[Ni-ki] Hot Boyfriend

 

「 ✦ NSFW Scene ✦ 」

Dan entah sejak kapan, kamu dan Ricky sudah berada diatas ranjang queen size. Bahkan, kalian berdua tidak sadar kalau pakaian kalian berserakan di lantai karena benar-benar dalam fase libido tinggi yang tidak bisa memainkan akal sehat. 

Kalian berdua sudah telanjang bulat di ranjang dan hanya lampu tidur di meja samping tempat tidur yang menyala, memancarkan cahaya lembut dan hangat ke seluruh tubuh kalian yang saling bertautan dalam pelukan dan ciuman yang panas. 

Kamu mengerang dengan suara melengking yang indah, perpaduan antara kenikmatan dan kejutan saat mulut Ricky memasuki putingmu ke dalam bibirnya. Ia mengisap dengan kuat, lidahnya menjilat dan berputar-putar, suara isapannya memenuhi ruangan. Tangannya yang lain meremas payudaramu satunya dengan sentuhannya yang dalam sampai jari-jarinya menusuk dagingmu. 

Ricky menarik diri sedikit untuk menatapmu dan napasnya tersengal-sengal. Kamu dapat melihat bagaimana matanya gelap oleh nafsu dan hasrat saat ia berbisik. "Ternyata..cewekku yang polos ini, punya perfect body." Bisik Ricky dengan suara dalamnya yang bikin kamu salah tingkah. "Kamu juga punya tetek gede, kenyel lagi." 

Dan ya, Ricky mendapatkan pukulan kecil dari kamu di kepalanya. Kamu udah malu banget karena ucapan Ricky yang blak-blakan. "Gak usah dijelasin detail ih, tinggal nikmatin aja!" Kamu protes untuk menyembunyikan kalo kamu suka sama pujiannya. Jadinya gengsi. 

Mulut Ricky kembali ke putingmu. Bibirnya menghisap, lidahnya menjilat sampai giginya saling bergesekan yang mampu mengirimkan sentakan sensasi langsung ke inti dirimu. 

"Ahhh Ricky." 

Kamu mendesahkan namanya saat merasakan kamu semakin horny. Kewanitaanmu sudah terasa sangat basah, rasanya pengin sekali disentuh oleh tangan kasar Ricky. 

Dan disinilah kamu, diperkenalkan sama pacar kamu pada dunia seks yang sebenarnya, yang belum pernah kamu alami sebelumnya. 

Kamu memegang kakimu yang terbuka melebar, menggantung di udara. Jantungmu berdebar kencang, malu dan gugup karena kewanitaanmu terekspos dengan bebas tapi merasakan kegembiraan juga. Ricky berlutut di antara pahamu, matanya menatapmu lekat-lekat dengan senyum licik nan penuh arti tersungging di bibirnya. 

"Santai aja, sayang. Gak usah gugup, nanti kamu bakalan ketagihan kok." 

Ucapannya yang kelewat pede itu, kamu hanya memutar bola matamu malas sambil mencibir. 

Barulah Ricky mencondongkan tubuh ke depan, menenggelamkan wajahnya diantara pahamu. Kamu merasakan napasnya panas di kulit basahmu, lidahnya melesat keluar dan menjilati sepanjang lipatan basahmu. 

"Ahh Ricky...geli ihhh.." 

Gerakannya lambat dan hati-hati yang bisa membangkitkan kenikmatanmu, membangun ketegangan di tubuhmu. Kamu yang selalu dikenal tidak vokal, kini jadi vokal dengan pekikanmu yang melengking saat ia melahap vaginamu dengan nikmat. 

"Ricky... ahh... ahh enak bangett." gumammu, suaramu bercampur antara senang dan terkejut. Tubuhmu jadi gemetaran dan otot-ototmu menegang saat ia mengisap klitorismu.Malahan, jari-jarinya menggoda lubang vagina virginmu. 

