[Ni-ki] Mengintip Sang Keponakan
「 ✦ NSFW Scene ✦ 」
Di sana. Di atas ranjang. Ada Riki.
Tapi dalam keadaan telanjang bulat.
Cahaya redup dari layar laptopnya menyinari sebagian tubuhnya, menyoroti kulit putihnya yang tampak lembap oleh keringat, membentuk bayangan tajam di sekitar otot-otot perut dan dadanya yang kencang. Nafasnya memburu, dada bidangnya naik turun dengan ritme cepat. Tapi yang benar-benar membuatmu membeku...
Tangannya.
Menggenggam erat batang kejantanannya yang keras dan tebal, digenggam penuh oleh tangan kanannya, lalu digerakkan naik-turun dengan tempo kasar dan bersemangat.
"Hhh—ah, fuck... sange banget anjing..." gumamnya berat, suara erangan dalam itu memecah keheningan kamar.
Matanya terpejam rapat, keningnya berkerut, dan mulutnya sedikit terbuka, menggigit bibir bawahnya seakan menahan desakan nikmat yang memuncak.
Di depan tubuhnya, layar laptop menampilkan video vulgar: seorang cewek bugil duduk bersandar sambil colmek, dua jarinya sibuk mengelus klitoris yang basah sambil mendesah tinggi. Suaranya mengalun dari speaker laptop, bercampur dengan desahan Riki sendiri.
"Ahh—gitu terus... kontol gue keras banget liat lo ngangkang gitu, bitch..." desis Riki sambil menggeram, tangannya makin cepat mengocok penisnya yang basah karena lubricant. Ada suara lengket dari gerakan itu, suara yang menjalar sampai ke telingamu dan bikin jantungmu makin tak beraturan.
Urat di batangnya terlihat jelas, kepala penisnya mengilat kemerahan, mengembang tegang seakan siap meledak. Jari-jarinya menggenggam kuat, sesekali menggilir gerakan dari pangkal hingga ke kepala dengan tekanan yang bikin kamu ikut menahan napas.
"Sange banget gue, anjing... pengen ngentot..." erangnya lagi, kali ini lebih rendah, seperti geraman binatang buas.
Kamu tak bisa bergerak. Tak bisa berpaling. Tubuhmu panas seketika, tenggorokanmu kering. Ada sesuatu dalam dirimu yang bergejolak melihat bentuk tubuh Riki yang sempurna: garis V di pinggulnya, badan yang kokoh, dan batang kejantanannya yang berdenyut tanpa ampun.
Kamu telan ludah, keras. Pandanganmu tetap terkunci pada adegan di balik celah itu... dan kamu sadar: kamu basah.
Dan kamu belum beranjak sedikit pun.
Sialan.
Perkataan Riki tadi... kasar, cabul, penuh desahan haus yang tak tertahan—dan justru itu yang membuatmu makin tergoda.
Tatapanmu tak lepas dari gerakan tangan Riki yang masih sibuk mengocok batang kejantanannya seiring kamu menimbang apa pilihanmu sekarang, mau pergi atau ikut bantuin keponakanmu yang sudah sange berat itu.
Suara dari laptop menambah suasana makin erotis—cewek di video mendesah tinggi, gemetar, terdengar menggeliat dalam klimaks, dan itu membuat Riki makin beringas.
"Hhh—ngentot... sange banget gue, anjing..." desis Riki sambil menggeram. "Liat lo ngangkang gitu, ah... pengen banget gue tusuk lo sampe nangis, bitch... basah banget kontol gue, ahhh..."
Tangannya makin cepat, suara lengketnya makin kencang, otot lengannya menegang. Dari celah pintu, kamu melihat jari-jarinya menekan batang kerasnya hingga kepalanya berdenyut hebat, mengeluarkan sedikit pre-cum yang meleleh di sela jari.
"Ah fuck, jilat kontol gue... ahhh, yes—ngedesah terus, lonte kecil, gitu... gitu... ahhh..."
Suara cewek di video memuncak:
"Aahhh... ohhh... yes yes yes!! Auhh!" suara tinggi itu berpadu dengan deru napas berat Riki sendiri. Tangannya kini menggenggam batangnya dengan dua tangan sekaligus, seolah tak cukup satu untuk menahan gairahnya.
