[Sunghoon] Suami Gagah
「 ✦ NSFW Scene ✦ 」
Uap hangat masih menempel di kulitmu ketika keluar dari kamar mandi. Handuk putih melilit tubuh, mengerat di dada hingga bagian atas payudaramu yang kini makin padat dan kenyal tersingkap sedikit, hasil dari seringnya Satya memainkannya. Tetesan air mengalir di sepanjang lekuk leher hingga membasahi tepian handuk.
Kamu mengintip dari balik pintu, tapi langkahmu terhenti begitu mata menangkap pemandangan di dalam kamar. Satya sudah duduk di tepi ranjang, percaya diri sepenuhnya, dan… handuknya sudah tergeletak di lantai. Ia telanjang bulat, tubuh kekar itu bersandar santai, tatapan matanya penuh api.
Kamu menutup pintu perlahan, suara klik terdengar jelas di antara kalian. “Sini, kontol favoritmu udah siap, dek,” ucapnya cabul sambil menyeringai, suaranya serak dan rendah. Wajahmu langsung panas, jantung berdegup tak karuan.
"Ihh.. si mas nggak sabaran banget” gumammu sambil memutar bola mata, terkekeh untuk mencoba menyembunyikan rasa malu yang membuncah.
Langkahmu mendekat pelan. Lalu, tepat di hadapannya, jemarimu menarik simpul handuk dan membiarkannya jatuh ke lantai. Udara malam menyentuh kulit telanjangmu; lekuk tubuhmu tergambar jelas—pinggang ramping, paha mulus, dan payudara yang lumayan montok, putingnya mengeras karena udara dan tatapan pria di depanmu.
Satya tersenyum lebar, matanya tak berkedip. “Cantik banget… Mas bangga punya kamu,” ucapnya dengan nada puas.
Kamu mendengus, pipi merona. “Mas ini…” gumammu, sambil mencubit lengan kekarnya—antara kesal dan salting. Satya hanya tertawa rendah, tangannya terulur dan menarik pinggangmu, membuatmu terduduk di pangkuannya. Panas tubuhnya langsung menyelimuti kulitmu, degup jantungnya berdentum di dadamu.
Begitu kamu duduk mengangkangi pangkuannya, Satya langsung melingkarkan lengan kokohnya di pinggangmu. Tarikannya mantap, membuat tubuhmu otomatis merapat padanya. Kamu pun melingkarkan kedua lengan di lehernya, wajah kalian hanya terpisah sejengkal, napas bercampur hangat di udara.
Kulit ke kulit—bugil, tanpa jarak—pelukan itu membuat degup jantung kalian berpacu. Dada bidang Satya menekan lembut putingmu yang sudah mengeras, membuatmu mengeluarkan helaan napas pendek tanpa sadar. Matanya menatapmu tajam, tapi penuh rasa memiliki.
"Dek, kamu bikin Mas nggak bisa mikir jernih…" bisiknya serak, jemarinya mengelus punggungmu pelan.
Kamu tersenyum tipis, tapi matamu tak lepas darinya. "Emang Mas pernah mikir jernih kalo deket aku?" suaramu lembut, sedikit menantang.
Satya terkekeh rendah, napasnya berat. "Mas cuma mikirin satu… milikin kamu, sepenuhnya."
Pipimu memanas, tapi tatapan itu menarikmu lebih dalam. "Yaudah… miliki aja, Mas…" jawabmu, suaramu nyaris bergetar.
Satya mendekat, ujung hidungnya bersentuhan dengan milikmu, napasnya memenuhi wajahmu. “Siap, dek… malam ini Mas nggak akan ngelepas kamu,” gumamnya sebelum bibirnya menutup bibirmu dalam ciuman panas, dalam, dan penuh hasrat yang langsung membuat tubuhmu luluh dalam pelukannya.
Bibir Satya menekan bibirmu, tanpa sisa keraguan—panas, dalam, penuh nafsu. Napas kalian bercampur, lidahnya menyelusup masuk, menuntut dan menantang lidahmu. Gerakan kalian saling membalas, bergulat, beradu licin di antara desah pendek yang lolos tanpa bisa dicegah. Jemarinya menekan pinggangmu erat, sementara jemarimu mencengkeram rambut di belakang kepalanya.