Ricky sedikit menjauh, napasnya tersengal-sengal dan matanya gelap karena nafsu dan hasrat. "Enak banget sayang memek mu. Kayak es krim tau gak." 

Kamu menggigit bibirmu, rona merah menjalar di pipimu saat Ricky godain kamu dengan kalimat cabulnya. Kali ini, kamu tidak memukul atau menampar Ricky karena bilang itu, tapi karena kamu menyukainya. Dia bilang begitu, makin terlihat pacarmu makin hot. 

Penyiksaan kenikmatan dalam foreplay ini tak berakhir begitu saja. Kamu tersentak kaget saat jari Ricky meluncur ke dalam dirimu. Dengan sengaja gerakannya lambat dan hati-hati karena kamu masih perawan. Jarinya melengkung, menyentuh titik manis di dalam dirimu, membuatmu tersentak kaget dan seperti melayang lebih tinggi. 

"Sayang... ahh... kamu nyentuh apa? Rasanya... ahh... enak bangethh..." 

Desahmu, dan tubuhmu secara naluri menjepit jarinya, yang membuat cairan dinding dalam mu membasahi tangannya. 

Ricky terkekeh dan jarinya bergerak lebih cepat, sentuhannya lebih mendesak sambil ia bergumam, suaranya seperti dengkuran rendah yang menggoda. "Itu titik G-spotmu, sayang. Itu yang bikin kamu keenakan." 

Makin lama, jari Ricky makin bergerak keluar masuk dengan cepat. Hingga akhirnya, Kamu menjerit dan tubuhmu gemetaran hebat saat kamu squirt pertama kali. Cairanmu yang bening itu memancar keluar seperti air mancur. 

Ricky tersenyum bangga, yang bikin kamu makin malu tapi pacarmu memberikan afirmasi yang bikin kamu kaget sekaligus baper. 

"Ga usah malu, sayang. Itu artinya kamu nikmatin banget tadi." 

Dan malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidupmu, Ricky mengambil keperawananmu. Kamu gugup saat ia memposisikan dirinya di antara pahamu. Kejantanannya yang keras itu menekan lubang surgawimu. 

Kamu tidak menyangka bisa melihat Ricky se paling hot ini untuk pertama kalinya saat kalian berdua berada dalam posisi misionaris. Mata kalian saling terpaku satu sama lain, perpaduan hasrat dan kelembutan dalam tatapannya, saat ia menembusmu. Diameter penisnya mampu meregangkan lubangmu yang sempit dan surgawi. Sensasi baru dan intens itu yang membuatmu merintih kesakitan. 

Meskipun kamu mencoba untuk rileks, seperti tuntunan dari Ricky, rasa sakit itu tetap saja terasa. 

Tapi, Ricky itu pria yang gentle. Sentuhannya tegas namun lembut. Dia sepenuhnya membenamkan penisnya di dalam vaginamu, membiarkanmu terbiasa dengan ukurannya. Dia memberimu ciuman yang lama di bibir sebagai pengalih perhatian dari rasa sakit. Hingga kemudian 

"Sayang, rasanya... gak sakit lagi..." 

Kamu berkata dengan suaramu berbisik pelan dan terengah-engah. Ricky mengerti maksudmu dan pinggulnya mulai bergerak. Sepanjang batangnya meluncur masuk dan keluar, terus menerus mengenai titik G-spot mu. 

"Ahhh ahh fuck..memek mu sempit banget, sayang." 

Erangan Ricky yang terdengar seksi, seperti sebuah hipnotis yang membuatmu makin horny. Setiap hentakan, mampu meloloskan desahanmu. Kamu gak bisa berkata apa-apa saking enaknya sama sodokan penis Ricky. 