Kamu tahu kamu gak bisa cuma berdiri dan nonton.
Dengan napas tertahan, kamu ulurkan tanganmu pelan. Gagang pintu kamu dorong perlahan, sangat hati-hati agar tak berbunyi. Engselnya tidak berderit—sempurna. Pintu itu terbuka lebih lebar, membiarkan tubuhmu melangkah masuk ke kamar, diam-diam tapi mantap.
Tapi Riki sadar.
Mata yang tadi terpejam terbuka tiba-tiba, wajahnya menoleh ke arahmu, tubuhnya reflek tegak. Dia kaget, tak percaya melihatmu berdiri di ambang pintu... dengan tatapan penuh kenakalan, bibir tersenyum kecil seolah kamu baru saja menangkap pencuri kecil di ranjangmu.
Tangannya buru-buru melepaskan batang kejantanannya dan menarik bantal untuk menutupinya.
"A-anjir... tante... ngapain di sini?!" katanya terbata, wajahnya merah padam. Tapi kamu tak menggubris kegugupannya.
Dengan satu gerakan ringan, kamu lepaskan simpul jubahmu.
Kain itu jatuh ke lantai seperti kelopak bunga yang meluruh... dan kamu berdiri di sana, bugil, tubuhmu terekspos penuh oleh cahaya remang dari laptopnya.
Kamu menatapnya langsung, lalu dengan nada menggoda kamu berbisik:
"Katanya pengen ngentot, ya?"
Matanya membesar. Mulutnya terbuka setengah, seperti ingin bicara tapi tak tahu harus mulai dari mana. Tangannya masih menekan bantal ke selangkangan, tapi kamu paham... batang itu masih tegang, bahkan makin keras melihatmu berdiri telanjang begitu di hadapannya.
Riki masih terpaku, matanya tak bisa lepas dari tubuhmu yang kini bugil saat kamu berjalan mendekati ranjang dan menyalakan lampu tidur di nakas. Kamu bisa lihat bagaimana pandangannya menelusuri tiap lekuk tubuhmu—dari bahu yang terbuka, dada membusung sempurna, pinggang ramping hingga pinggul montok yang menggoda. Kamu tahu kamu punya tubuh yang terawat. Kamu tahu efeknya ke pria seusia dia.
Dan kamu menikmati kekagumannya.
Kamu terkekeh pelan, melangkah perlahan untuk berada di depan Riki seperti predator yang mendekati mangsanya.
"Kenapa liatin tantenya kayak gitu, hmm?" bisikmu lembut, menggoda. Kamu menutup laptop Riki dan sempat taruh di meja bawah TV. Lalu, kamu merangkak naik ke atas kasur. Gerakanmu sengaja lambat, sensual, membiarkan payudaramu bergoyang pelan tiap kamu merangkak maju. "Suka ya?"
Riki menyeringai. Pandangannya malah makin liar, dan tanpa ragu, dia membuang bantal yang semula menutupi selangkangannya ke lantai. Batangnya kembali terlihat, tegang, keras, berdiri seperti ingin menantang tubuhmu yang semakin mendekat.
"Gila... aku gak nyangka tante punya body sesemok ini," gumam Riki, nadanya rendah dan serak. "Tante binal banget, liat keponakan lagi coli malah makin horni..."
Kamu tertawa kecil, suara tawa itu berat dan manis, membuat Riki makin tegang.
"Kalo tante ngajak ngentot, kamu mau?" bisikmu, menggoda dengan bibir nyaris menyentuh bibirnya. "Katanya kamu pengen ngentot?"
Riki tak ragu. "Mau banget..."
Kamu langsung menindih tubuhnya, tanganmu menopang di sisi kepala Riki, dan bibirmu menempel ke bibirnya tanpa aba-aba. Ciumannya dalam, rakus. Bibir kalian saling menyedot, menggigit pelan, lalu terbuka… lidahmu menyelusup masuk, menyambar lidahnya, memelintirnya dalam permainan basah dan panas. Ciuman kalian liar, penuh suara kecapan dan desahan tertahan.