Kalian hanya berhenti ketika paru-paru terasa terbakar kekurangan udara. Bibir terpisah, napas memburu. Kamu terkekeh kecil, pipi masih memerah. “Aku bersyukur banget punya suami gagah kayak Mas Satya… gagah di ladang, gagah juga di ranjang,” godamu.
Satya tertawa rendah, nada suaranya berat. “Mas seneng dengernya. Berarti Mas berhasil bikin kamu bangga.”
Tawa kalian saling bertaut, lalu kembali lenyap dalam ciuman baru yang tak kalah panas. Satya mengubah posisi, dengan mudah memindahkan tubuhmu dan membaringkanmu terlentang di atas ranjang. Ia memposisikan dirinya di atasmu, kedua lengannya menumpu di sisi tubuhmu agar tidak menindihmu yang sedang hamil muda.
“Kali ini mainnya jangan keras-keras dulu ya, Mas… udah ada anakmu nih di perutku” bisikmu, tatapanmu serius tapi lembut.
Satya mengangguk paham, menatapmu dengan kelembutan bercampur hasrat. “Mas ngerti. Malam ini kita pelan-pelan aja.”
Ia menunduk, bibirnya mencari lehermu. Kecup pertama mendarat lembut di kulit hangatmu, lalu berlanjut dengan jilatan pelan yang membuatmu bergidik. Satya menekan ciuman lebih dalam, menghisap di satu titik hingga meninggalkan tanda kemerahan. Dia berpindah sedikit ke sisi lain, mengulanginya, dan sekali lagi di sisi bawah, menciptakan dua atau tiga bite mark yang berdenyut manis di kulit lehermu.
Kamu mendesah geli, kepalamu otomatis sedikit menengadah saat Satya kembali menyerang lehermu. Gigi dan bibirnya bergantian mencumbu kulitmu, mencetak bite mark baru yang membuat napasmu tersengal. Sensasi hangat bercampur geli itu menjalar sampai ke ujung jari kakimu.
Satya tak berhenti di leher. Bibirnya bergerak menurun, menyusuri tulang selangka, dada atas, sampai akhirnya wajahnya tepat di depan payudaramu. Tanpa peringatan, kedua tangannya yang besar dan kokoh menangkup gunung kembar itu, meremasnya dengan tangan besar beruratnya yang kasar namun penuh semangat. Kamu melengking kecil, matamu terpejam rapat saat rasa itu menyeruak.
"Ahhh mas...."
Satu tangan Satya tetap meremas payudara kirimu, jempolnya memutar-mutar puting yang mulai mengeras, sementara mulutnya tanpa ragu melahap puting kananmu. Isapan hangatnya membuatmu merem-melek, jari-jarimu refleks mencengkeram rambutnya.
Di sela-sela pergantian, Satya menatapmu dari bawah, senyum cabulnya muncul. “Mas mau tiap hari nyicipin tetek kamu, dek.”
Tanpa berpikir panjang, kamu mengangguk cepat, suaramu lirih tapi tegas, “Iya… aku ijinin, Mas.”
Seringaiannya makin lebar mendengar persetujuanmu. Ia beralih, kini bibirnya membungkus puting kirimu, menghisap dan menjilatnya dengan ritme yang membuat punggungmu melengkung manja di ranjang.
Satu tangan Satya mulai merayap turun, meninggalkan lekuk pinggangmu dan menyelinap di antara paha yang sudah basah sejak tadi. Sentuhan awalnya di bibir kewanitaanmu membuat napasmu tercekat, paha terbuka sedikit lebih lebar untuk memberi jalan.
Begitu puas menyiksa putingmu, Satya menarik diri, bergeser turun hingga wajahnya tepat di depan surga rahasiamu. Tangannya menahan kedua pahamu agar terbuka lebar, jari-jari panjangnya membelai labia tembemmu yang licin. “Basah banget… gara-gara Mas, ya?” ucapnya cabul, suaranya rendah dan serak.
Pipimu panas, suaramu manja penuh gairah. “Iya… gara-gara Mas…”
Satya menyeringai, lalu menggunakan kedua jarinya untuk membuka bibir kewanitaanmu, menampakkan kelentit yang berdenyut meminta sentuhan. Tanpa ragu, ia menunduk dan langsung melahapnya—lidahnya menjilat, bibirnya mengisap keras, menyeruput seolah haus akan rasa manismu.
“Hmm… enak banget rasanya, dek,” gumamnya di sela isapan, membuat getaran langsung menjalar ke inti tubuhmu.
