[Sunghoon] Tukang Pijat Keliling
「 ✦ NSFW Scene ✦ 」
"Tante... sekarang bisa balik badan, ya..." ucap Sunghoon pelan, hampir seperti bisikan. Sopan, tapi terdengar genting.
Tanpa menjawab, kamu bergerak pelan dan kamu berbalik badan, berbaring terlentang diatas alas.
Bagi Satya, itu neraka sekaligus surga.
Matanya terpaku pada dadamu. Payudaramu yang bulat, montok, dan penuh itu terbuka jelas, puting coklat muda yang mencuat karena udara dingin dan tensi panas dalam ruangan kecil itu. Perutmu rata dan di bawahnya, ada sedikit rambut kemaluan tipis yang tumbuh kewanitaanmu—rapi, alami, membuat semua terasa nyata.
Satya menelan ludah keras. Tubuhnya kaku. Tapi kamu tetap diam, tenang, memejamkan mata seolah menunggu dengan sabar sentuhan berikutnya.
Dengan tangan gemetar, Satya meraih kemben yang sempat tergeletak dan menutup area paling intim di tubuhmu. Walau itu hanya sebatas isyarat, tapi setidaknya dia masih ingin menjaga kendali... walaupun matanya sudah sempat mencuri pandang yang tak akan pernah dia lupakan.
Ia menuangkan minyak ke telapak tangannya. Lalu dengan sentuhan perlahan, ia membalur bahumu. Jemarinya menyapu kulitmu yang hangat dan licin. Bahumu sempit, tulang selangka sedikit menonjol, memberikan dimensi lembut pada tubuh bagian atasmu. Ia menekan pelan, memutar di sisi leher, menyusuri ke bawah dengan ritme stabil.
Tangan Satya makin turun. Menyentuh bagian atas dada, memijat dengan pola yang ia hafal.
Lalu, jari-jarinya mulai menyentuh sisi payudaramu.
Dia berhenti sejenak. Napasnya menahan. Tapi kamu tidak bergerak. Tidak menegur.
Dengan hati-hati, ia lanjut. Telapak tangannya kini menyapu bundaran lembut itu, dari sisi luar ke tengah. Ia memutar dengan ibu jari, menekan pelan bagian bawah dan tengah, memijatnya perlahan seperti daging otot biasa—padahal jantungnya berdegup tak karuan.
Putingmu menegang, dan tiba-tiba kamu mendesah. Suara yang dalam, berat, seperti mengandung pelampiasan dari dalam perut.
Satya tersentak. "Ma... maaf... terlalu keras ya, tante?"
Kamu membuka matamu sedikit, dan suara yang keluar dari mulutmu terdengar lebih gelap, lebih dalam. "Nggak..., enak... terusin aja..."
Dia menelan ludah lagi, tapi tidak berhenti. Kini dua tangannya bekerja pada kedua payudaramu sekaligus. Ia memijatnya dengan irama yang makin perlahan tapi dalam. Telapak tangan menyapu seluruh permukaan, menekan dari sisi, dari bawah, menumpu pada volume daging yang besar itu.
Putingmu digesek ibu jarinya—bolak-balik. Kamu menggeliat, napasmu makin berat, desahanmu lebih tak tertahan.
"Hhhnn... iya... gitu... terusin..."
Dia menuruti. Tak berkata, tak bertanya. Tangannya seperti menari di atas tubuhmu, meremas lembut, lalu menyapu ulang bundaran payudaramu seperti sedang menenangkanmu—padahal dirinyalah yang hampir tak tertahan.
Kamar itu kini penuh aroma minyak, suara desahan, dan suhu yang semakin meningkat. Pijatan itu berlangsung lama... dan kamu tidak ingin dia berhenti.
Kamu membuka mata perlahan. Cahaya redup dari lampu kamar menciptakan kilau samar di kulitmu yang masih berkilau oleh minyak pijat. Tatapanmu langsung tertuju pada Satya, yang masih duduk di samping tubuhmu, wajahnya memerah, dan napasnya mulai tidak beraturan.
