[Jungwon] Godaan Adik Ipar

 


「 ✦ NSFW Scene ✦ 」

Kamu terkekeh pelan, suara tawamu mengalun lembut di antara keheningan malam yang terasa makin tebal. Matamu menatap Jungwon dalam-dalam, mencoba mencari keraguan-tapi yang kamu temukan hanyalah ketegasan dan rasa yang dipendam terlalu lama. 

"Aku juga mau," bisikmu dengan senyum kecil yang nyaris malu-malu, tapi tulus. Tanpa sungkan, kamu menurunkan pandanganmu sejenak, mengamati bagaimana tubuh Jungwon-dengan bahunya yang lebar dan tegap-terlihat seperti pelindung yang selama ini diam-diam kamu butuhkan. Ia berdiri begitu dekat, hangatnya menjalari tubuhmu, membuatmu merasa kecil... tapi justru aman dalam dekapan itu. 

Perlahan, kamu melingkarkan lenganmu di lehernya. Ujung jarimu menyentuh kulit leher bagian belakangnya yang hangat, dan kamu bisa merasakan betapa tegang tapi antusiasnya Jungwon saat kamu kembali menarik wajahnya mendekat. 

Kalian saling menatap sejenak. Tidak ada kata, hanya napas yang beradu dan mata yang menyampaikan rasa. Kemudian, kamu menutup matamu dan kembali menciumnya-lebih dalam kali ini, lebih yakin. Bibir kalian bertemu dalam ritme yang semakin menyatu, bukan hanya karena rasa penasaran... tapi karena kebutuhan, karena rasa yang selama ini ditekan terlalu dalam. 

Tangannya bertumpu di sisi tubuhmu, menjaga jarak antara desakan dan kendali. Tapi dalam ciuman itu, tidak ada lagi sekat. Kamu menghapusnya perlahan, dengan keberanian yang kamu sendiri tak sangka kamu punya. 

Ciuman kalian perlahan mereda, tapi tatapan kalian tetap saling mengunci. Jungwon menarik napas panjang, seolah mencoba menenangkan denyut jantungnya yang berpacu terlalu cepat. 

Pelan-pelan, dengan jemari yang masih sedikit bergetar, kamu meraih ujung bawah kaos hitam yang menempel di tubuhnya. Kainnya sedikit lembap karena keringat, tapi lembut. Kamu menariknya ke atas, menyibakkannya melewati perut Jungwon, lalu dada, dan akhirnya melepasnya sepenuhnya dari tubuhnya. 

Kaos itu jatuh ke lantai, tak diperhatikan. Kamu hanya terpaku, menahan napas. 

Kilau samar keringat di kulit Jungwon menangkap cahaya lampu dan menciptakan gradasi bayangan di otot-ototnya. Bahu lebar yang kokoh, dada bidang, perutnya kencang dengan lekuk yang jelas terbentuk dari konsistensinya ke gym. Tapi bukan hanya fisiknya yang membuatmu terpana, melainkan bagaimana tubuh itu tampak hidup-hangat dan dekat. Sangat dekat. 

Tanpa sadar, tanganmu terangkat, menyentuh bahunya. Kulitnya hangat. Kamu bisa merasakan denyut otot di bawah telapak tanganmu. Jemarimu menyusuri pelan bahu itu ke arah tulang selangka, lalu menurun ke sisi dada. Sentuhan yang kamu beri terasa ringan, tapi efeknya di tubuhmu sendiri seperti petir kecil yang menjalar. 

Jungwon membiarkanmu. Ia hanya memperhatikan, diam, sampai akhirnya bibirnya terangkat membentuk senyum menyebalkan yang sudah kamu hafal. 

"Noona," gumamnya rendah, suaranya sedikit serak tapi tetap tengil.

"Lebih seksi siapa? Aku, atau kakakku?" 

Nada suaranya tidak serius, tapi sorot matanya-itu cerita lain. Ada tantangan yang samar, seolah ia tahu kamu sedang goyah dan ia dengan sengaja mendorong batas itu. Tapi kamu juga tahu dia tak sedang bermain-main sepenuhnya. Ada rasa ingin tahu tersembunyi di balik ejekannya. 

Kamu tersenyum kecil, lalu menyeringai saat melihat wajah Jungwon menanti jawabanmu dengan sabar tapi jelas penuh ekspektasi. Sorot matanya menyiratkan tantangan, seolah menunggu apakah kamu akan bermain aman atau justru menyalakan api lebih besar di antara kalian. 

Kamu mencondongkan tubuh sedikit ke depan, cukup dekat hingga hidungmu hampir menyentuh miliknya. Dengan suara pelan dan nada percaya diri yang tak biasa, kamu menjawab,

"Lebih seksi kamu." 