Aksinya membuat punggungmu melengkung ke atas dan lututmu melemas. Lidahnya tetap fokus di kelentitmu—menjilat melingkar, menekan, lalu menyeruput dengan keras—sementara jemarinya bekerja cepat di dalam, memukul-mukul titik sensitif yang membuatmu terisak manja.
“Mas… nggak kuat…,” rintihmu di sela desah, tubuhmu bergetar menerima gelombang kenikmatan.
“Terima aja, dek… Mas mau bikin kamu meleleh malam ini,” balasnya, sebelum kembali terkubur di antara pahamu, menjilat dan mengisap lebih rakus lagi.
Slurrpppp!
Suara seruputan Satya terdengar jelas, basah dan rakus, setiap kali bibirnya mengisap kelentitmu. Ritmenya cepat, seolah tak memberi jeda bagi tubuhmu untuk bernapas. Sementara itu, dua jarinya di dalam dirimu bergerak makin brutal—menyodok dan menggosok G-spot tanpa ampun. Sensasi itu membuat matamu terbalik ke belakang, bibirmu terbuka lebar tanpa suara sejenak sebelum terisi oleh desahan panjang.
Sejak malam pertama, Satya sudah membuatmu ketagihan. Caranya menyentuh, menjilat, dan mengguncang tubuhmu selalu berhasil mengubahmu jadi lemas, suara serak, bahkan sampai tak mampu berjalan normal esok harinya. Tapi di balik semua itu, kamu benar-benar menikmatinya—setiap detik, setiap sentuhan.
Kedua tanganmu kini mencengkeram keras sprei motif bunga, buku-buku jarimu memutih. Sensasi aneh itu mulai muncul—rasa seperti ingin buang air kecil, tapi jauh lebih panas dan mendesak. Napasmu tersengal.
Satya merasakan perubahan pada tubuhmu, ia bergumam disela-sela itu, suaranya rendah namun penuh perintah, “Ayo, dek… semprot ke wajah Mas sekarang.”
“Ma—” suaramu patah, tak sanggup menyelesaikan kalimat karena gelombang itu sudah datang. Tubuhmu menegang, lalu meledak dalam teriakan serak. Cairan bening memancar deras, membasahi wajah tampan Satya yang hanya menutup matanya sebentar sebelum kembali membukanya dengan senyum puas, menikmati setiap tetes yang membanjiri wajah dan bibirnya.
“Gitu… pinter,” pujinya, menjilat sisa cairan di sudut bibirnya dengan mata yang masih menatapmu rakus.
Kamu masih terengah-engah keras, paru-parumu berusaha rakus mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Tubuhmu terasa bergetar, tapi Satya tak memberi waktu lama untuk tenang. Ia beralih bergeser keatas, wajahnya semakin mendekat wajahmu hingga napas panasnya bercampur dengan napasmu.
Bibirnya menempel ke bibirmu, dan ciuman itu langsung rakus. Lidahnya menyapu setiap sudut mulutmu, bergulat dengan lidahmu dalam tarian panas yang membuat dadamu berdegup kencang. Kamu membalasnya tak kalah rakus—mengisap bibir bawahnya, meremas tengkuknya, membiarkan desahan kalian bercampur di sela-sela ciuman yang nyaris tanpa jeda.
Saat kalian menarik diri, dagumu masih basah oleh bekas air liur bercampur napas yang berat. Satya menatapmu dengan tatapan puas, “Kamu luar biasa, dek.”
Kamu tersenyum nakal, ujung jarimu menyusuri rahangnya. “Mas juga….”
Ia terkekeh rendah, lalu bertanya, “Mau pakai gaya apa malam ini?”
Kamu langsung menjawab tanpa ragu, suaramu bersemangat, “Aku mau nunggangin Mas.”
“Uh, itu kesukaan Mas.” Satya berbaring terlentang di ranjang, tubuhnya terbuka lebar menunggumu. Dengan gerakan mantap, kamu menggeser posisi, mengangkangi pinggulnya. Tangamu meraih batang panasnya yang berdiri tegak, terasa berdenyut di telapak tanganmu.
Satya menatapmu penuh nafsu sambil kedua tangannya langsung meraih dan menangkup payudara favoritnya. “Ayo, masukin kontol Mas, dek…”
Kamu mengarahkan kepala batangnya ke pintu masukmu, lalu perlahan menurunkan pinggul. Rasa penuh itu segera menjalar saat kejantanan besarnya tenggelam seluruhnya di dalam dirimu. Kalian berdua mendesah bersamaan—kamu sambil menutup mata karena rasa nikmat yang menggetarkan, Satya karena sensasi hangatmu yang membungkus rapat dirinya.