Matamu menatap lurus ke arah matanya—dan dia langsung membalas. Pandangan kalian bertemu. Hening. Tegangan seolah menggetarkan udara. Kamu menyunggingkan senyum samar yang nyaris tak terlihat, tapi mengandung terlalu banyak arti.
Pandanganmu kemudian turun... mengarah ke tonjolan yang makin terlihat jelas di balik celana training abu-abu Satya. Kamu bisa lihat itu sudah bengkak. Terlihat mendorong kain ke depan seperti berontak minta dibebaskan. Kamu kembali menatap ke atas, menelusuri garis tubuhnya. Bahunya lebar, lengan yang berotot ramping, dan pinggang yang kecil—proporsinya terlalu menggoda untuk seorang pemuda polos.
Wajahnya... lebih tampan. Garis rahangnya tegas, bibirnya tipis dan kini sedikit terbuka karena gugup. Matanya terus menatapmu seperti tak yakin harus menunduk atau bertahan.
Kamu menyeringai kecil, lalu berkata lembut, "Satya... ini pertama kalinya kamu megang tetek cewek, ya? Gugup gitu...."
Satya menelan ludahnya, lalu mengangguk pelan. Wajahnya makin merah.
"Iya... aku... belum pernah, tante..."
Kamu tertawa pelan, suaramu rendah dan hangat. "Lucu banget. Polos. Tapi... kamu tadi mijetnya enak banget, tau nggak?"
Satya cuma tersenyum kikuk, tak tahu harus menjawab apa.
Kamu mengangkat sedikit tubuhmu, lalu mengusap minyak di dada dengan jari sendiri, sebelum menyentuh bagian tengah payudaramu. "Kalau kamu mau... nyoba mainin, mijet, atau pegang-puting aku... boleh kok. Aku izinin."
Satya membelalakkan mata, buru-buru menggeleng. "Enggak, tante ... itu... aku... udah kelewatan banget..."
Kamu tertawa pelan lagi, menggigit bibirmu sebelum menjawab, "Kelewatan kalau aku nggak izinin, iya. Tapi sekarang? Aku bilang nggak apa-apa. Jadi... kenapa harus takut?"
Satya diam. Napasnya mulai dalam. Jemarinya menggenggam lututnya sendiri, ragu.
Satya duduk diam, napasnya makin berat. Dadanya naik-turun, kaos sudah menempel di kulit karena keringat dingin. Tapi bukan udara panas yang membuatnya begitu—melainkan kamu.
Matanya menatap dada telanjangmu yang terbuka bebas di depannya. Puting coklat mudamu masih mengeras, berkilat karena minyak yang belum sepenuhnya terserap. Kamu tak bergerak, hanya menatap balik dia dengan tatapan sabar dan menggoda. Dan itulah yang membunuh sisa logika Satya.
Dia menghela napas berat, lidahnya menjilat bibir bawah. Nafasnya mulai memburu. Dalam hatinya, dia sudah tak bisa menyangkal.
'Gila sih ini... tapi aku nggak bisa bohong. Badan tante Y/n... apalagi teteknya... bikin aku nggak tahan.'
Tanpa banyak kata, Satya duduk lebih dekat. Mata kalian bertemu sekali lagi, seolah dia masih minta izin terakhir. Dan kamu hanya mengangguk pelan, senyum kecil muncul di sudut bibirmu.
Dan itu cukup.
Satya langsung merebah di sampingmu dan kamu menghadap kearahnya, tangannya langsung menyentuhmu tanpa ragu. Dua telapak tangannya menyapu dadamu penuh hasrat. Dia menggenggam lembut kedua bukit payudaramu, merasakan berat dan lenturnya, lalu meremas pelan—seolah mencoba mengenal tiap sentimeter bentuk dan isinya.