Dan seolah melupakan dunia luar, kalian berdua semakin panas dalam seks yang penuh gairah ini. Ricky terus menyodokmu dengan staminanya yang kuat. Pinggulnya bergerak dengan ritme yang tak henti-hentinya membuat suara kulit kalian yang saling terbentur nyaring, sementara derit ranjang dan erangan keras kalian memenuhi kamar Ricky menjadi sebuah bukti bahwa kalian saling mencintai satu sama lain. 

"Ahh..ahhh sayang ahhhhh... udah gak kuat..." kamu mendesah memohon. 

Tubuh kalian berdua berkeringat sampai-sampai AC tak mampu mendinginkan panasnya gairah kalian. Sementara seprai di bawah kalian basah, akibat kamu gampang squirt, salahkan Ricky yang gampang nyodok G-spotmu. 

"Ahh ahh sayang!!!" Kamu mengerang keras, memekik kaget saat Ricky tiba-tiba menggosok klitorismu dengan jarinya cepat. Kamu jadi makin dibuat gila. Tak menyangka Ricky jago banget disini, bikin kamu kewalahan banget menghadapi staminanya yang seperti kuda. 

"Anjing, kamu seksi banget, sayang ughh.. sempit bangetthh," gumam Ricky. Dia memujimu dengan kata-katanya yang cabul dan penuh gairah. Matanya menjelajahi tubuhmu, menikmati pemandangan payudaramu yang memantul liar dan putingmu yang keras serta sensitif sejak tadi. 

Dan akhirnya, kalian berdua mencapai klimaks bersama dan tubuh kalian bergetar. Kamu squirt begitu deras beriringan vaginamu menjepit penisnya, melumasinya. 

Ricky terus bergerak sambil menggeram,  penisnya berdenyut dan menyemprotkan spermanya ke dalam dirimu, memenuhimu sepenuhnya, menandaimu sebagai miliknya. 

Usai beberapa menit setelah Ricky menarik diri dan menyelimuti tubuh kalian berdua dengan bed cover. Napas kalian masih belum sepenuhnya stabil, dan aroma lembut dari tubuh Ricky yang masih hangat di dekatmu perlahan menenangkan. 

Kamu menyandarkan kepalamu di lengannya yang kokoh saat Ricky berbaring dan bersedia lengannya jadi bantal kepalamu. Sementara jari-jari Ricky terus mengusap pelan kulit di sepanjang lenganmu. 

“Masih hidup?” tanyanya, pelan tapi menggoda, sembari menoleh menatapmu yang sudah memejamkan mata setengah pasrah. 

Kamu mendesis kecil. “Masih... tapi kalau kamu gangguin aku lagi, bisa-bisa aku tewas beneran.” 

Ricky tertawa kecil. “Tapi kamu tadi nikmatin banget loh. Baru tahu ya rasanya?" 

“Ish, diem, Ricky...,” kamu membuka mata, meliriknya malas, “... kamu nyebelin banget deh. Masih sempet-sempetnya ngejekin aku, Ugh.” 

Ricky menyeringai. “Tapi kamu gemesin banget sumpah." 

Kamu menghela napas, menggigit ujung selimut sambil memukul dada Ricky pelan dengan punggung tanganmu. “Tau ah, sebel." 

“Lho, padahal kamu sendiri tadi yang mulai,” jawabnya santai. “Tiba-tiba naik ke pangkuanku, tiba-tiba nyium duluan. Nggak kasih aba-aba. Cowok juga bisa kaget tahu nggak?” 

“Tapi kamu seneng kan?” 

Ricky menoleh, mendekatkan wajahnya ke pipimu dan berbisik pelan di telingamu, “Banget.” 

Pipimu memerah. Kamu menarik bed cover lebih tinggi, menyembunyikan separuh wajahmu. Tapi setelah beberapa detik diam, kamu menggumam pelan, dengan suara yang hampir tenggelam dalam lipatan selimut: 

“Tapi... aku seneng. Maksudku, tadi barusan... bikin aku bersyukur punya cowok seganteng dan... se-hot kamu, sayang.” 