Riki membalas dengan berani. Tangannya naik ke dadamu, meremas salah satu payudaramu dengan kasar, penuh nafsu, jari-jarinya menggenggam dan menekan putingmu yang mulai mengeras. Satu tangannya lagi melingkar ke pinggangmu, menarik tubuhmu lebih dekat agar selangkanganmu menekan batang kerasnya.
Napas kalian belum stabil, ciuman masih terasa di bibirmu saat tiba-tiba Riki membalikkan keadaan.
Dengan gerakan kuat tapi terkontrol, dia menggulingkan tubuh kalian sehingga kamu terkejut saat punggungmu menyentuh ranjang. Dia menindihmu sekarang, tubuhnya yang panas dan keras menekanmu, membuatmu terengah karena sensasi dominasi yang mendadak.
"Tante nikmatin ya... tapi biar aku yang pegang kendali malam ini," gumam Riki sambil menyeringai puas.
Kamu hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan, matamu menatapnya penuh antisipasi.
"Lebarin kakinya, Tante. Biar aku bisa kerja," ucapnya datar tapi memerintah.
Kamu menurut tanpa ragu. Kakimu membuka lebar perlahan, menyisakan ruang di antara paha yang kini hangat dan basah, terbuka lebar untuknya. Riki langsung bergerak, menunduk ke arah dadamu, lidahnya menjulur dan langsung menyambar puting kananmu yang mengeras karena udara dan gairah.
"Ahhh—Riki...!" eranganmu meluncur tanpa kontrol. Tanganku naik refleks, menekan kepalanya lebih dalam ke payudaramu, mendorongnya agar hisapannya makin dalam.
"Terusin... jangan berhenti...! Hhhh—nnghh... sedot, Rik... sedot lebih dalem...!"
Lidahnya melingkari putingmu, lalu disedot keras-keras hingga terdengar suara basah yang menggema di kamar. Bersamaan dengan itu, jari-jarinya menyelusup ke arah vaginamu yang sudah basah kuyup, lalu mulai gesekin dalam gerakan cepat dan berirama.
"Tante makin sange... udah becek gini sebelum aku masukin..." gumamnya pelan di antara sela-sela putingmu yang masih dilumat.
"Aaahh... aaahhh! Riki! Nggg... sumpah... sumpah... aku nggak tahan!" desahmu makin liar. Panggulmu bergeser mengikuti gerakan jarinya, dan rasa itu makin menumpuk.
"Rik... Rik, sumpah... kayak mau... aku... mau pipis...!"
Riki tiba-tiba berhenti menyedot putingmu dan mendongak, menatap wajahmu dengan seringai kecil penuh kesombongan.
"Mau pipis? Di jari aku?" ejeknya, suaranya rendah dan cabul. "Tante udah kayak lonte kecil, baru dicolmekin dikit udah mau muncrat..."
Tapi dia nggak berhenti. Bahkan sekarang dia tegakkan tubuhnya, duduk di antara kakimu, dan jari-jarinya makin brutal colmekin kamu. Dua jari menyelusup masuk dengan kasar, gerakannya cepat, menghantam titik-titik sensitif di dalammu tanpa ampun.
"Ayo... keluarin... aku pengen liat Tante pipisin tanganku... biar makin basah lagi!"
Kamu berteriak saat sensasi itu akhirnya meledak.
"AHHHH RIKI!! AKU... NGGGHH—!"
Cairan hangat menyembur keluar dari vaginamu, membasahi jari dan tangan Riki, serta ranjang di bawahmu. Napasmu terputus-putus, tubuhmu gemetar tak terkendali.
Riki hanya menatapmu, tangannya masih basah, lalu terkekeh cabul.
"Tante... baru juga pemanasan udah disemburin kayak gini... siapa yang binal sekarang?"
"Iya... aku yang binal..." suaramu terdengar parau, lelah oleh erangan, tapi penuh pengakuan.
Riki terkekeh puas mendengarnya. Wajahnya masih dihiasi seringai nakal, dan tubuhnya perlahan menempatkan dirinya di antara kakimu yang masih terbuka lebar.
Kamu menatapnya, napas masih berat, jantung masih menghentak di dalam dada. Tapi fokusmu sepenuhnya tertuju pada batang kejantanannya yang kini berada di genggamannya sendiri.