Jari-jari itu mulai memutar, ibu jarinya mengusap lembut bagian puting. Kulitmu merinding. Putingmu langsung menegang makin keras saat disentuh seperti itu. Napasmu tercekat... lalu kamu mendesah panjang.
"Hhhaaahh iya... gitu... pegang terus..."
Wajahmu memerah, tubuhmu mulai menggeliat ke arah sentuhannya.
"Tetekku emang segede itu ya...? Anget nggak?" kamu bicara di sela desahan, nada suaramu penuh nafsu dan iseng sekaligus.
Satya hanya mengangguk cepat, jemarinya makin berani. Ia mulai meremas lebih dalam, menggenggam seperti menampung seluruh daging kenyal itu, lalu memainkan putingmu lagi—kali ini bukan hanya usapan.
Dia mencubitnya.
"Aahh—!" kamu mendesah keras, punggungmu melengkung, tanganmu mencengkram sprei di bawah tubuhmu. Sensasi geli dan tajam itu menyambar langsung ke perut bawahmu.
"Ahh... jangan berhenti... cubit lagi... putar..." ocehmu nyaris seperti rintihan, matamu sudah setengah tertutup, tubuhmu menggeliat liar di bawah pemuda yang tangannya tak berhenti menyiksa dengan nikmat.
Satya mencubit lagi—kali ini dua-duanya. Dia memutar perlahan, lalu menekan kuat dengan ibu jari dan telunjuk.
"AAHH...! Ya gitu... enak bangett."
Kamu menjerit kecil, payudaramu makin terdorong ke tangannya. Kamu tak bisa bohong—sentuhan bocah itu membuatmu basah. Geli. Sakit nikmat.
Satya mengerang pelan, napasnya tersengal, dan matanya membakar tubuhmu seperti bara. Jemarinya masih menggenggam payudaramu saat tiba-tiba ia berhenti lalu dia bangun.
Kamu menatap heran. "Eh? Kenapa?"
Tapi belum sempat kamu bertanya lebih lanjut, Satya menarik kaosnya ke atas. Sekejap tubuhnya terkuak: dada bidang, otot muda yang masih berkembang tapi sudah padat. Dan sebelum kamu bisa mengucap sepatah kata, dia juga menarik celana training dan celana dalamnya sekaligus... sampai akhirnya dia telanjang bulat. Ereksi kaku, panjang dan keras, urat menonjol dengan jelas di depanmu.
Kamu terkejut, matamu membesar. "S-Satya...?"
Dia tak menjawab. Nafasnya berat. Tubuhnya seperti terbakar, matanya penuh nafsu.
Lalu tanpa peringatan, Satya meraih kemben yang tadi hanya tersampir menutupi kewanitaanmu... dan melemparkannya ke lantai. Tubuhmu kini sepenuhnya terbuka, tak ada yang menghalangi.
Sebelum kamu bisa bereaksi, tubuhnya sudah di atasmu.
Dia menindihmu—penuh dan panas. Kedua lengannya menumpu di sisi tubuhmu, dada Satya menekan payudaramu, kulit kalian saling bersentuhan tanpa penghalang. Kamu terdiam, menatap wajahnya dari jarak sedekat itu.
Satya tampak bukan lagi anak polos. Wajahnya serius, rahangnya mengeras, matanya menyusuri tiap detail wajahmu dengan dominan tenang. Nafasnya menyapu pipimu. Kamu mulai gugup.
"S-Satya... kita... nggak apa-apa kayak gini...?" suaramu kecil, nyalimu seperti ditelan keberaniannya.
Ada rasa bersalah menyelusup ke hatimu. Kamu menggoda dia... kamu yang buka jalan... dan sekarang, dia berdiri di ambang batas itu. Kamu sempat berpikir,
'apa aku keterlaluan? Apa aku bikin pemuda polos itu kehilangan kendali?'
Satya menunduk sedikit, menyentuh pipimu dengan lembut. Suaranya pelan, berat, tapi pasti.