Ricky terdiam sejenak. Lalu dia langsung tertawa—tertawa renyah yang membuat dadanya naik turun di bawah pipimu. 

“Cieee... akhirnya ngaku juga ya. Cewek polos gini, tapi pengakuannya kayak gitu,” katanya sambil mengacak rambutmu dengan manja. 

Kamu mendorong wajahnya pelan, setengah malu. “Ya abis mau gimana. Kamu emang... ya gitu. Gampang bikin aku... lemah.” 

Ricky mengangkat sebelah alis. “Lemah gimana? Di pangkuan? Di ciuman? Atau waktu aku—” 

Kamu langsung menutup mulutnya dengan telapak tanganmu. “SSHH! Jangan lanjutin!” 

Tapi Ricky hanya terkekeh, mencium telapak tanganmu cepat sebelum kamu sempat menariknya. 

Lalu, ia menatapmu dengan pandangan yang lebih lembut. Lebih serius. 

“Thank you ya, sayang... buat percaya sama aku. Buat... nunjukin sisi kamu yang itu. Aku tahu, itu pasti butuh keberanian.” 

Kamu mengangguk pelan dan memeluknya. “Aku juga seneng... karena kamu gak pernah maksa.” 

Ricky membalas dengan pelukan yang lebih erat. “Of course. You’re mine... tapi kamu tetap punya kendali atas diri kamu sendiri. Selalu.” 

Malam itu, kalian berdua akhirnya hanya saling diam di bawah selimut, saling menyentuh tanpa berkata-kata. Tapi kehangatan yang mengalir di antara kalian... lebih dari cukup untuk jadi jawaban dari semuanya. 



Pagi itu, matahari masuk perlahan lewat celah gorden kamar Ricky. Suara burung dari luar jendela bercampur samar dengan derit pelan dari kasur yang masih berantakan. 

Kamu bangun lebih dulu, menarik diri dari selimut perlahan agar tak membangunkan Ricky—yang masih terlelap, wajahnya damai dan rambutnya sedikit acak-acakan, kontras banget sama malam tadi… yang jelas tidak damai. 

Kamu menghela napas. 

Perlahan kamu turun dari ranjang. 

Dan langsung terhuyung. 

“Aduh…” kamu menggigit bibir sambil berdiri dengan bagian selangkangan yang terasa aneh. “Ini apa... kram? Pegal? Nyeri banget.” 

Langkahmu ke kamar mandi tidak bisa dibilang normal. Lebih seperti... orang habis naik kuda 3 hari. Kamu sempat berpegangan ke dinding, mengumpat pelan. 

Tapi baru beberapa detik kemudian, kamu dengar suara berat Ricky dari balik selimut, masih setengah sadar. 

“Sayang... kok jalannya kayak nenek-nenek?” 

Kamu menoleh tajam, “Diam, kamu!” 

Ricky tertawa—tawa pagi yang nyebelin dan puas. Ia bangkit duduk, still completly naked, menyisir rambut ke belakang dengan satu tangan. “Astaga, kamu tuh lucu banget. Baru juga semalam... udah kayak zombie pagi-pagi.” 

Kamu mendengus, nyebelin banget ekspresi tengilnya itu. 

“Bukan lucu, itu namanya korban. Aku tuh korbanmu, ya!!” 

“Korban apaan?” 

“Korban stamina kamu yang ngaco!” kamu berseru kesal, meski nadamu masih bercampur malu. “Aku bahkan takut... ranjang kamu patah.” 

Ricky ngakak. “Serius deh, ini ranjang bagus dari Jepang. Kayu solid. Kalau patah, aku siap tanggung jawab.” 

“Patah harga diriku iya!” Kamu beralih duduk pelan di sofa, meringis sambil memijat pahamu sendiri. “Baru kali ini kaki aku pegal bukan karena olahraga.” 