Tamparan ringan di payudaramu membuatmu membuka mata, melihat senyumnya yang cabul. “Ayo, goyangin suamimu, dek.”
Dengan senyum yang sama panasnya, kamu mulai menggoyangkan pinggul, menikmati setiap dorongan naik-turun yang membuat kalian berdua semakin hanyut.
Kamu mendesah panjang, pandanganmu terkunci pada wajah Satya yang berada di bawahmu. Senyum nakal tersungging di bibirmu sebelum kamu berucap cabul, "Adek ketagihan sama kontol gede Mas…" Suaramu bergetar tapi penuh gairah.
Tatapan Satya semakin gelap. Tangannya meluncur ke pinggulmu, jemarinya mencengkeram erat untuk menuntun gerakanmu. "Bagus… Mas seneng kalau adek ketagihan gini," gumamnya rendah, menuntunmu memantul naik-turun di atasnya.
Kepalamu terdongak ke belakang, mata terpejam rapat, desahan keluar tanpa bisa kamu kendalikan. Gerakanmu mulai stabil, setiap hentakan membuat penisnya tepat mengenai titik paling sensitif di dalammu. Satya tak melepas pandangan darimu—menghafal lekuk tubuh istrinya yang cantik dan seksi dalam setiap tarikan napas.
Jempolnya lalu bergerak, menemukan kelentitmu dan menekannya. Gerakannya cepat, intens, membuat tubuhmu seketika berjengit dan matamu terbuka menatapnya kaget.
"Ma—mas… gini terus… adek… bisa squirt lagi," katamu terputus-putus di sela desahan.
Senyumnya menyeringai, penuh tantangan. "Emang itu yang Mas mau… Ayo, kasih Mas lagi."
Ia menepuk pinggulmu ringan lalu memerintah, "Goyang lebih cepet."
Seperti budak patuh, kamu mengubah ritme—lebih liar, lebih dalam. Kedua tanganmu bertumpu di paha Satya yang kokoh di belakangmu, pinggulmu bergerak liar tanpa henti. Satya mengumpat kasar, "Anjir… pinter banget…" sambil terus memujimu di sela erangan.
Kamu mendesah semakin keras, napasmu memburu, matamu berair. “Mas… adek udah… nggak tahan…” suaramu bergetar, lalu tubuhmu menegang dan akhirnya—
Kamu squirt deras, cairan panas memancar keluar bersamaan dengan isak kecilmu saat tubuhmu bergetar hebat. Satya mengerang dalam-dalam, merasakan bagaimana vaginamu mencengkeram batangnya erat, sembari cairanmu membasahi perut dan pahanya.
“Ahh… basah banget kamu, dek…” Satya terkekeh puas. Ia menepuk pantatmu ringan. “Turun sebentar, Mas mau ubah posisi.”
Dengan kaki masih sedikit gemetar, kamu menuruni tubuhnya dan berbaring di sampingnya dengan kamu menghadap ke tembok. Satya juga ikut menghadap ke arah yang sama, berada di belakangmu. Tubuh panasnya menempel di punggungmu, napasnya berat mengusap telingamu.
“Adek siap dimakan lagi?” bisiknya cabul.
Kamu terkekeh kecil, suaramu parau. “Mas… makan adek sepuasnya… Adek udah kecanduan…”
Satya memposisikan tubuhmu dalam posisi spooning di ranjang, satu kaki kamu diangkat sedikit agar ia leluasa. Ia menuntun batangnya ke arah pintu masukmu, lalu sekali dorong, penisnya tenggelam seluruhnya di dalam dirimu. Desahan kalian berpadu, tubuhmu kembali dipenuhi sensasi penuh dan panas.
Pinggulnya mulai bergerak, ritme stabil namun dalam. Satu tanganmu bergerak mencari pegangan pada lengan kekarnya yang melingkari pinggangmu. Setiap dorongan membuatmu meringis nikmat.
“Ahh… Mas suka banget sama memek kamu… rasanya kayak nyatu sama Mas,” Satya membisik di telingamu, suaranya berat dan dalam.