"Aku udah nggak bisa balik, tante... bukan cuma karena tante godain aku... tapi karena... aku pengen tante. Dari tadi. Dari pertama lihat tante buka kemben itu."
Dia mencium lehermu—panas, basah, dan perlahan. "Aku tahu ini gila. Tapi... aku nggak tahan lagi. Dan tante juga nggak nolak, kan...?"
Tubuhnya bergeser sedikit, bagian paling keras dari tubuhnya menyentuh pahamu. Dan kamu hanya bisa diam, tubuhmu menegang, napasmu makin cepat.
Dia menatap matamu. "Bilang kalau tante mau... kalau nggak, aku berhenti... sekarang. Tapi kalau iya... aku terusin. Sampai tante nggak bisa lupa."
Kamu tak bisa menahan senyum yang mulai melengkung di sudut bibirmu. Astaga... kalau Bu Darmi tahu anaknya se-hot ini, bertelanjang di atas tubuhmu dengan tatapan lapar dan batang keras menggesek paha... dia pasti pingsan. Tapi kamu? Kamu malah makin basah.
"Aku mau..." bisikmu dengan suara parau. Nafasmu tercekat.
Satya tersenyum miring. Tatapan matanya makin dalam, makin tak bisa disembunyikan lagi gairahnya. Ia mendekat pelan... dan akhirnya bibirnya menyentuhmu. Hangat. Kaku sedikit di awal. Tapi setelah beberapa detik, dia mulai mencium dalam—menekan bibirmu, membuka sedikit, lalu menemukan cara menyelipkan lidahnya.
Kamu merintih pelan di mulutnya. Lidah kalian bertemu dan saling melilit. Basah. Rakus. Ciuman itu jadi perang lidah panas, penuh suara basah dan dengusan. Kamu melingkarkan tanganmu ke lehernya, menarik dia makin dalam, dadanya yang keras menekan kedua payudaramu tanpa ampun.
"Nggghh... Satya... kamu belum pernah ciuman, ya...? Tapi... enak banget."
"Aku... cuma ngikutin naluri... tante enak banget... bibir tante lembut..." jawabnya di sela ciuman, lidahnya menjilat ujung bibirmu sebelum masuk lagi.
Ciuman itu makin liar, tanganmu kini membelai punggung dan rambutnya, lalu kamu membawa satu tangan turun ke pantatnya, meremas pelan.
Kamu lepas ciuman sebentar, menatap dia sambil tersenyum nakal. "Kamu mau aku ajarin yang lebih seru lagi, Sayang? Mau nyicipin 'punyaku'?"
Satya menahan napas. Matanya membesar, tapi bukan karena takut—karena haus.
"Mau... aku... aku pengen nyoba, tante... ajarin aku..."
Kamu melebarkan kakimu, membuka jalan. Jari telunjukmu menekan lembut ke arah lipatan basahmu sendiri, lalu kamu membuka pelan bibir vaginamu, menampakkan warna merah muda lembab di dalamnya.
"Pake lidah ya... pelan-pelan... mulai dari sini..."
Satya pindah posisi dan menunduk dalam posisi diantara kakimu. Tangannya bertumpu di pinggangmu, lalu lidahnya menyentuh pertama kalinya... kamu terkejut karena langsung kena bagian paling sensitif.
"AAHH... iyaaa... gitu sayang... ya ampun, baru sekali tapi udah kena titiknya..."
Lidah Satya menjilat lagi, kali ini naik-turun. Lalu dia menggeliatkan ujung lidahnya ke atas, ke bawah, lalu menyapunya dari pangkal hingga ke kelentit.
"Ahhh... Satyahh... lidah kamu enak banget... udah kayak anak nakal yang suka jilat memek, padahal baru nyicip..."
Satya menyelipkan lidahnya makin dalam, napasnya mulai kasar di sela sela gerakan.
