[Sunoo] Stranger di Minimarket

 

「 ✦ NSFW Scene ✦ 」

Kamu mengangkat satu tangan, meraih ujung kausmu dan mulai menariknya ke atas perlahan. Sunoo membantu gerakanmu, dan dalam satu tarikan panjang, atasanmu meluncur melewati kepala dan jatuh ke lantai. Bra hitam tipismu tersingkap, dan putingmu mengeras di balik kain yang mulai basah oleh udara dingin dan hasrat. 

"Satu-satu ya..." bisikmu sambil meraih bagian bawah kaus Sunoo, lalu menariknya ke atas. 

Tubuhnya terbuka di hadapanmu-dada bidang, bahu kuat, perut datar dengan garis otot yang terlihat jelas. Kamu hampir menelan ludah saat matamu turun ke bagian bawah celananya. 

Celana trainingnya menegang jelas. Ada tonjolan besar dan keras yang tak bisa disembunyikan. Saat kamu menjatuhkan celana itu perlahan, celana dalamnya menegang, menonjol dibalik kain dan kamu bisa lihat bentuk kejantanan Sunoo yang jelas dan besar, mengintimidasi namun menggoda. 

"Wow..." desahmu pelan, tak bisa menahan keterkejutan. "Kamu gede juga." 

Sunoo terkekeh, suara tawanya rendah dan sensual. "Dan kamu punya payudara gede juga... seksi banget kelihatannya menggoda kayak gitu." 

Kamu tertawa kecil, lalu berkata, sambil lepas bra diikuti celana jeansmu yang diikuti celana dalam. "Terima kasih..." 

Lalu kamu menuruni tubuhmu usai kalian berdua sudah bugil, perlahan berlutut di lantai dingin minimarket. Lututmu menekan ubin, tapi kamu tidak peduli. Tangamu terulur ke depan, meraih batangnya yang kini sudah keras penuh. Kamu menggenggamnya dengan dua tangan-panas, berat, dan berdenyut di dalam genggamanmu. 

Kamu mulai mengocoknya pelan, menaik-turunkan kedua tanganmu dalam gerakan teratur. Sunoo menarik napas tajam, lalu mendesah panjang, pinggulnya sedikit bergerak maju secara refleks. 

"Fuck... tangan kamu enak banget..." gumamnya rendah, matanya menatapmu penuh nafsu. 

Lidahmu keluar, menjilat kepala penisnya yang mulai mengeluarkan pre-cum. Kamu menyeruput cairan asin manis itu, lalu membungkus kepala penisnya dengan bibirmu dan mengisap kuat. 

Sunoo mendongak sedikit, rahangnya mengeras. "Ah... shit. Serius, kamu jago ini..." 

Kamu tak membalas. Mulutmu sibuk-melayani dengan lidahmu yang melilit batangnya, menghisap kepala penisnya dalam rongga hangat mulutmu. Tanganmu terus mengocok bagian bawah, mengatur tekanan, dan kadang kamu menatap ke atas-mata bertemu dengan matanya yang menyala ganas. 

"Deepthroat bisa?" tanyanya, menantang, nadanya kasar dan bernada ingin mendominasi. 

Kamu menatapnya sambil menjawab dengan tindakan. Tanpa ragu, kamu membuka lebar mulutmu, meluncurkan batangnya lebih dalam, perlahan, lalu menelan lebih dalam lagi hingga ujungnya menyentuh tenggorokan. 

Sunoo terkesiap, lalu tertawa kecil sambil mendesis, "Fucking hell... cewek luar tapi tenggorokan kamu kayak bintang JAV." 

Salah satu tangannya menekan kepalamu dengan lembut tapi penuh otoritas, jemarinya masuk ke rambutmu. Lalu pinggulnya bergerak, perlahan di awal, mendorong batangnya maju mundur di mulutmu. 

"Gigit aku, dan aku bakal ngentot kamu sampai pagi," bisiknya tajam, gerakannya makin liar. 

Dan kamu... hanya bisa menerima. Menelan. Menghisap. Menggenggam. Kamu tahu, ini baru permulaan dari malam yang akan menghancurkanmu. 