Riki meludahi telapak tangannya, lalu membasahi kepala penisnya dengan cairan itu sebelum menuntunnya ke arah celah vaginamu yang sudah becek dan hangat. Kepala merah itu menyentuh bibir vaginamu, dan kamu refleks menarik napas tajam.
"Nggghh... pelan... Riki..." bisikmu nyaris memohon.
Tapi dia hanya menyeringai lebih lebar. Lalu...
Dia dorong pelan.
"AAAHH!" jeritmu pecah seketika, tubuhmu menegang saat batang kerasnya mulai merenggangkanmu, memaksa lubang sempitmu terbuka untuk menerima ukurannya.
Riki mendesis, rahangnya mengeras.
"Anjing... ketat banget, Tante... kontolku kejepit..." gumamnya kasar, suaranya berat dan penuh nafsu.
Dia mulai mendorong lagi, lebih dalam.
"Ngggghh—haaahh...!" tubuhmu bergetar di bawahnya, tanganmu mencengkeram seprai ranjang erat-erat.
Riki mencengkeram pinggulmu dengan kedua tangannya, dan mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, nyodokmu perlahan tapi mantap.
"Tante kayak ngehisep batang aku... suka ya dijebol keponakan sendiri?" ejeknya sambil mengerang.
Kamu hanya mampu mengangguk cepat, mulutmu terbuka tanpa bisa membalas. Setiap gerakan itu membuat payudaramu memantul makin liar.
"Ahh... ahh... Riki... dalam banget... iya... terus! Jangan berhenti!"
Keringat mulai mengalir di keningmu, rambutmu berantakan, tapi kamu tak peduli. Rasanya panas, penuh, memuaskan sampai menusuk ke otak.
"Tante binal banget... suka ya dilecehin sama bocah gini?"
"Iya! Aku suka! Aku suka, Riki! Jangan berhenti.... ouhhhh jangan berhenti!" jeritmu sambil meracau, tubuhmu menggeliat liar di bawahnya, dilibas tanpa ampun oleh batang keponakanmu sendiri.
Ranjang bergoyang, suara kulit yang bertemu kulit memantul di ruangan bersama desahan, erangan, dan ejekan cabul yang makin menggila.
Kamu sudah tak tahu lagi berapa lama tubuhmu disodok tanpa ampun oleh batang keras Riki. Tapi setiap tusukannya... setiap gerakannya... selalu menghantam tepat di titik itu—titik manis tersembunyi di kedalamanmu yang membuatmu menggeliat liar.
Setiap kali dia keluar masuk, tubuhmu melengkung, napasmu terputus-putus. Dinding dalammu mencengkeram batangnya kuat, membuat gesekannya makin intens, makin panas.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Riki turunkan satu tangannya dan ibu jarinya langsung menekan klitoris kamu yang sudah bengkak dan sangat sensitif.
"AHHHH! RIKII!"
Dia mulai menggosoknya cepat. Jempolnya melingkar-lingkar, menekan, menggesek kasar dengan irama yang kejam.
"Ngggghh—nggak tahan—aku... AKU KELUARR—!"
Tubuhmu menegang keras, kakimu mencengkeram ranjang, lalu seketika semburan hangat menyembur keluar dari dalammu. Kamu berteriak keras, gemetar hebat, dan cairanmu muncrat deras membasahi selangkangan Riki dan seprai.
Riki menatapmu, napas berat dan wajahnya diliputi nafsu yang makin membakar.
"Hah... anjing, Tante squirt keras banget... becek banget..." gumamnya sambil menyeringai cabul.
Batangnya masih berdiri tegak, masih keras, berdenyut siap meledak, tapi jelas dia belum orgasme.
"Sekarang, ganti posisi doggy."
Kamu menurut tanpa bicara. Nafasmu masih belum stabil, tubuhmu masih gemetar, tapi kamu langsung berlutut, menungging di ranjang, memperlihatkan bokong montokmu yang berkilau oleh sisa cairan dari orgasme barusan.
Riki langsung berlutut di belakangmu.
"Bagus... begini lebih gampang buat Riki rusakin tante."
PLAKK!
Tangan Riki mendarat keras di bokong kirimu. Suaranya nyaring, rasa panas langsung menjalar, dan kamu mendesah keras karena tamparan itu justru makin memanaskan tubuhmu.