Kamu mencengkram rambutnya, punggungmu mulai melengkung, dan kamu mendesah makin kencang tiap kali lidahnya menyentuh tepat di pusat sarafmu.
"Iya gitu... Ahhh enak banget nih... Jangan berhenti, sayang.."
Satya makin berani. Tangannya menahan kedua pahamu, dan dia mulai menggoyang lidahnya makin cepat, makin berani menjelajah, sampai seluruh bagian basahmu jadi sasaran permainan lidahnya.
Dan kamu tahu—anak polos itu... udah nggak bisa disebut polos lagi.
“AHHHH SATYA!!”
Sampai akhirnya kamu kelepasan. Suara itu meledak dari tenggorokanmu disertai dengan kejang nikmat yang menyapu seluruh tubuhmu. Tubuhmu bergetar liar... dan dari celah basah di antara pahamu, semburan hangat meledak begitu saja. Air membanjir deras, menyemprot liar ke wajah Satya yang masih tekun menjilati.
Satya terkesiap. Wajahnya basah, matanya membelalak. Tapi dia tidak menjauh. Dia justru tetap di tempat, menatap ke atas dengan wajah tercengang.
"T-Tante... itu... tante pipis ya...?" tanyanya polos, sambil mengusap pipinya yang basah.
Kamu mendongak, napas masih terengah-engah, lalu tertawa kecil, meski wajahmu merah karena malu.
"Hahaha... bukan sayang... itu bukan pipis. Itu namanya squirt... kadang cewek bisa keluar kayak gitu kalau lagi bener-bener sange banget. Kamu... bikin tante keluar sampai kayak gitu..."
Satya diam sejenak, lalu matanya berbinar. "Berarti... aku bikin tante enak banget ya...?" suaranya bangga, dan senyumnya nggak bisa disembunyikan.
Kamu mengangguk sambil menyapu rambutnya yang basah dengan jemarimu. Tapi tiba-tiba dia bersuara lagi, kali ini lebih rendah, lebih frontal.
"Tante... aku... pengin ngerasain... dikulum..." katanya pelan. "Katanya enak, jadi penasaran."
Kamu tertawa lepas, mendongak, lalu bangkit perlahan.
"Hih... gemesin banget kamu... yaudah, sini duduk di tepi kasur. Tante ajarin kamu nikmat yang nggak bakal bisa kamu lupain seumur hidup."
Satya menurut, langsung duduk di tepi ranjang, kakinya terbuka lebar. Batangnya berdiri gagah—cukup untuk membuat mulutmu menelan ludah.
Kamu berlutut di antara kakinya, tanganmu langsung menyentuh pangkal batangnya. Hangat. Keras. Lurus dan mengkilap karena cairan bening yang sudah merembes dari ujungnya.
Jari-jarimu mulai menggenggam perlahan dan mengocok pelan. Lalu kamu julurkan lidahmu, menyapu dari pangkal ke ujung, sengaja mengelilingi kepalanya sambil menghembuskan napas panas ke batang itu.
"Tante... ya ampun... ahh..." Satya menggertakkan gigi, punggungnya sedikit menegang.
Kamu menyeringai, lalu membuka mulutmu dan menelan kepalanya. Suara terdengar saat kamu menyedot kuat bagian kepala penisnya. Mulutmu membuat tekanan dan putaran lidahmu menari di kepala yang sensitif.
Kamu terus nyedot, dengan ritme menyiksa keenakan. Lidahmu menyapu bagian celah di bawah mahkotanya, tanganmu memompa batangnya perlahan tapi mantap.
Srup... srup... plop!
Bunyi isapanmu keras, sengaja kamu buat lebay.
"Ahh... tante gila... tante jago banget... kok bisa enak banget gini..."
"Tante udah pernah ngelakuin ini..." jawabmu iseng, sebelum kembali menelan batangnya dalam-dalam, kali ini lebih dalam hingga ujungnya hampir menyentuh kerongkonganmu.