Kepalamu terus bergerak maju mundur dengan intens. Jemarinya tenggelam di rambutmu, menggenggam akar-akarnya dan mengatur ritme gerakanmu. Kamu tidak melawan. Justru kamu menikmatinya-setiap dorongan, setiap hentakan pinggulnya yang memaksa penisnya masuk lebih dalam ke tenggorokanmu, mengisi penuh rongga mulutmu hingga membuatmu tersedak pelan. 

Air mata menetes dari sudut matamu, matamu berkaca-kaca karena kedalaman yang dia paksa padamu. Tapi kamu tidak ingin berhenti. Justru rasa itu-campuran dari panas, tekanan, dan rasa asin dari pre-cum yang terus menetes di lidahmu-membuatmu ketagihan. 

Penis Sunoo begitu keras, berdenyut, kepala licin dan hangat, membanjiri bagian dalam mulutmu dengan rasa pekat dan asin. Kamu bisa merasakan setiap denyut darahnya saat dia mendorong lebih dalam, setiap guratan pembuluh yang menekan lidahmu. Cairan beningnya terasa tajam di inderamu, dan kamu menyeruputnya seolah itu adalah cairan terakhir di dunia. 

Dari speaker minimarket, lagu mellow yang sebelumnya nyaris tak terdengar kini perlahan memudar. Digantikan oleh dentuman beat dan suara synth gelap dari lagu berikutnya. 

"Teeth" oleh Enhypen. 

Instrumennya sensual, beat-nya seperti detak jantung yang menggila, dan suara vokal yang penuh tekanan membalut udara dalam tensi erotis yang meningkat. 

Kamu mendengar musik itu, dan entah kenapa, kamu mulai menyesuaikan gerakanmu. Irama maju mundur kepala dan tanganmu kini selaras dengan alunan lagu. Saat beat-nya menajam, kamu gesekkan sedikit gigimu di sepanjang kulit batangnya-bukan untuk melukai, tapi untuk menggoda. 

Sunoo mendesis tajam. 

"Fuuuck...!" umpatnya keras. "Gigi kamu... ssibal, itu... itu sialan enak banget..." 

Kamu mengangkat pandangan, matamu bertemu dengan miliknya yang liar. Kamu tidak berhenti. Justru kamu menekan lebih dalam, bibirmu membentuk segel ketat di batangnya, lidahmu melingkar di sekitar kepala penisnya. 

"Kamu emang pelacur kecil yang rakus, ya..." gumamnya serak, suaranya dipenuhi gairah dan kekaguman jorok. "Nggak perlu disuruh, langsung ditelan semuanya..." 

Kamu hanya mengerang rendah di tenggorokanmu, dan getarannya membuat Sunoo mendongak, tangannya mencengkeram lebih erat. 

"Fuck-aku mau... aku mau keluar-" 

Satu hentakan terakhir, dan kamu membuka tenggorokanmu, menerima semuanya. 

Sunoo mengerang kasar, tubuhnya menegang keras, dan kamu merasakan semburan hangat itu memenuhi mulutmu dalam ledakan kuat dan deras. Rasanya pahit, kental, dan asin, menampar lidahmu dalam gelombang bertubi-tubi. 

"Haaah... fuckin' slutty mouth... kamu suka banget kan disumpel sama cum..." 

Kamu menelan semuanya. Tidak ada yang tercecer. Lidahmu menjilat kepala penisnya satu kali lagi sebelum perlahan menarik mulutmu keluar, meninggalkan bunyi pop basah yang jelas di tengah lagu yang masih terus berdentum sensual di latar belakang. 

Sunoo berdiri terengah, matanya menatapmu dari atas-liar, puas, dan lapar. 

Dan kamu hanya menyeringai kecil, bibirmu merah dan basah, jejak cairannya masih terasa di lidahmu. 

Napas Sunoo masih memburu, tapi sorot matanya makin liar, mendidih. Tanpa berkata banyak, dia menyentuh dagumu, mengangkat wajahmu sedikit, lalu dengan nada berat berkata, "Berdiri." 

Kamu langsung menuruti. Lututmu sempat goyah saat bangkit, tapi kamu berhasil menegakkan tubuh. Kamu menunggu Sunoo membuka bungkus kondom dan memakainya di batang ereksinya. 