Tepat setelah kalimat itu meluncur, kamu bisa merasakan perubahan kecil di udara. Senyum Jungwon langsung melebar, matanya menyipit dengan senang, bahkan sedikit geli dengan kejujuranmu yang tidak kamu sembunyikan sama sekali. 

"Aku tahu dari awal," gumamnya penuh kemenangan sambil tertawa kecil. Suaranya berat, mengalun hangat di antara kalian. "Tapi denger langsung dari kamu rasanya beda." 

Satu tangan Jungwon naik, menyentuh ujung dagumu dengan jemarinya, mengangkat sedikit wajahmu agar kamu tetap menatap matanya. Senyumnya makin tengil.

"Sekarang giliran kamu dong," ucapnya ringan sambil menunduk sedikit, matanya menelusuri dastermu yang tipis dan mulai terlihat sedikit kusut. 

"Kamu udah liat aku shirtless," lanjutnya sambil mengangkat sebelah alis. "Masa nggak fair sih?" 

Kamu tertawa kecil, beringsut mundur sedikit tapi tetap duduk di atas konter dapur. Kamu menatapnya dengan tatapan menggoda, lalu pura-pura menutupi bagian atas dada dengan tanganmu. 

"Enggak ah. Males," sahutmu dengan nada manja bercampur jahil.

"Hitung-hitung balas dendam karena kamu sering godain aku." 

Jungwon mencibir pendek tapi ekspresinya jelas-jelas menikmati situasi ini. 

"Jadi kamu mainnya gitu sekarang?" tanyanya rendah, senyumnya penuh intrik. "Main tarik ulur?" 

Kamu hanya mengedikkan bahu, menahan tawa. Tapi dalam hati, kamu tahu permainan ini sudah melewati garis sekadar candaan. 

Kamu terkekeh lalu berkata dengan nada menggoda, "Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi jangan pingsan ya."

Kalimatmu sengaja kau bumbui dengan tawa kecil dan lirikan nakal ke arah Jungwon yang berdiri dengan tangan bersedekap, menatapmu seolah menantang balik. 

Ia hanya tertawa pelan, tapi sorot matanya tetap menusuk dan panas, seakan tahu bahwa malam ini, kalian sedang bermain api yang tak bisa lagi dipadamkan dengan logika. 

Kamu mulai melepas daster berkain tipis itu, memperlihatkan inci demi inci dagingmu yang sempurna. Jungwon menatap setiap gerakanmu yang antisipasi itu. Kamu sengaja bergerak menggoda sambil tatapanmu ada kilatan nakal terpaku pada Jungwon. Saat kain itu terangkat melewati dadamu, Jungwon menahan napas. Matanya terpaku pada payudaramu, membuat tubuhnya menegang penuh hasrat saat kamu pertama kali telanjang bulat, hanya memakai celana dalammu dihadapan Jungwon. 

Payudaramu bulat dan sedikit membesar, terlihat penuh dan berat. Mungkin bisa tumpah di tanganmu jika kamu menagkupnya. Putingmu yang cokelat tampak mengeras, tegak berdiri dibawah tatapan adik iparmu itu. 

Kamu dengan percaya diri membusungkan dadamu dan kedua tanganmu berada di belakangmu, dijadikan penopang tubuhmu yang bertumpu pada konter dapur. Kamu menikmati ekspresi Jungwon yang terdiam seribu bahasa. Kemana sifat tengilnya yang selalu bikin kamu salah tingkah? "Gimana? Udah fair kan kita sama-sama shirtless?" Ucapanmu dengan sedikit tantangan dalam kata-katamu. 

Jungwon menyeringai, senyum nakal yang penuh arti dengan matanya menggelap karena nafsu dan hasrat saat ia menjawab, 

"Ahh kau menantangku ya, noona? Tapi.. aku enggak munafik kalo aku suka tubuh kakak." 

Ucapannya yang kelewat jujur, terang-terangan membuatmu menggigit bibirmu. Rona merah menjalar di pipimu dan tubuhmu bergetar karena kegembiraan dan antisipasi mendengar pujiannya. Saat Jungwon mengulurkan tangannya untuk menggenggam payudaramu, sentuhannya mengirimkan sentakan kenikmatan ke seluruh tubuhmu. 

"Mmm, Jungwon," rintihmu, suaramu berbisik pelan dan terengah-engah. Punggungmu melengkung, menekan payudaramu pada genggamannya sampai putingmu semakin mengeras di bawah sentuhannya. Jantungmu berdebar liar. 

"Ahh ssibal, noona... payudaramu bagus banget," gumamnya, suaranya rendah, geraman serak, terdapat sedikit kekaguman dalam kata-katanya. 