Satya mengerang, tangannya refleks menggenggam rambutmu.
"Jilat lagi tante... ahh... kulum terus... ahh jadi sange banget liat tante kayak gini..."
Dan kamu? Kamu justru makin semangat, lidahmu menari liar di bawahnya. Mulutmu penuh aroma dan rasa tubuh Satya. Dan kamu tahu... sebentar lagi, dia akan meledak di mulutmu.
Mulutmu terus bergerak, tak memberi ampun. Gerakan kepalamu naik turun cepat, bibirmu menyedot kuat, tanganmu tak berhenti memompa bagian batang yang tak muat masuk mulutmu. Air liurmu bercampur dengan pre-cum-nya, melumasi segalanya jadi licin dan panas.
"Tante... aku... aku... Nggghhh...!"
Tubuh Satya menegang seketika. Tangannya mencengkram kepalamu keras, punggungnya melengkung, napasnya terputus-putus, dan kamu tahu...
Ledakan pertama dalam hidupnya akan pecah.
"TANTE... AHHH!!"
Panas. Kental. Semburan pertamanya menyentak langsung ke bagian belakang tenggorokanmu. Kamu refleks menelan cepat, menyambut semburan berikutnya—rasanya asin, pahit sedikit, tapi kamu nikmati. Kamu menghisap lebih dalam, menghabiskan semua yang dia keluarkan sampai tidak tersisa.
Satya megap-megap. Matanya terpejam, napasnya terengah-engah seperti habis lari maraton.
Kamu lepaskan batangnya pelan dari mulutmu, menjilat sisa cairan yang menempel di kepala penisnya.
"Banyak banget ya ngeluarinnya..." gumammu sambil tersenyum nakal.
Satya hanya terdiam. Matanya masih kosong, tubuhnya gemetar. Tapi kamu memberinya waktu. Kamu berdiri perlahan, lalu naik ke pangkuannya, mengangkangi paha kokohnya dengan santai. Lalu kamu angkat dagunya, dan kembali mencium bibirnya.
Lidahmu menyelip lagi. Kali ini bukan hanya ciuman panas... tapi kamu bagikan sisa rasa dari mulutmu, membuat dia ikut merasakan jejak dari orgasme pertamanya sendiri. Dia meringis sedikit, lalu mengerang rendah.
Kalian saling tatap. Nafasmu makin cepat, tubuhmu makin panas.
Kamu menyandarkan keningmu ke keningnya, lalu berkata lirih dengan nada lembut tapi menyulut.
"Sekarang... kamu mau nggak... ngerasain yang pertama kali beneran? Aku pengen kamu ngerasain... gimana rasanya ngewe... masukin kontol kamu ke tante."
Satya terdiam, napasnya seperti tersendat. Tapi kemudian dia mengangguk, perlahan... dengan bibir setengah terbuka dan mata yang membara.
"I-iya... aku mau.."
Kamu tersenyum puas.
“Tahan ya, Sayang…” kamu berbisik sambil menggenggam batangnya dan menuntunnya tepat ke bibir kewanitaanmu yang sudah berkilau karena cairanmu sendiri.
Begitu ujungnya menyentuhmu, kamu langsung menurunkan pinggul perlahan… lalu mendesah keras ketika dia menembusmu.
“Aaaaahhh... gitu... ya ampun, gede banget yaaa...”
Satya menggertakkan gigi. Matanya membelalak ketika seluruh tubuhmu menelan batangnya pelan-pelan. Rasanya sempit, panas, basah… menggila.
Kamu duduk penuh di atasnya, bokongmu menekan pahanya. Lalu kamu mulai menggoyang pelan. Gerakan maju-mundur, bergerak mengulek, membuat gesekan batangnya mengaduk bagian terdalam tubuhmu.
“Satya... ya ampun... kamu ngisi dalem banget... ahhh... kamu suka kontolmu dimasukin di memek tante kayak gini?”