Dalam sekejap, Sunoo menyelipkan satu tangan ke bawah pantatmu, dan tangan lainnya menahan punggungmu. Tanpa aba-aba, dia mengangkatmu dengan kekuatan penuh. Tubuhmu terangkat ke udara, ringan seperti tak berbobot di pelukannya. 

Refleks, kamu mengalungkan tangan ke lehernya, dan kakimu membelit erat di pinggangnya. Kulitmu bergesekan dengan perutnya yang masih panas dan tegang, dan kamu bisa merasakan batang kerasnya menekan antara pahamu. 

"Tubuh kamu enteng banget," gumam Sunoo dengan nada puas, wajahnya dekat sekali denganmu. "Jadi kamu harus siap... aku bakal ngesetubuhin kamu brutal." 

Kata-katanya membuat jantungmu mencelus, dan gairahmu langsung melonjak liar. 

Masih dalam posisi digendong, satu tangan Sunoo turun dari ara belakang bokongmu. Kamu merasakan jari-jari besarnya menuntun batang penisnya yang besar dan tegang tepat ke arah pusat vaginamu yang sudah licin dan panas karena sebelumnya. 

Ujungnya menyentuh labiamu-kamu mengerang pelan. Dan begitu Sunoo mendorong pinggulnya, mendorong penisnya masuk, kamu menjerit pendek. 

"A-aaah!" 

Kamu merasa seluruh tubuhmu meregang, dinding vaginamu seperti dipecah perlahan oleh batang panas Sunoo. Dia masuk lambat di awal, tapi tubuhmu menyambutnya dengan rakus. Rasa terisi itu, penuh dan memaksa, langsung menyambar ujung syarafmu. 

"Fuuuck..." Sunoo mengumpat kasar, napasnya tercekat. "Sempit banget, sialan, vagina kamu nelen penisku kayak pengen ngunci." 

Kamu hanya bisa mendesah keras, wajahmu menunduk, keringat mengalir di pelipis. Kaki kamu makin erat melilit pinggangnya, dan tanganmu memeluk erat lehernya agar tidak jatuh. 

Lalu Sunoo mengubah posisinya sedikit-kedua tangannya kini menyangga di bawah lututmu, membuat kakimu tergantung terbuka di sisi pinggangnya. Posisi itu membuat panggulmu lebih terbuka, dan penetrasi Sunoo jadi makin dalam. 

Dia mulai bergerak. 

Dorongan pertama menghantam G-spotmu langsung. 

"Aaah-Sunoo!" 

Kamu menjerit tertahan, pinggulmu bergetar setiap kali batangnya menusuk ke dalam dengan sudut yang nyaris sempurna. 

"Ya ampun, kamu teriak kayak gitu... kamu suka disetubuhin sambil digendong kayak pelacur kecil, ya?" 

Hentakan pinggulnya makin kasar. Sunoo mendorong masuk dengan kekuatan penuh, setiap gerakan menciptakan suara basah, licin, dan lengket. Kamu hampir tak bisa berpikir, tubuhmu ikut bergerak karena dorongan itu-payudaramu bergerak liar, memantul di udara, menggoda pandangan Sunoo. 

Dia menunduk, tanpa ampun menyambar salah satu putingmu dengan mulutnya. Hisapannya kasar, basah, penuh suara sedotan dan jilatan. 

Putingmu seketika mengeras dalam mulutnya. 

"Aah-sial!" 

"Nih... ini yang kamu mau kan? Nonton bokep di kasir, terus ngelanjutin di rak susu... cewek rakus kayak kamu emang harus dihajar kayak gini." 

Tubuhmu gemetar. Setiap dorongan terasa seperti gelombang yang mengangkatmu tinggi dan menjatuhkanmu lagi. Kamu sudah tidak tahu kamu sedang menjerit atau memohon. 

Tapi kamu tahu satu hal: 

Kamu tidak ingin dia berhenti. 