"Auhhh... Riki... lagi...!" erangmu liar.
Riki pegang batangnya, menekan kepala penisnya ke bibir vaginamu dari belakang, lalu tanpa ragu mendorong masuk dengan satu hentakan kuat.
"AHHHHHH!!" jeritmu terpecah, tubuhmu terdorong ke depan, tanganmu mencengkeram ranjang.
Dan Riki mulai menghajarmu cepat. Gerakannya brutal, keras, dan bertempo tinggi. Tubuhmu terpantul-pantul ke depan, payudaramu memantul liar, pantatmu bergetar setiap kali dipukul oleh tubuhnya.
Kamu tak lagi malu. Tak ada lagi kontrol. Kamu pasrah, tubuhmu jadi miliknya sepenuhnya, dan setiap kali dia menghina, justru kamu makin basah... makin tunduk... makin submisif.
"Anjing... suka banget Tante dijadiin pelampiasan ya? Dilecehin dari belakang begini... kayak betina sange..."
"Iya! Iya Riki! Lecehin aku! Ahh.. ahhh" kamu teriak, nyaris menangis karena rasanya terlalu nikmat, terlalu intens, terlalu menggila.
Tubuhmu masih terguncang oleh hentakan Riki dari belakang, bokongmu panas karena terus ditampar tanpa henti.
Erangan Riki makin berat, makin frustasi. Kamu bisa dengar gumaman geramnya, kasar, penuh tekanan.
"Anjing... sumpah... mau keluar..."
Kamu menoleh sedikit, wajahmu merah, mata setengah terbuka karena nafsu.
"Keluar bareng aku, Riki... ayo cum bareng... ayo...!"
Riki meraung, tangannya mencengkeram pinggulmu makin kuat.
"SIAP! AKU KELUAR... TANTE, JEPIT AKU!"
Dan kamu melakukannya. Otot vaginamu mengencang, menjepit batang Riki yang masih menancap dalam, dan di saat bersamaan, gelombang klimaks terakhir menghantam seluruh saraf di tubuhmu.
"AHHHHH—RIKI!!"
Tubuhmu kejang, cairanmu kembali menyembur, dan Riki pun menghentak masuk satu kali—keras, dalam—hingga pangkalnya menekan habis ke tubuhmu.
"FUUUCKK!"
Dia meledak di dalammu. Spermanya memancar deras, hangat, memenuhi lubangmu yang masih menggeliat.
Beberapa detik kalian berdua terdiam. Terengah-engah. Nafas berat, tubuh basah oleh keringat dan cairan. Kamu ambruk ke depan, tubuhmu terhempas ke ranjang, lemas tak berdaya.
Riki menarik dirinya perlahan dari dalammu, dan kamu bisa merasakan betapa lubangmu langsung mengalirkan sisa dari ledakan barusan.
"Tante ampe nyembur lagi... dan sekarang becek banget nih..." katanya sambil terkekeh melihat cairan kental keluar dari vaginamu.
Kamu berbalik, terlentang sambil tersenyum lelah, dan menatap Riki yang juga jatuh di sampingmu.
"Gila... kamu jago banget, Rik... panas banget..." katamu sambil tertawa kecil.
"Tante juga... anjir... aku belum pernah ngentot sepanas itu..."
Kamu melirik ke bawah... dan matamu membelalak.
"Kok... masih keras?"
Riki menyeringai, lidahnya menjilat bibirnya.
"Lah iya dong... Tante pengen lanjut?"
Kamu hanya menjawab dengan anggukan semangat. Riki langsung merebahkan diri di kasur, tangannya bersilang di belakang kepala dan kamu geser tubuhmu ke atasnya.
Kamu duduk berlutut dengan paha terbuka, tubuhmu masih gemetar tapi penuh semangat. Tangamu meraih batang kerasnya, masih licin oleh cairan barusan, dan kamu arahkan ke pintu masuk vaginamu yang siap basah kuyup lagi.
"Sekarang... tante yang atur, ya?"
"Terserah Tante... Riki tinggal nikmatin aja..."
Kepala penisnya mulai menekan masuk.
Kamu turunkan tubuhmu perlahan, pelan... merasakan setiap sentimeter batangnya menyusup masuk ke dinding basahmu.