Dia tak bisa jawab. Matanya terpaku pada tubuhmu. Payudaramu yang besar bergoyang tiap kamu maju mundur, putingmu keras dan basah karena keringat. Wajahmu merah, rambutmu cepolmu kusut tapi makin membuatmu terlihat liar dan menggairahkan.
“Gila... tante... cantik banget... seksi banget... astaga...”
Kamu tertawa pelan sambil menunduk, mencium bibirnya sekilas, lalu menggoda lagi.
“Kamu suka liat tetek tante goyang begini ya?"
Kamu mulai naik-turun. Lompat pelan-pelan, tapi dalam. Bokongmu menepuk pahanya setiap kali kamu turun, bunyi basah dari selangkangan kalian mengisi kamar.
Plak Plak Plak
“Tuh... makin dalem... makin enak.... kontol kamu keras banget... aku sukaaa...”
Satya mengerang, tangannya naik dan langsung meremas kedua payudaramu. “Ahhh terus goyang hmmhh..."
Kamu menggeliat, pinggulmu bergoyang makin cepat.
“Suka, huh? Nih... remes terus ahhh...”
Kamu mulai memantul lebih keras, tubuhmu berkeringat, suara ranjang mulai berderit, dan payudaramu tak henti bergoyang liar di depan wajah Satya yang tak bisa berpaling sedetik pun.
“Ya gitu terus... tante makin basah, anjir... aduh kontol bocah kok bisa seenak ini ya... UGH!!”
Dan Satya, meskipun baru pertama kali, tubuhnya sudah ikut bergerak, dorong balik ke atas, ingin menandingi irama liar tubuhmu di atasnya.
Tubuh kalian mulai bergerak makin liar, makin dalam, makin keras. Keringat membasahi kulit kalian berdua, saling menempel, saling lengket, saling mengejar detik-detik terakhir sebelum semuanya meledak.
Setiap kali batang Satya menghantam ujung terdalammu, kamu mendesah makin keras.
“AHHH! SATYA!! DALAM BANGEEETTT...!! CEPETAN... KELUARIN AJA DI DALAM!! TANTE UDAH MAU CUM!!”
Satya menggertakkan gigi, tangan masih meremas payudaramu, matanya memandangi wajahmu yang liar, berkeringat, dan cantik dalam klimaks. “Tante ahh ahh aku.. aku mau keluar juga!”
“Ahhh iya sayang, isi memekku pake pejumu ahh..”
Gerakanmu jadi brutal. Bokongmu menghantam pangkal pahanya tanpa jeda, kamu bahkan sempat memeluknya sambil tetap menggoyang pinggulmu dalam pelukan itu.
“AAAHHHH SATYA!!”
Tepat saat itu, tubuh Satya menegang. Kamu merasakannya duluan—denyutan keras dari batangnya di dalammu. Seperti ada nadi yang berdenyut liar. Dan lalu...
Semburan panas memenuhi rahimmu.
"Arghh siall enak banget!"
Satya mengerang, tubuhnya melengkung, cairannya muncrat deras ke dalam tubuhmu. Kamu bisa merasakan tiap denyut dan semburan yang memenuhi liangmu, membuatmu menggigil dan orgasme bersamaan. Cairan panas itu terasa kental, banyak, menggenang di dalammu.
Kalian terdiam sejenak, tubuh masih menempel, napas kalian memburu, tersengal. Kamu masih duduk di pangkuannya, batangnya masih di dalammu, berdenyut lembut.
Kamu tertawa pelan, menggoda, “Hahah... gila... bocah kayak kamu keluarin berapa liter sih...? Tante penuh... sampai beleber keluar kayaknya...”
Satya menyeringai kelelahan. “Tante juga... udah jago banget!”
Kamu mendaratkan ciuman manis di bibirnya. "Nagih ya...?"
"Nagih parah..." katanya dengan tawa pelan. "Tapi bukan cuma itu..."