“Berarti,” Ricky berdiri dan jalan mendekat ke arahmu sambil meregangkan otot bahunya, “latihan kita berhasil. Next time bisa lebih... kuat.” 

“Next time?!” 

Kamu langsung lempar bantal sofa ke wajahnya. Ricky menangkap bantal itu dengan refleks dan meletakkannya ke pangkuanmu, lalu jongkok di depanmu. 

“Maaf ya, kalau tadi malam… agak brutal.” 

Kamu memandangnya sebentar. “Agak???” 

Ricky menyeringai. “Tapi kamu suka kan?” 

Kamu memutar mata. “Tolong jangan bahas itu sambil aku masih kesusahan jalan, ya? Ini semua salah kamu tau nggak. First time aku, eh kamu malah stamina-nya kayak dibekelin tenaga badak.” 

“Badak?” Ricky tertawa keras sekarang. “Yakin bukan karena kamu yang terlalu… hot semalam?” 

"RICKY!!" 

Ricky tertawa lagi, lalu mencium tanganmu pelan. “Oke deh, nanti aku bikinin sarapan sebagai permintaan maaf. Kamu tinggal duduk manis sambil nonton aku telanjang dada di dapur.” 

Kamu pura-pura jijik. “Astagaaaa. Pagi-pagi loh, Rick.” 

Akhirnya, dengan tubuhmu yang masih terasa lemas, Ricky menggendongmu menuju kamar mandi. Tatapan matanya lembut, namun senyum tengilnya tetap tak pernah absen. “Kita bersih-bersih dulu, sayang. Tapi jangan salah sangka, ini murni karena aku perhatian, bukan modus,” godanya sambil mengedipkan sebelah mata. 

Kalian pun berendam di bathtub berisi air hangat, saling bersandar, saling menatap. Embun di cermin mulai terbentuk, sementara uap tipis menyelimuti ruangan. Sesekali, kamu menyandarkan kepala di bahu Ricky, sementara tangannya mengusap lembut tanganmu yang terendam. Tak jarang juga dia mencium keningmu tiba-tiba atau menggoda dengan lirikan nakal yang membuatmu mencubit pelan perutnya. Kalian tertawa bersama, membuat suasana hangat itu terasa lebih hidup. 

Dan kini, beberapa jam setelahnya, kamu sudah mengenakan kaos Ricky yang jelas kebesaran di tubuhmu, jatuh sampai paha. Rambutmu masih sedikit basah, sementara kakimu dibungkus celana pendek. Ricky, yang hanya mengenakan celana training hitam berdiri di dapur—sibuk menyiapkan sarapan seperti yang dia janjikan tadi malam. 

Aroma roti panggang dan Vanilla latte menyambutmu saat kamu duduk di meja makan dengan tubuh masih sedikit pegal tapi hati terasa penuh. Ricky sesekali melirikmu dari dapur, menyeringai kecil saat melihat kamu duduk dengan gaya lesu sambil menopang dagu. “Masih ngambek karena jalanmu aneh?” sindirnya, membuatmu melempar tatapan tajam tapi penuh cinta. 

“Gak tau...” gerutumu, malu-malu. 

Dia hanya terkekeh, lalu datang membawa dua piring sarapan, meletakkannya di depan kalian berdua. Saat kalian makan bersama, tanpa kata-kata besar, kamu merasa tenang. Di hari minggu yang santai, setelah malam yang panas tapi penuh cinta, kamu merasa utuh. 

Ricky memang suka usil. Gaya cool-nya bisa bikin gemas sekaligus kesal. Tapi di balik itu, dia perhatian, lembut saat dibutuhkan, dan—entah sejak kapan—mampu membuatmu merasa... aman. 

Mungkin, kamu mulai berpikir, kalau pria ini... memang tercipta untuk jadi rumahmu. 

Dan mungkin, di balik semua keusilannya, Ricky pun merasa hal yang sama.


Komentar

Postingan Populer