"Ahhhhhh..." eranganmu keluar bersamaan dengan erangan Riki.
"Fuck... tante masukin pelan gitu... sumpah Riki gila, Tante..."
Dan kamu duduk penuh di atasnya, penis Riki tertanam habis di dalammu, siap untuk kamu kendarai dengan liar.
Tubuhmu mulai bergerak perlahan di atas Riki, tanganmu bertumpu di dadanya sementara pinggulmu mulai menggoyang dengan irama pelan tapi menggoda. Kamu dorong tubuhmu naik, lalu turunkan lagi perlahan, membiarkan batang kerasnya menyusup penuh ke dalam.
Gerakanmu bukan sekadar naik-turun. Kamu gerakkan pinggulmu maju mundur, membuat batang Riki menggosok titik manis itu dari sudut yang berbeda. Kamu tekan panggulmu ke bawah, mengulek, seperti sedang menyetir kenikmatanmu sendiri.
"Hhh... gila... Tante. Ahh jago banget naik gitu..." desah Riki. "Ngentotin sendiri sambil ngejepit batang aku.. anjing... enak banget..."
Kamu tersenyum bangga, napasmu berat tapi teratur, wajahmu penuh percaya diri.
"Tentu aja jago... Tante kan udah pengalaman..." gumammu manja, lalu kamu menggerakkan tubuhmu lagi, membenamkan batangnya lebih dalam.
"Tapi batang kamu juga... kerasnya gila. Ngeisi dalemku sempurna, Rik..."
Riki hanya menggigit bibir bawahnya sambil menahan erangan.
"Terusin, Tante... kayak gitu terus... bikin Riki makin dalem tenggelam di dalem..."
Kamu mencondongkan tubuhmu sedikit ke depan, tanganmu menekan dadanya lebih kuat, payudaramu terguncang liar saat kamu mulai menaikkan tempo—pinggulmu bergerak naik turun seperti penari erotis, membuat setiap inci dari batang Riki bergesek dengan sempurna ke dinding dalammu.
"Liat wajah mu, Rik... keliatan kayak cowok polos yang nggak pernah diginiin sama siapa-siapa, ya?" ejekmu dengan senyum menggoda.
"Nggak ada yang bisa kayak Tante... sumpah..."
Kalian berdua tertawa kecil di antara desahan dan dentuman tubuh yang masih terus bersatu. Peluh membasahi kulit, meskipun AC di kamar sudah disetel ke suhu 18°C—tetap saja udara serasa mendidih karena panas tubuh kalian yang saling bergesekan tanpa henti.
Kamu tahu ini salah. Dia keponakanmu. Tapi kamu juga tahu… dosa itu memang menggoda. Dan rasanya… manis. Memabukkan. Mengikat kalian dalam kenikmatan yang tak bisa dilepaskan.
Kamu terus memantul naik-turun di atas tubuh Riki, gerakanmu makin cepat, makin liar. Tangannya menggenggam erat pinggulmu, ikut membantu mendorong ke atas dan ke bawah, membuat hentakan kalian makin dalam, makin menghantam tiap inci dinding dalammu.
Tanganmu menekan dada bidang Riki, punggungmu melengkung, rambutmu terurai liar saat kamu menjerit setiap kali batang Riki menusuk habis.
"Tante... anjing... memek mu—gila... makin jepit... makin enak!" umpat Riki, suaranya penuh desahan marah.
Kamu hanya menjawab dengan erangan, tubuhmu masih memantul cepat, payudaramu berguncang liar di atasnya.
"Ngggghh... ahhh... Riki... lagi! Mau keluar..."
Nafas kalian memburu. Rasa itu sudah hampir sampai puncak. Otot tubuhmu menegang, pinggulmu menggila, dan kamu bisa rasakan denyutan dari dalam yang tak tertahankan.
"Ahh liat aku! Julurin lidahnya!"
Kamu langsung angkat wajah, mata bertemu dengan matanya yang membara, dan kamu julurkan lidahmu… dengan ekspresi paling liar yang kamu punya.
Riki menggeram keras, matanya nyaris membunuh.
"Liat tante... jalang banget... Tante ku paling cabul... paling binal... cocok banget nunggangin kontolku kayak gini..."