Dia diam sebentar, mengelus pipimu. "Kalo misal, aku deketin tante, boleh nggak...? Aku... aku pengen kenal tante lebih dalam. Aku... nggak rela kalo tante diambil sama bapak-bapak hidung belang...."
Kamu menatapnya. Lama. Matamu melembut, dan perlahan kamu tersenyum. Senyum lebar, hangat, manis.
"Sekarang... kita bisa PDKT dulu ya. Tapi... tetep boleh having sex kapan aja kalo sama tante."
Satya tertawa lepas, keras. "Wajib malah, Tante... wajib banget!"
Air hangat mengalir dari shower, membentuk kabut tipis yang menempel di dinding keramik kamar mandi. Kamu berdiri di bawah pancuran, rambutmu basah menempel di bahu, dan tanganmu sibuk membasuh sabun di kulitmu—sambil sesekali menoleh ke belakang, memandangi Satya yang berdiri tak jauh darimu, juga telanjang, memandangi tubuhmu dengan mata yang masih penuh kekaguman.
"Jangan cuma liatin dong... sini bantu sabunin," ucapmu sambil menyodorkan sabun cair ke tangannya, senyum nakal terbit di bibir.
Satya tertawa kecil, lalu mendekat. Tangannya mulai mengusap sabun di punggungmu, lalu turun ke pinggang, bokong, dan paha dengan gerakan lembut tapi penuh kenakalan.
"Tante ini... habis bikin aku keluar kayak pipa bocor, sekarang disuruh nyabunin juga?"
Kamu membalas dengan cubitan kecil di perutnya. "Biar bersih, yang jorok nggak cuma badan tapi pikirannya juga."
Mereka saling menyiram, saling gosok badan pake sabun, saling canda. Ciuman kecil menyusup di antara tawa dan pelukan hangat di bawah air. Dan saat tubuh kalian sudah segar, kamu menyerahkan handuk bersih padanya, lalu sama-sama keluar dari kamar mandi dengan rambut gak terlalu basah dan tubuh yang sudah mulai tenang.
Kamu mengenakan daster sederhana, Satya memakai kaos dan celana pendek yang kamu pinjam punya kakak laki-lakimu yang tertinggal di rumah. Di dapur, kamu menyiapkan makan malam. Nasi hangat dari magic com, ayam ungkep yang digoreng cepat di penggorengan kecil, dan sambal bawang sisa siang yang kamu hangatkan sebentar.
Satya duduk di meja makan, menatapmu sibuk dengan mata berbinar.
"Tante masak kayak gini aja udah bikin aku pengen nikahin tante Y/n."
Kamu tertawa, jadi salting. "Masa sih?"
"Iya, beneran."
Kalian makan berdua, saling suap, saling ejek. Sesekali kamu menambahkan nasi ke piringnya dengan sendok, dan dia pura-pura ngambek, lalu balas ngasih potongan ayam paling gede ke mangkukmu. Suasana hangat, sederhana, tapi dalam. Tak ada musik. Tak ada cahaya mewah. Tapi hati kalian hangat seperti air sup yang mendidih perlahan.
Setelah makan dan mencuci piring bersama, kamu menatapnya di depan pintu. Satya sudah siap pulang, tas selempangnya dikalungkan di bahu, rambutnya sudah agak kering dan aroma sabun dari tubuhnya masih tertinggal di udara.
Kamu mendekat, memegang pipinya, lalu menciumnya pelan di bibir.
Satya balas mencium, lebih dalam, lebih lembut dari sebelumnya. Bukan nafsu. Tapi janji.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Satya merasa tubuhnya ringan, hidupnya bertenaga, seperti seluruh tujuan hidupnya kembali menyala. Karena kamu... sudah membiarkannya mencintaimu.
Malam itu, Satya pulang... dengan hati yang penuh, dan bibir yang masih ada rasa dari wanita yang mengubah segalanya.
「 ✦ End✦ 」






Komentar
Posting Komentar