitu kami keluar dari kamar mandi, tubuh masih basah dan napas belum stabil, Mas Jay menarikku pelan ke arah ranjang. Kamar kami remang, hanya disinari cahaya lampu meja dan lilin aromaterapi, melemparkan bayangan hangat di dinding dan tubuh kami.
Dia berbaring, kedua tangannya bersandar di belakang kepala sambil memandangi tubuhku yang masih telanjang dan berkilau oleh sisa air. Tatapannya tajam dan penuh hasrat, bibirnya melengkung dalam senyum cabul.
"Naik ke atas, Sayang. Gaya cowgirl. Aku mau lihat istriku nunggangin kontol suaminya dengan wajah keenakan itu."
Aku langsung menurut. Ini gaya favoritku. Gaya di mana aku bisa mengatur irama dan merasakan seluruh batangnya menusuk sampai mentok, menyentuh titik paling dalam yang hanya bisa dijamah Mas Jay. Aku naik ke ranjang, mengangkangi pinggulnya, lalu meraih kontolnya yang masih keras dan licin dari dalamku tadi.
Dengan satu gerakan pelan, kepala penisnya menekan mulut memekku yang sudah mengedut manja, dan saat aku mulai menurunkan pinggulku... "AAAHHhh..." aku mengerang keras. Rasanya luar biasa. Batangnya menggesek seluruh dinding vaginaku, menyibak jalan kenikmatan yang membuat tubuhku bergetar.
"Taruh tanganmu di belakang kepala. Biar aku lihat tetekmu loncat-loncat pas kamu ngulekin kontolku."
Aku langsung mengangkat tanganku, menaruh keduanya di belakang kepala. Pinggulku mulai bergerak maju mundur, menggiling, mengulek kontol Mas Jay di dalam memekku. Sensasinya gila. Perutku mengencang, setiap dorongan membuat seluruh batangnya tergesek di dinding paling sensitif.
Tiba-tiba—PLAK!—tamparan keras mendarat di salah satu payudaraku.
"AHHHH!" teriakku sambil menggigit bibir.
PLAK! satu lagi di payudara yang lain.
"Payudara ini-gila, montok banget. Ngentot, Y/n, kamu istri paling jalang. Lihat kamu nunggang kontolku kayak gitu, memek basah kedutmu, aku bisa gila."
Aku mulai naik turun sekarang, gerakanku makin liar. Dan saat batangnya mentok titik G-spotku, mataku membelalak, lidahku menjulur tanpa sadar.
"AAHHHHH MAS! Di situ, di situ...!"
Mataku juling, lidahku menjulur liar, dan wajahku penuh ekspresi keenakan. Aku tahu persis Mas Jay suka wajah ini-dan benar saja, dia menggertakkan giginya.
"Lihat dirimu, Sayang. Kamu tuh jalang manja yang doyan banget kontol suaminya ya? Wajahmu... bejat banget. Aku suka. Genjot terus, bikin aku crot-in ke kamu."
Kalimatnya makin kotor, makin cabul, dan membuat semangatku melonjak. Pinggulku menghentak lebih keras, lebih cepat, sampai ranjang berderit dan tubuhku berkeringat, dipenuhi kenikmatan dan pujian kasar yang membuatku merasa seperti ratu paling cabul yang pernah ada di atas suaminya.
Beberapa ronde kami lewati dengan tempo yang terus berubah. Kadang pelan dan dalam, kadang cepat dan liar. Kadang dia menciumku dengan gemas seperti pengantin baru, kadang dengan dominasi dan tatapan kelaparan yang bikin aku leleh sepenuhnya. Bed cover putih berantakan, bantal berserakan, dan kulit kami berdua saling menempel erat.
Dan ketika klimaks itu datang bersamaan-tubuhku menggeliat di bawahnya dan Mas Jay menahan tubuhku sekuat tenaga-aku tahu, gak ada pelukan lain di dunia ini yang bisa sekayak gini.
Kami berdua ambruk dalam kelelahan, kulit berkeringat, dada naik turun mencari napas.
Beberapa menit kemudian, aku udah berada di pelukannya, diselimuti bed cover putih yang kini...basah di beberapa bagian.
Aku nyender ke dada Mas Jay, dengan tangan yang mengusap perutku pelan-pelan.
"Capek?" bisikku manja.
Dia nyium ubun-ubunku dan ketawa pelan. "Kamu kira aku masih remaja? Aku masih kuat berapa ronde lagi kok..."
"Mas..." aku menegurnya sambil tertawa lemas. "Jangan macam-macam lagi."
Kami tertawa bareng, sampai tiba-tiba Mas Jay berkata pelan, suaranya rendah tapi serius.
"Besok... kamu gak usah minum pil KB lagi, ya."
Aku langsung nengok ke arahnya, menatap wajah suamiku dengan kening sedikit berkerut.
"Kenapa, Mas? Tumben banget ngomong gitu?"
Mas Jay menarik napas, senyumnya muncul pelan, penuh keyakinan.
"Karena sekarang... aku pengin punya bayi dari kamu."
Mataku membelalak.
"Mas..."
Dia mengusap pipiku, lembut banget, sebelum menarik tubuhku ke pelukannya lagi.
"Dulu aku bilang nunda karena aku sering ke luar negeri, kan? Aku gak mau kamu hamil dan harus ngejalanin semuanya sendiri. Tapi sekarang aku udah stay di sini. Udah siap jadi ayah. Dan aku tahu, kamu pasti jadi ibu yang luar biasa."
Aku menggigit bibir bawahku, menahan emosi yang mulai naik ke dada. Jantungku berdegup cepat-bukan karena sisa sesi panas tadi, tapi karena rasa haru yang gak bisa aku bendung.
Akhirnya... Mas Jay, suamiku yang selalu tegas dan penuh perhitungan itu, sekarang bilang kalau dia siap.
Siap buat langkah besar dalam hidup kami. Siap buat nambah satu orang lagi dalam keluarga kecil ini.
Aku gak bisa ngomong apa-apa. Aku cuma menatapnya, lalu mencium bibirnya pelan-lama dan penuh rasa.
Sambil berbaring dalam pelukannya... aku tahu, malam ini bukan cuma tentang gairah. Tapi juga tentang awal dari sesuatu yang baru.
Dan di situlah semuanya dimulai.
「 ✦ End✦ 」



Komentar
Posting Komentar