Gerakanmu menggila. Kalian berdua menggila.
Puncaknya datang seperti badai yang tak bisa dihentikan.
"AHHHH... RIKIIIIII!!"
"Shit! Gue cum!"
Tubuh kalian menegang bersamaan. Kamu merasa dinding dalammu mencengkeram keras, dan Riki menghantam lebih dalam, lebih kuat, mengunci tubuhmu di atasnya. Semburan hangat menyembur di dalammu, dalam jumlah banyak, panas, memuaskan. Getaran dari klimaks itu menyapu habis semua pikiran.
Tubuhmu melengkung, lalu ambruk di atas dadanya—lemas, gemetar, puas.
Riki masih di dalammu, napasnya berat, tangannya memeluk tubuhmu yang basah dan berkeringat. Lalu dia mengecup keningmu, lembut dan perlahan.
"Tante... hahh... gila... aku kayak nggak sadar dunia."
Kamu hanya tertawa kecil, wajahmu masih menempel di dadanya.
"Aku juga, Rik... sumpah... aku nggak pernah ngerasain segila ini."
Kamar dipenuhi suara napas kalian yang berat. Tapi semuanya terasa benar... sesat, tapi benar.
Tubuh kalian berdua beralih terbaring terlentang. Nafas masih belum stabil, dada kalian naik turun dengan ritme berat. Sepi melingkupi kamar, tapi bukan sepi yang asing—melainkan keheningan hangat yang hanya bisa datang dari keintiman sejati.
Kulitmu masih terasa berdenyut, lututmu gemetar ringan, dan kamu hanya bisa melirik Riki dari ujung mata, sedikit geli karena kalian benar-benar baru saja melakukan dosa yang tak bisa dibatalkan.
"Rik... kita... kayaknya barusan ngelewatin batas semua akal sehat," katamu sambil tertawa pelan, masih ngos-ngosan.
Riki menoleh ke arahmu, rambutnya basah keringat dan berantakan, tapi senyumnya... manis sekali.
"Riki nggak nyangka... Tante segila itu," katanya santai. "Tapi... Riki suka. Suka banget."
Kamu hanya mencibir kecil, menggeleng pelan.
"Gila... padahal kamu kelihatan cuek, dingin. Bahkan jarang ngobrol, apalagi nyentuh."
"Dulu..." bisik Riki, tubuhnya sedikit miring ke arahmu. "Sekarang beda. Aku udah ngerasain Tante... dan aku nggak mau lepas."
Tangannya terulur, menyentuh lembut pipimu, dan kalian hanya menatap satu sama lain. Diam. Napas perlahan mulai tenang. Lalu kamu mendekat sedikit, dan bibirmu menyentuh bibirnya… pelan. Ciuman yang tidak terburu-buru. Tidak liar. Tapi dalam dan penuh makna.
Ciuman aftercare.
Tangan Riki menyusup ke belakang kepalamu, menarikmu lebih dekat. Kamu balas dengan menyentuh rahangnya, memeluknya lebih erat. Tak ada lagi kata-kata. Hanya desahan kecil dan bibir yang saling mengecup penuh rasa.
Sejak malam itu… Riki tidak lagi seperti Riki yang dulu.
Tak ada lagi versi dingin dan cuek. Di apartemen kecilmu, dia jadi sosok yang lekat—tiap malam dia tidur sambil melingkari tubuhmu dari belakang, dan saat kalian berdua sedang sendiri... tangan-tangan nakalnya selalu mulai bergerak.
Kadang dia hanya mencium lehermu dari belakang.
Kadang, dia hanya menyentuh pahamu sambil bisik, "Tante... mau minta jatah, boleh?"
Kamu selalu heran... tapi kamu selalu mengangguk. Karena jauh di lubuk hati... kamu juga suka. Suka jadi tempat dia pulang. Tempat dia peluk. Tempat dia lepas kendali.
Dan kamu tahu… sejak hari itu, semuanya takkan pernah sama lagi.
Tapi kamu tak menyesal.
Karena ternyata… dosa bisa terasa terlalu nikmat untuk disesali.
「 ✦ End✦ 」




.gif)



Komentar
Posting Komentar