Kamu terkekeh, campuran geli dan antisipasi saat kamu menatap Jungwon, matamu berbinar nakal. "Kamu suka Jungwon? Ahh jangan ditahan..." gumammu. 

Jungwon menyeringai dengan senyum licik yang penuh arti. Matanya menggelap karena nafsu dan hasrat saat ia menjawab, "Dasar wanita lacur, aku akan membuatmu meneriaki namaku, noona." 

Kamu terpekik saat tangan-tangan Jungwon mulai meremas payudaramu dan ibu jarinya mengusap putingmu. Kamu mencondongkan tubuh ke genggamannya, menekan payudaramu ke tangannya. 

"Ahhh Jungwon!!" 

Kamu mendesahkan namanya saat jari-jari Jungwon menarik putingmu dan memutarnya. Tindakan yang leceh itu bikin kamu makin horni, membuatmh merasakan makin basah di inti tubuhmu. 

Kamu menatap Jungwon, matamu dipenuhi nafsu dan hasrat. "Jungwon, ahhh aku sudah gak kuat..." Kodemu dengan suaramu memohon dengan suara rendah dan putus asa. 

Jungwon, dengan kilatan nakal di matanya, memahami kodemu, tetapi bukan Jungwon namanya kalau dia tidak godain kamu. "Hah? Sudah gak kuat kenapa, noona?" tanyanya dengan nada mengejek, dan nada geli dalam kata-katanya, pura-pura tidak peka. 

Kamu mengoceh tak jelas, tubuhmu terasa sakit karena makin nafsu. Suaramu memohon dengan suara rendah dan putus asa. "Noona pengin dimasukin. Please, Jungwon, aku udah gak kuat lagi." 

Jungwon terkekeh, suara rendah bergemuruh yang membuatmu merinding. "Pengin dimasukkin apa, noona? Kalo ngomong tuh yang jelas, noona." 

Kamu mengerang kesal.. "Ahh Jungwon, pengen dimasukkin kontolmu ke pussyku. Please...." 

Jungwon tertawa riang, terdengar penuh kegembiraan dan kepuasan saat mendengar perkataan frustasimu. Matanya berbinar-binar nakal dan penuh hasrat saat ia meraih karet celana dalammu. Bokongmu sedikit terangkat ketika Jungwon menarik lepas celana dalam mu dan kewanitaanmu yabg sudah basah, berdenyut terekspos jelas. 

"Lebarin kakimu, noona," perintah Jungwon. Kamu pun hanya menurut dan melebarkan pahamu. Ia menurunkan celana pendek abu-abu dan celana dalamnya sehingga kain menggenang di kakinya dan ereksinya berdiri tegak, siap untuk melakukan penetrasi. 

Jungwon memposisikan dirinya, bergerak mendekat ke kamu dan tangannya mencengkeram pinggulmu. Batang ereksi Jungwon sedikit lebih besar dari suamimu masuk pelan-pelan ke dalam vaginamu merasakan lubangmu merenggang oleh diameter ereksinya. 

"Ahh Jungwon," erangmu. Dinding-dinding dalamu seketika menjepit di sekelilingnya, membuat cairanmu membasahi sepanjang batang penisnya, menjadi pelumas alami. 

Saat Jungwon terus menyetubuhimu, denyutan aneh dan perasaan berbeda menggelora dalam dirinya. Ada campuran rasa bersalah dan hasrat saat ia bercinta dengan istri kakaknya sendiri dalam tindakan nafsu terlarang. Ia menarik keluar sedikit, penisnya hampir terlepas dari vaginamu, sebelum menghentakkannya lebih dalam ke dalam dirimu. 

"Ahhh..." 

Kamu mengerang akibat sentakannya. Punggungmu melengkung saat dinding-dinding vaginamu menjepit sepanjang batangnya. Matamu, yang dipenuhi nafsu dan hasrat, bertemu dengannya seiring payudaramu memantul liar setiap gerakan erotis. Membuat Jungwon makin terpesona sama kamu. 

"Ahhh ahh Jungwon.... kamu jago banget daripada kakakmu ahh ahh," kamu meracau dengan jujur, dengan putus asa. 

Jungwon menggeram mendengar suaramu yang kelewatan jujur itu. Membuat penisnya berdenyut saat ia mempercepat gerakannnya. Pinggulnya bergerak lebih cepat, dorongannya lebih mendesak sambil tangannya meremas payudaramu dengan kuat. 

Tanpa kamu sadar, air matamu mengalir turun ke pipi, tersiksa oleh kenikmatan yang tinggi akan sodokannya yang terus mengenai titik ternikmatmu. Jungwon, dia mampu membuatmu terbang lebih tinggi. 