Gerakan Sunoo semakin menggila. Hentakannya makin dalam, makin brutal, seperti pria yang benar-benar haus akan tubuhmu-dan kamu tak bisa melakukan apa-apa selain menerima. Peganganmu di lehernya berubah menjadi cengkeraman penuh, air mata menetes dari sudut matamu karena sensasi luar biasa yang membakar dari dalam. 

"A-Ahh-! Sunoo...! Sunoo...! Aku... aku—" 

Tubuhmu menegang keras. Tubuh bagian bawahmu bergetar hebat, dan dalam sekejap kamu meledak-vaginamu berdenyut liar, lalu menyemburkan cairan bening dalam ledakan yang deras, membasahi paha Sunoo dan lantai minimarket. Kamu menangis pelan di antara desahan, tubuhmu lemas, kepala terkulai di pundaknya. 

Tapi Sunoo belum selesai. 

Dia terus mendorong, tetap menghentak tubuhmu meski kamu sudah terguncang parah, membelahmu berulang-ulang. Napasnya berat, kasar, tubuhnya menegang makin kencang. 

"Anjing... aku... aku mau keluar—" geramnya, lalu dengan hentakan terakhir yang dalam, dia mendorong seluruh batangnya sampai pangkal, menancap sempurna di dalam dirimu. 

"Sial...! Kamu... argh..." 

Dia meledak di dalammu, meskipun kejantanannya masih terbungkus kondom. 

"Ini... buat kamu. Biar kamu nggak bisa ngelupain aku." 

Sunoo menggertakkan gigi, tubuhnya melengkung ke depan menahan sensasi orgasme yang terlalu kuat. Kamu hanya bisa menangis dan mengerang pelan, tubuhmu nyaris mati rasa, tapi kamu bisa merasakan setiap denyutan yang diberikan Sunoo di dalammu. 

Saat dia perlahan menarik dirinya keluar, sensasi cairannya yang hangat mengalir menuruni pahamu membuatmu bergidik kecil. Kakimu langsung goyah. Iut cairan orgasme mu sendiri yang melapisi penis Sunoo. 

Kamu refleks memegang rak susu, tubuhmu hampir ambruk jika saja Sunoo tidak sigap menangkapmu. Dia memelukmu dari belakang setelah kondom terlepas, mendekapmu erat, membiarkan kalian berdua diam dalam pelukan penuh keringat dan sisa gairah. 

Napasnya masih tersengal, tapi bibirnya menyentuh sisi wajahmu. "Ini pertama kalinya aku ngeseks sama cewek yang bikin aku puas segila ini," bisiknya rendah, dengan senyum yang tulus. "Dan itu... kamu." 

Kamu terkekeh lemas, memiringkan wajah, pipimu menyentuh dadanya yang masih panas. "Padahal aku kalah cantik dari cewek-cewek kamu..." 

"Tapi nggak ada satu pun dari mereka yang bisa ngerasa sesempurna kamu," jawabnya, cepat dan tanpa ragu. "Dan nggak ada yang bisa squirt kayak kamu tadi." 

Kalian akhirnya pelan-pelan merapikan diri, bergantian membersihkan tubuh dengan tisu basah yang tersimpan di balik meja kasir yang sempat kamu ambil. Kamu mengenakan pakaianmu lagi dengan tubuh masih bergetar, dan Sunoo membantu mengelap keringatmu dengan tisu di wajah, sesekali mengelus punggungmu dengan lembut. 

Hujan di luar ternyata sudah mereda, entah sejak kapan. Cahaya lampu jalan kembali menyorot genangan air. 

Sunoo mengenakan kembali kaos dan juga celana training-nya dan sebelum pergi, dia menoleh padamu yang masih duduk di kursi kasir sambil menarik napas dalam. 

"Oh ya, aku lupa. Minta nomor kamu, dong. Aku serius. Aku pengen deketin kamu." 

Kamu mengangkat alis. "Kamu serius? Aku ini hanya kasir minimarket, Sunoo." 

Dia hanya tersenyum. "Aku serius. Dan itu nggak masalah. Aku tetep bakal dateng lagi. Berkali-kali. Dan kalau kamu mau, kapan-kapan main ke apartemenku, ya?" 

Malam itu berakhir. Tapi kalian baru saja mulai.

「 ✦ End✦ 」

Komentar