Kamu mendesah panjang, membalas dengan nada menggoda, “Adek emang cuma buat Mas… Mas boleh pake adek kapan aja… sepuasnya…”
Satya menggeram puas, lalu memperdalam dorongan, membuatmu lagi-lagi terhanyut seperti pelacur yang tak pernah kenyang oleh sentuhan suaminya.
Satya menahan diri untuk tak bergerak lebih brutal, gerakannya tetap stabil meski nafsu jelas membakar tatapannya. Ia menarik tubuhmu makin rapat, sementara bibirnya mengecup lembut lehermu, meninggalkan sensasi basah dan hangat di kulit. Sesekali, ujung hidungnya mengusap telingamu sebelum suaranya yang rendah dan serak berbisik.
"Enak, dek? Rasanya Mas pengen lama-lama gini…" desahnya, napasnya membelai kulitmu.
Kamu tersenyum di sela desahan. "Enak banget, Mas… jangan berhenti… Aku mau Mas terus di dalam…"
Satya terkekeh rendah, mencium lagi lehermu. "Mas nggak akan kemana-mana. Semua buat kamu."
Gerakannya tetap mantap, tubuh kalian bergerak seirama. Namun irama itu semakin cepat—secara naluriah, tubuh kalian saling mendorong ke arah yang berlawanan. Napas kalian memburu, jantung berpacu, dan tatkala gelombang itu datang, Satya menahanmu erat-erat.
Dengan satu hentakan dalam yang membuatmu terpekik, Satya merasakan ledakan itu—semburan hangat membanjiri kedalamanmu. "Ahh dek… Mas keluar…" erangnya, wajahnya tenggelam di lekuk lehermu.
Kamu juga tak kuasa menahan, tubuhmu menggeliat, kaki menegang, dan erangan pecah di bibirmu. "Mas… aahh…" Kau terisak, merasakan denyut penisnya yang memompa hangat ke dalam dirimu.
Beberapa detik kalian hanya terdiam, napas terengah-engah, tubuh saling menempel. Satya tak langsung menarik diri; ia membiarkan kalian tetap menyatu, sambil memelukmu dari belakang. Tangannya membelai perutmu yang masih rata, seakan mengingat bahwa di dalamnya ada nyawa yang kalian jaga.
"Istirahat, dek… Mas di sini," ucapnya pelan, mengecup pelipismu.
Kamu tersenyum lemah, membiarkan tubuhmu tenggelam di pelukannya. Hangatnya tubuh Satya, aroma kulitnya yang maskulin, dan dengusan napasnya menjadi aftercare terbaik—membuatmu merasa aman, dicintai, dan sepenuhnya milik satu sama lain.
Pagi itu, cahaya matahari yang lembut menyelinap masuk melalui celah tirai kamar. Hangatnya membelai kulitmu, tapi yang membangunkanmu bukanlah sinar itu—melainkan kecupan lembut di pipi. Mata perlahan terbuka, dan di sana Satya, dengan senyum hangatnya, menatapmu seperti kamu adalah satu-satunya hal berharga di dunia.
Kamu tersenyum kecil, lalu berbalik badan untuk menatapnya lebih dekat. Tanpa ragu, kamu membalas ciumannya, bibir kalian bertemu dalam sentuhan manis yang penuh rasa sayang. Setelah menarik diri, Satya berbisik rendah di telingamu, suaranya berat namun lembut, “Hari ini mas libur... Mas mau manjain istrinya seharian.”
Kata-katanya membuat hatimu terasa penuh. Impian sederhana yang dulu hanya kamu bayangkan kini terwujud—hidup berumah tangga dengan pria yang mencintaimu sepenuh hati, melindungi, dan menghargai setiap bagian dirimu.
Kalian berdua pun melangkah ke kamar mandi yang didesain outdoor. Udara pagi bercampur aroma sabun memenuhi indera. Satya tak bisa menahan diri untuk iseng—menyipratkan air ke arahmu sambil terkekeh, membuatmu meringis kesal tapi tak kuasa menahan tawa. Sesekali ia memelukmu dari belakang, mencium bahumu, lalu pura-pura tidak bersalah saat kamu memprotes.
Itulah keseharian yang kini kamu jalani—hangat, penuh cinta, dengan tawa dan sentuhan kecil yang selalu mengingatkanmu bahwa kamu dicintai. Satya bukan hanya suami, tapi rumah bagi jiwamu.
「 ✦ End✦ 」


Komentar
Posting Komentar