"Ahhh ahh noona.." Jungwon mengerang, dengan suaranya yang parau, berat, membuatmu merinding. Penisnya terus diremas oleh vaginamu, berusaha berlari mencapai klimaks. 

"Ahh Jungwon...let's cum together.." 

"Ahh ahh iya, noona." 

Pinggul Jungwon bergerak tak terkendali, menghujammu dengan ganas hingga membuatmu terengah-engah. Hingga akhirnya... 

"AHHH JUNGWON!!!" 

"AHH SSIBAL NOONA!!!" 

Kamu merasakan penis Jungwon berdenyut di dalam dirimu, memuncratkan orgasmenya yang panas, menandaimu sebagai miliknya. 

Jungwon merasakan antara kepuasan dan kegembiraan saat dia mencapai klimaks. Pinggulnya bergerak dalam dorongan terakhir yang putus asa, menumpahkan benihnya di dalam mu. 

Usai kalian berdua sudah mereda, meskipun napasnya masih memburu, Jungwon menarik diri dari penyatuan tubuh kalian dan ia merengkuh tubuhmu lebih erat lagi. Pelukannya kuat, nyaris putus asa, seolah-olah kamu akan menghilang jika ia sedikit saja melepaskan. Tubuhmu yang masih basah oleh keringat dalam dekapannya, dan di antara rasa panas yang masih menempel di kulit, ada sesuatu yang lebih mendalam mengalir: perasaan bersalah yang sama-sama kalian rasakan. 

"Maaf..." bisiknya, nyaris tak terdengar, tapi kamu merasakan hembusan hangat dari napasnya di telingamu. Kulitmu merinding, bukan hanya karena suara rendahnya, tapi karena ada luka yang ikut terbuka bersamaan dengan kata itu. 

Kamu mengatupkan bibir, menahan gejolak yang sulit dijelaskan. "Kamu nggak perlu minta maaf," katamu pelan sambil membalas pelukannya. Suaramu tidak gemetar, tapi jelas terasa berat. 

Namun Jungwon menggeleng, masih memelukmu tanpa niat melepaskan. Sikap tengilnya yang biasa kini hilang; tak ada lagi senyum nakal atau celetukan yang menggoda. Yang tersisa hanya sorot mata yang redup, seperti seseorang yang menyesali langkah yang sudah telanjur diambil, tapi tak bisa kembali. 

"Aku tetap salah..." gumamnya. "Apalagi sama kakakku..." 

Ada jeda sunyi di antara kalian setelah itu, cukup panjang untuk membiarkan segala rasa bercampur di udara-penyesalan, ketertarikan, kehangatan, dan rasa bersalah yang tak bisa dielakkan. 

Kamu akhirnya menarik diri sedikit, menatap wajahnya. Dan meski dadamu sesak, kamu memberinya senyum. Lelah, tapi jujur. 

"Selama kita bisa jaga rahasia ini... nggak apa-apa." Ucapanmu lirih, tapi yakin. Sebuah bentuk penerimaan yang tak selalu benar, tapi nyata adanya. 

Jungwon menatapmu dalam diam, seperti sedang mencoba membaca isi hatimu lebih jauh. Tapi kamu sudah tak bisa mundur. Tidak setelah apa yang terjadi. Tidak setelah rasa sepi yang selama ini kamu telan sendiri, akhirnya menemukan ruang untuk memenuhinya. 

Kamu menghela napas. "Aku juga... sebenarnya merasa bersalah sama suamiku sendiri. Tapi aku nggak bisa bohong, Jungwon. Aku butuh ini. Aku... butuh disayang, disentuh." 

Kamu menunduk sedikit, berbisik sejujur-jujurnya. "Aku kesepian. Dari dulu aku nggak setuju suamiku kerja di luar negeri. Aku lebih milih dia tetap di posisi lamanya, dekat rumah. Tapi... dia pilih pergi. Meninggalkan aku sendirian." 

Kamu menggigit bibirmu, menahan emosi yang mendesak. "Dan kamu... kamu datang di waktu yang salah tapi juga-anehnya-di waktu yang pas. Terima kasih, Jungwon, karena... udah ada di tengah sepinya aku." 

Jungwon menunduk, menyentuhkan keningnya ke bahumu. Pelukannya menguat, tak berkata apa-apa lagi. Tapi kamu bisa merasakannya—sesal, sayang, dan sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar rasa bersalah. 

Dan kamu membiarkannya tetap memelukmu di sana-di dalam kesalahan yang terasa terlalu hangat untuk disebut dosa, terlalu dalam untuk hanya dianggap pelarian.

「 ✦ End✦ 」

Komentar

Postingan Populer